Laporan Laboratorium Biologi
Perikanan
INDEKS KEMATANGAN GONAD IKAN NILA
(Oreochromis
niloticus)
Oleh:
Reni Zulika Sinaga
150302032
I/B

LABORATORIUM BIOLOGI PERIKANAN
PROGRAM STUDI
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULKTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2017
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis
ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan
laporan Laboratorium Biologi Perikanan
yang berjudul “Indeks
Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis niloticus)”.
Pada
kesempatan ini, penulis
mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Ani Suryanti, S.Pi., M.Si, Desrita, S.Pi., M.Si dan bapak Indra Lesmana, S.Pi., M.Si selaku dosen penanggung jawab mata kuliah Biologi Perikanan serta para asisten Laboratorium Biologi Perikanan yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Ani Suryanti, S.Pi., M.Si, Desrita, S.Pi., M.Si dan bapak Indra Lesmana, S.Pi., M.Si selaku dosen penanggung jawab mata kuliah Biologi Perikanan serta para asisten Laboratorium Biologi Perikanan yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Demikian
yang dapat penulis
sampaikan. Laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik
dan saran demi perbaikan laporan selanjutnya. Semoga laporan ini bermanfaat
bagi kita semua. Akhir kata penulis
mengucapkan terima kasih.
Medan, Maret 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR ............................................................................. i
DAFTAR
ISI ............................................................................................. ii
DAFTAR
GAMBAR
............................................................................... iii
PENDAHULUAN
Latar
Belakang ................................................................................ 1
Tujuan
Praktikum ............................................................................ 3
Manfaat
Praktikum .......................................................................... 3
TINJAUAN
PUSTAKA
Ikan Nila (Oreochromis niloticus).................................................... 4
Indeks Kematangan Gonad............................................................. 5
METODOLOGI
Waktu
dan Tempat Praktikum ........................................................ 9
Alat
dan Bahan Praktikum .............................................................. 9
Prosedur
Praktikum ......................................................................... 9
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
................................................................................................ 10
Pembahasan
..................................................................................... 12
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
...................................................................................... 14
Saran
................................................................................................ 14
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia
memiliki kekayaan jenis ikan yang sangat tinggi. Diperkirakan 8500 jenis ikan
hidup diperairan Indonesia dan merupakan 45% dari jumlah jenis global di dunia.
Dari jumlah tersebut 1300 jenis menempati perairan tawar. Dilihat dari jumlah
jenis ikan air tawar, Indonesia menempati rangking kedua setelah Brazil dan
pertama di Asia. Kenyataan yang ada saat ini menunjukkan bahwa pengetahuan
mengenai kekayaan sumberdaya ikan masih relatif sangat kecil (Budiman, dkk., 2002).
Salah satu potensi laut
Indonesia adalah potensi sumberdaya ikan, yang meliputi: sumberdaya ikan
pelagis besar, sumberdaya ikan pelagis kecil, sumberdaya udang penaeid dan
krustasea lainnya, sumberdaya ikan demersal, sumberdaya moluska dan teripang,
sumberdaya cumi-cumi, sumberdaya benih alam komersial, sumberdaya karang,
sumberdaya ikan konsumsi perairan karang, sumberdaya ikan hias, sumberdaya
penyu laut, sumberdaya mammalia laut, dan sumberdaya rumput laut (Melmambessy,
2010).
Ikan merupakan salah satu jenis
hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis, memiliki ciri khas pada tulang
belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium untuk
kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan
sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus
atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin.. Jumlah jenis ikan yang lebih
besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan bumi ini
terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar
(Wahyuningsih dan Barus, 2006).
Ikan adalah hewan berdarah dingin,
ciri khasnya adalah mempunyai tulang belakang, insang dan sirip, dan terutama
ikan sangat bergantung atas air sebagai medium dimana tempat mereka tinggal.
Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip
untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau
gerakan air yang disebabkan oleh arah angin. Mulai dari ikan yang berukuran kecil
yang disebut Percid dari Amerika (Etheostoma microperca) yang
dewasa secara seksual pada ukuran 27 mm. Di samping itu ada juga jenis goby
dari Pacifik (Eviota) yang bertelur pada ukuran kurang dari 15 mm. Ada
pula yang berukuran raksasa seperti Hiu (Rhincodon) yang dapat mencapai
panjang 21 meter dengan berat 25 ton atau lebih. Kebanyakan ikan berbentuk
terpedo, walaupun beberapa diantaranya berbentuk flat dan bentuk lainnya.
(Burhanuddin, 2008).
Ikan merupakan sumberdaya laut yang
dapat diperbaharui (renewable resources), yang artinya jika dimanfaatkan
seoptimal mungkin maka potensi yang tertinggal dapat berkembang biak kembali.
Tinggi rendahnya kemampuan berkembang biak bergantung pada banyak hal, antara
lain individu ikan, lingkungan tempat hidup, dan kecepatan eksploitasi. Ikan
dalam kehidupannya dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti
dinamika perairan laut. Jenis ikan tertentu dapat berenang melintasi perairan
samudera, baik secara cepat maupun lambat (Hawa, dkk., 2009).
Perkembangan industri perikanan di Indonesia
mengalami peningkatan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data
tahun 2004, hasil perikanan secara nasional sebesar
4.320.241 ton dengan indeks kenaikan rata-rata per tahun sebesar 3,48%. Dari
total ini, sebesar 1.117.965 ton atau 25,87% digunakan untuk keperluan industri
pengolahan ikan secara tradisional
(Desniar, dkk., 2009).
Ikan yang baru ditangkap bila tidak langsung
ditangani dengan baik akan mudah busuk. Hal ini tentu menurunkan harga ikan
tersebut. Proses pengolahan dan pengawetan ikan merupakan salah satu bagian
penting dari mata rantai industri perikanan. Tanpa adanya kedua proses
tersebut, peningkatan produksi ikan yang dicapai sia-sia, karena tidak semua
produk perikanan dapat dimanfaatkan oleh konsumen dalam keadaan baik.
Pengolahan dan pengawetan bertujuan mempertahankan mutu dan juga dapat
menstabilkan harga jual ikan pada saat musim ikan (Hawa, dkk., 2009).
Ikan memiliki keanekaragaman bentuk,
ukuran, habitat serta distribusi jenis berdasarkan perbedaan ruang dan waktu
sehingga membutuhkan pengetahuan tentang pengelompokan atau pengklasifikasian
ikan. Pada umumnya bentuk tubuh ikan berkaitan erat dengan habitat dan cara
hidupnya. Secara umum bentuk tubuh ikan adalah simetris bilateral, yang berarti
jika ikan tersebut dibelah pada bagian tengah-tengah tubuhnya (potongan sagittal)
akan terbagi menjadi dua bagian yang sama antara sisi kanan dan sisi kiri.
Selain itu, terdapat beberapa jenis ikan berbentuk non-simetris bilateral,
yaitu jika tubuh ikan tersebut dibelah secara melintang (crosssection)
maka terdapat perbedaan antara sisi kanan dan sisi kiri tubuh (Wahyuningsih dan
Barus, 2006).
Nila merupakan salah satu komoditas
perikanan budidaya air tawar di Indonesia yang memiliki prospek cerah. Sejak diperkenalkan
tahun 1970, ikan nila terus berkembang dan semakin disukai masyarakat, bahkan
dapat mengalahkan jenis ikan lain yang sudah terlebih dahulu hadir di
Indonesia. Hal ini disebabkan karena nila tergolong ikan yang harga jualnya
terjangkau oleh masyarakat (Rosmaidar, dkk., 2014).
Ikan
nila merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk dalam program
revitalisasi perikanan budidaya yang dicanangkan oleh pemerintah. Oleh karena
itu, perlu dilakukan suatu upaya dalam meningkatkan kualitas induk dan benih
ikan nila yang beredar di masyarakat. Teknologi produksi ikan nila jantan YY (supermale)
telah dirilis pada tahun 2006 dengan nama nila GESIT (Genetically Supermale
Indonesian Tilapia). Ikan nila GESIT ini memiliki keunggulan karena apabila
disilangkan dengan betina normal (XX) akan menghasilkan keturunan yang semuanya
jantan (XY) (Yuniarti, dkk., 2009).
Tujuan Praktikum
Tujuan
dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui
klasifikasi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus).
2. Mengetahui
Tingkat Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis niloticus).
3. Mengetahui Rumus Indeks Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis
niloticus).
Manfaat
Praktikum
Manfaat
dari praktikum ini adalah sebagai syarat penilaian di Laboratorium Biologi
Perikanan, sebagai syarat masuk di Laboratorium Biologi Perikanan dan sebagai
informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ikan
nila merupakan ikan introduksi dari Afrika pada tahun 1969 dan kini telah
menyebar luas di wilayah Indonesia. Ikan nila mempunyai nama latin Oreochromis
niloticus, kelas Osteichtyes dan family Cichlidae. Ikan nila mempunyai
ciri-ciri adanya garis warna tegak pada sirip ekor, hampir seluruhnya tubuh
berwarna hitam, mulut mengarah ke atas dan mempunyai rumus sirip D. XVI-XVII,
11-15 dan A. III, 8-11 (Pamungkas, 2013).
Ikan
nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi yang telah lama dikenal oleh masyarakat dan telah dibudidayakan
secara massal. Ikan nila sangat cepat mencapai kedewasaannya sehingga asupan
energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan dalam bentuk daging dan
pertambahan biomasa digunakan sebagai perkembangbiakannya. Budidaya monoseks
menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan ini karena memungkinkan ikan tumbuh
seragam, dapat mencapai ukuran besar, tidak bereproduksi liar di kolam budidaya
dan mengurangi tingkah laku keinginan seksual. Budidaya monoseks telah terbukti
efisien dalam memproduksi ikan nila dan dapat memperbaiki pertumbuhan biomassa
ikan nila. Selisih biomassa ikan nila antara monoseks dengan yang tidak saat
panen dapat mencapai 30-50% (Rosmaidar, dkk., 2016).
Ikan nila merupakan salah
satu ikan yang dibudidayakan masyarakat petani jaring apung . Hal ini karena
ikan nila merupakan komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dan strategis
dibandIngkan dengan komoditas perikanan lainnya, karena: prefensi masyarakat
untuk mengkonsumsi ikan nila cukup tinggi, merupakan sumber protein hewani yang
potensial bagi pemenuhan gizi masyarakat,
kebutuhan prasyarat hidup ikan nila yang kurang mgmerlukan kelayakan
yang tinggi dan toleran terhadap perubahan kualitas lingkungan (Solang, 2010).
Ikan nila gift merupakan sumber protein yang sangat
potensial, karena mudah di budidayakan dan memiliki keunggulan sifat biologis
yaitu cepat tumbuh, taban penyakit, toleran terhadap lingkungan dan kekurangan
oksigen. Dengan berbagai keunggulan itulah maka petani ataupun pengusaha dapat
memilili jenis nila gift sebagai alternatif. Selain itu kandungan gizi ikan
nila terdiri dari 17,5 % protein, 4,1 % lemak dan 78,4 % air, sehingga perlu
ditingkatkan produksinya untuk penyediaan protein hewani yang murah dan mudah
diperoleh. Populasi tunggal kelamin dapat diperoleh melalui : Pemeriksaan
kelamin atau pemisahan kelamin secara manual, Hibridisasi, pengalihan kelamin
dengan perlakuanh onnon I sex-reversal dan manipulasi kromosom (Hasibuan dan
Jenny, 2001).
Salah satu upaya penelitian untuk
memperoleh ikan nila yang produktif adalah mengubah larva ikan nila menjadi
jantan atau monosex. Hal ini dikarenakan pada proses budidaya ikan nila
pertumbuhan nila jantan lebih cepat daripada pertumbuhan nila betina.
Jantanisasi merupakan teknik menstimulus benih ikan ke arah jantan, dan untuk
ini diperlukan hormon jantanisasi ikan/ hormon testosteron alami. Budidaya monosex
(tunggal kelamin) jantan mendatangkan banyak keuntungan diantaranya adalah
mempersingkat usia panen, ukuran ikan lebih besar dan daging lebih empuk
daripada nila betina (Hertanto, dkk., 2013).
Indeks Kematangan Gonad
TKG merupakan satu tingkatan kematangan seksual pada ikan.
Sebagian besar hasil metabolisme digunakan selama fase perkembangan gonad.
Dalam tahapan kematangan gonad, perkembangan sel telur menjadi semakin besar,
berisi kuning telur dan akan diovulasikan pada ikan yang telah dewasa, jika
gonad hampir masak memiliki beberapa tanda, di antaranya gonad mengisi setengah
rongga tubuh, gonad betina berwarna kuning, bentuk telur tampak melalui dinding
ovari (Sofijanto, 2016).
Kematangan gonad dapat diketahui dengan menghitung
indeks kematangan gonad (IKG), yaitu perbandingan antara berat gonad dengan
berat tubuh ikan. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian
vitellogenesis, yaitu pengendapan kuning telur, sehingga terjadi perubahan-perubahan
pada gonad dan beratnya menjadi bertambah. Gonad ikan jantan mengalami
viteloogenesis terjadi peningkatan berat 5-10%, sedangkan pada betina 10-25%
(Solang, 2010).
Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan
bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Dengan ciri-ciri morfologi gonad sudah hampir
matang, gonad mengisi setengah rongga tubuh, dan testis berwarna putih Pada
ikan di daerah tropik faktor suhu secara relatif perubahannya tidak besar dan
umumnya gonad dapat masak lebih cepat, dan pengamatan gonad dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu secara histologi dan morfologi. Pengamatan tingkat
kematangan gonad yang dilakukan dengan cara histologi dari ikan tersebut
(Pamungkas, 2013).
Kematangan Gonad (TKG), yaitu dengan cara:
1. Histologi, yaitu dengan cara melakukan penelitian di dalam laboratorium yang
akan menghasilkan data anatomi perkembangan gonad secara lebih jelas dan
mendetail. 2. Pengamatan morfologi, yaitu pengamatan dengan melihat bentuk,
ukuran panjang berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat.
Pengamatan tingkat kematangan gonad (TKG) dilakukan dengan mengukur Kecepatan
matang gonad menggunakan satuan hari mulai dari induk ikan dipelihara hingga
matang gonad (ikan berada pada TKG IV) (Sofijanto,
2016).
Ikan hermaprodit mempunyai baik jaringan ovarium
maupun jaringan testis yang sering dijumpai dalam beberapa famili ikan. Kedua
jaringan tersebut terdapat dalam satu organ dan letaknya seperti letak gonad
yang terdapat pada individu normal. Pada umumnya, ikan hermaprodit hanya satu
sex saja yang berfungsi pada suatu saat, meskipun ada beberapa spesies yang
bersifat hemaprodit sinkroni. Berdasarkan perkembangan ovarium dan atau testis
yang terdapat dalam satu individu dapat menentukan jenis hermaproditismenya. Hermaprodit
sinkroni/simultaneous yaitu apabila dalam gonad individu terdapat sel
kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap
untuk dikeluarkan. Ikan hermaprodit jenis ini ada yang dapat mengadakan
pembuahan sendiri dengan mengeluarkan telur terlebih dahulu kemudian dibuahi
oleh sperma dari individu yang sama, ada juga yang tidak dapat mengadakan
pembuahan sendiri. Hermaprodit protandri yaitu ikan yang di dalam
tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan
ke fase betina. Hermaprodit protogini merupakan keadaan yang sebaliknya
dengan hermaprodit protandri. Proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase
betina ke fase jantan (Burhanuddin, 2008).
TKG III pada gonad nila jantan mempunyai ciri-ciri
morfologi permulaan gonad yang akan matang. Gonad mengisi rongga tubuh, warna
gonad pada ikan jantan kelabu atau putih dan berbentuk pipih. Pada gambar gonad
nila betina TKG II, dengan ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan matang.
Gonad mengisi seperempat rongga tubuh, berwarna kemerahan atau kuning dan
berbentuk bulat, telur tidak tampak. Gonad nila betina mencapai TKG III dengan
ciri-ciri morfologi ovarium besar, berwarna gelap, dan ada oosit yang mulai
mengandung kuning telur. gonad nila jantan mencapai TKG III, dengan ciri-ciri
morfologi gonad sudah hampir matang, gonad mengisi setengah rongga tubuh, dan
testis berwarna putih. Berdasarkan perkembangan ovarium dan atau testis yang
terdapat dalam satu individu dapat menentukan jenis hermaproditismenya. Hermaprodit
sinkroni/simultaneous yaitu apabila dalam gonad individu terdapat sel
kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap
untuk dikeluarkan (Marcellia dkk., 2013).
Ciri-ciri
morfologi gonad nila betina TKG IV yang terlihat adalah gonad mengisi tiga
perempat rongga tubuh. Gonad betina berwarna kuning, hampir bening atau bening,
telur mulai terlihat. Gonad nila jantan yang memasuki TKG IV memiliki ciri-ciri
morfologi gonad mengisi tiga perempat rongga tubuh,testis berwarna putih
kemerah-merahan, mengandung cairan putih jika ditekan perutnya keluar tetesan
sperma. Gonad nila betina memasuki TKG V, yaitu perkembangan gonad yang sudah
mencapai kematangan, sehingga sudah siap untuk melakukan pemijahan. Ciri-ciri
morfologi gonad betina memasuki TKG V adalah ovarium berwarna kuning terang,
ukurannya menjadi berkurang karena telah dilepaskannya oosit yang matang.
Ovarium berisi oogonia, oosit muda dan beberapa oosit berwarna kuning telur
serta banyak dijumpai folikel yang. Perkembangan gonad nila jantan yang
memasuki TKG V dengan ciriciri morfologi testis bagian belakang kempis, bagian
dekat pelepasan masih tiris, gonad jantan berwarna putih, kadangkadang dengan
bintik cokelat. Pada TKG V gonad sudah siap dikeluarkan untuk terjadinya
pemijahan ikan tersebut (Marcellia dkk., 2013).
METODOLOGI
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 13
Maret 2017 pada pukul 15.00 di Laboratorium Terpadu Manajemen Sumberdaya
Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Alat
dan Bahan Praktikum
Alat yang digunakan
dalam praktikum ini adalah kertas milimeter blok yang berfungsi untuk mengukur
tubuh ikan, timbangan yang berfungsi untuk menimbang berat tubuh ikan, nampan
yang berfungsi untuk wadah meletakkan ikan, buku gambar yang berfungsi untuk
menulis dan menggambarkan hasil praktikum, alat tulis yang berfungsi untuk
menulis, tissue gulung yang berfungsi untuk membersihkan alat–alat
laboratorium, serbet yang berfungsi untuk membersihkan alat-alat laboratorium
setelah melaksanakan praktikum, pisau cutter yang berfungsi untuk memotong atau
membelah tubuh ikan, penjepit yang berfungsi untuk melihat bentuk alat kelamin
ikan dan kamera digital yang berfungsi sebagai dokumentasi pada saat praktikum.
Bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) dan tissue untuk membersih
alat yang kotor.
Prosedur
Praktikum
Prosedur
pengamatan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Alat dan bahan disiapkan.
2.
Milimeter block disiapkan.
3.
Pisau cutter disiapkan.
4.
Ikan
nila (Oreochromis niloticus) diambil dari nampan untuk di
identifikasi seperti TL, FL dan SL diatas milimeter block.
5.
Ikan nila (Oreochromis niloticus)
ditimbang beratnya dengan timbangan.
6.
Ikan nila (Oreochromis niloticus)
dibelah bagian tubuhnya untuk melihat tingkat kematangan gonadnya.
7.
Gambar ikan diambil dengan kamera
digital sebagai lampiran.
8.
Hasil pengamatan dicatat dan digambarkan
di buku gambar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari praktikum ini adalah
sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pengukuran Morfometri,
IKG dan TKG Ikan
|
Jenis
Ikan
|
Ke
|
TL
(cm)
|
FL
(cm)
|
SL
(cm)
|
BG
(gr)
|
BT
(gr)
|
IKG
(%)
|
TKG
|
|
Ikan
Nila
Jantan
|
I
|
28
|
-
|
22
|
-
|
500
|
-
|
I
|
|
II
|
20
|
-
|
15
|
-
|
200
|
-
|
I
|
|
|
III
|
17
|
-
|
14
|
-
|
110
|
-
|
I
|
|
|
IV
|
16
|
-
|
13
|
-
|
100
|
-
|
I
|
|
|
V
|
16
|
-
|
10
|
-
|
100
|
-
|
I
|
|
|
Ikan
Nila
Betina
|
I
|
23,2
|
-
|
20
|
1
|
320
|
0,31
|
IV
|
|
II
|
26
|
-
|
22,2
|
2
|
350
|
0,57
|
III
|
|
|
III
|
27,5
|
-
|
23
|
10,2
|
500
|
0,04
|
IV
|
|
|
IV
|
17
|
-
|
14
|
2,6
|
100
|
2,6
|
IV
|
|
|
V
|
18
|
-
|
14
|
4,4
|
100
|
4,4
|
IV
|
Menurut Linnaeus (1785), klasifikasi ikan nila (Oreochromis
niloticus) adalah sebagai
berikut :
Kingdom :
Animalia
Filum :
Chordata
Kelas :
Osteichtyes
Ordo :
Perciformes
Famili :
Cichlidae
Genus :
Oreochromis
Spesies : Oreochromis
niloticus
Perhitungan IKG Ikan Nila Betina
IKG = BG/BT x 100
(TKG I) 1/320
x 100% = 0,31%
(TKG II) 2/350
x 100% = 0,57%
(TKG III)
10,2/500 x 100% = 2,04%
(TKG 1V)
2,6/100 x 100% = 2,6%
(TKG V)
4,4/100 x 100% = 4,4%
Pembahasan:
Pada praktikum yang dilakukan ikan nila betina (Oreochromis niloticus)
memiliki gonad, dimana bentuk gonad berbentuk memanjang (oval) dan berwarna
kuning dan memiliki adanyan butiran telur kecil – kecil. Hal ini sesuai
dengan Burhanuddin (2008) yang
menyatakan bahwa pada kelompok Teleost
terdapat sepasang ovarium yang memanjang dan kompak. Ovarium terdiri dari
oogonia dan jaringan penunjang atau stroma. Mereka tergantung pada bagian atas
rongga tubuh dengan perantaraan mesovaria,
di bawah atau di samping gelembung renang (jika ada). Ukuran dan
perkembangannya pada rongga tubuh bervariasi dengan tingkat kematangannya. Pada
keadaan matang, ovarium bisa mencapai 70 % dari berat tubuhnya. Sebagian besar
pada waktu masih muda warna keputih-putihan dan menjadi kekuning-kuningan pada
saat matang.
Dari
hasil praktikum yang dilakukan ikan nila jantan (Oreochromis niloticus), masih memiliki tingkat kematangan gonad I, karena warna gonad ikan
nila jantan tersebut masih putih atau kelabu. Hal ini sesuai dengan pendapat
Marcellia dkk., (2013), yang menyakan bahwa pada gonad nila jantan mempunyai
ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan matang. Gonad mengisi rongga tubuh,
warna gonad pada ikan jantan kelabu atau putih dan berbentuk pipih. Pada gambar
gonad nila betina TKG II, dengan ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan
matang. Gonad mengisi seperempat rongga tubuh, berwarna kemerahan atau kuning
dan berbentuk bulat, telur tidak tampak.
Dari
hasil praktikum yang dilakukan untuk mengetahui Indeks Kematangan Gonad Ikan
Nila (Oreochromis niloticus)
didapatkan dengan rumus berat gonad dibagi dengan berat tubuh ikan tersebut.
Hal ini sesuai dengan pendapat Solang (2010) yang menyatakan bahwa kematangan
gonad dapat diketahui dengan menghitung indeks kematangan gonad (IKG), yaitu
perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan. Perkembangan gonad
yang semakin matang merupakan bagian vitellogenesis, yaitu pengendapan kuning
telur, sehingga terjadi perubahan-perubahan pada gonad dan beratnya menjadi
bertambah. Gonad ikan
jantan mengalami viteloogenesis terjadi peningkatan berat 5-10%, sedangkan pada
betina 10-25% .
Dari hasil praktikum yang dilakukan ikan
nila betina (Oreochromis niloticus),
gonad yang didapatkan pada tingkat kematangan III, ciri-ciri morfologi
ikan nila betina tersebut ialah ovarium besar, berwarna gelap, dan ada ovosit
yang mulai mengandung kuning telur.
Hal ini sesuai dengan pendapat Marcellia dkk., (2013) yang menyatakn
bahwa gonad nila betina mencapai TKG III dengan ciri-ciri morfologi ovarium
besar, berwarna gelap, dan ada oosit yang mulai mengandung kuning telur. gonad
nila jantan mencapai TKG III, dengan ciri-ciri morfologi gonad sudah hampir
matang, gonad mengisi setengah rongga tubuh, dan testis berwarna putih. Berdasarkan
perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat
menentukan jenis hermaproditismenya. Hermaprodit sinkroni/simultaneous
yaitu apabila dalam gonad individu terdapat sel kelamin betina dan sel kelamin
jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap untuk dikeluarkan.
Pada hasil praktikum ikan nila betina (Oreochromis niloticus), gonad ikan nila
sudah hampir memenuhi tiga perempat rongga tubuh,dan itu menunjukkan tingkat
kematangan gonad III. Hal ini sesuai dengan pendapat Marcellia dkk., (2013),
yang menyakan bahwa ciri-ciri morfologi gonad nila betina TKG III yang terlihat
adalah gonad mengisi tiga perempat rongga tubuh. Gonad betina berwarna kuning,
hampir bening atau bening, telur mulai terlihat. Kadangkadang dengan tekanan
halus pada perutnya maka akan ada yang menonjol pada lubang pelepasannya.
Dari
hasil praktikum yang dilakukan diketahui ikan nila jantan meiliki tingkat
pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan ikan nila betina. Hal ini sesuai
dengan Hertanto dkk., (2013), yang menyatakan bahwa pertumbuhan ikan nila
jantan lebih cepat daripada pertumbuhan nila betina. Jantanisasi merupakan
teknik menstimulus benih ikan ke arah jantan, dan untuk ini diperlukan hormon
jantanisasi ikan/ hormon testosteron alami. Budidaya monosex (tunggal
kelamin) jantan mendatangkan banyak keuntungan diantaranya adalah mempersingkat
usia panen, ukuran ikan lebih besar dan daging lebih empuk daripada nila betina.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan dari
hasil praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Ikan
nila mempunyai ciri-ciri adanya garis warna tegak pada sirip ekor, hampir seluruhnya tubuh berwarna hitam, mulut
mengarah ke atas dan mempunyai rumus sirip
D. XVI-XVII, 11-15 dan A. III, 8-11.
2. Tingkat Kematangan Gonad Ikan nila (Oreochromis
niloticus) jantan yang didapatkan ialah pada kematangan tingkat I dengan
ciri-ciri warna gonad ikan nila jantan tersebut masih putih atau kelabu.
Kematangan Gonad Ikan Nila Betina yang didapatkan ialaha pada kematangan
tingkat II dan III dengan ciri tingat II ialah ciri-ciri morfologi ikan
nila betina tersebut ialah ovarium besar, berwarna gelap, dan ada oosit yang
mulai mengandung kuning telur, dan
ciri tingakt III ialah gonad ikan betina tersebut sudah hampir memenuhi tinga
perempat rongga tubuh.
3.
Menghitung indeks kematangan gonad (IKG),
yaitu perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan dan dikali
100 %.
Saran
Saran untuk praktikum Biologi Perikanan di Laboratorium Terpadu
Manajemen Sumberdaya Perairan adalah agar para semua praktikum menaati aturan
yang ada dan melakukan praktikum dengan lebih teliti dan berhati – hati lagi
dalam praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Budiman, A., A.
J. Arief dan A. H. Tjakrawidjaya. 2002. Peran Museum Zoologi dalam Penilitian
dan Konservasi Keanekaragaman Hayati (Ikan). Jurnal Ikhtiologi Indonesia. 2(2):
51 - 52. ISSN: 1693 – 0339.
Burhanuddin, A.
I. 2008. Peningkatan Pengetahuan Konsepsi Sistematika dan Pemahaman System Organ
Ikan yang Berbasis SCL pada Matakuliah Ikhtiologi. Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Desniar, D. Poernomo dan W. Wijatur. 2009. Pengaruh Konsentrasi Garam
pada Peda Ikan Kembung (Rastrelliger Sp.) dengan Fermentasi Spontan.
Jurnal Pengelolaan Hasil Perikanan Indonesia. 12(1): 73 – 87.
Hasibuan, A. P dan J. M. Umar. 2001. Pengalihan Jenis
Kelamin Ikan Nila Gift (Oreochromis
niloticus) dengan Pemberian Hormon
Testosteron Alami. Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi, Batan, Jakarta.
Hawa, L. C., Suhardi dan E. P. Sari. 2009. Penentuan
Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Ikan Kembung (Rastrelliger Sp.). Jurnal Teknologi Pertanian. 10(3): 153 – 161.
Hertanto, M. A., Y. Aida dan B. B. R. Sidharta. 2013. Produksi Ikan Nila
Merah (Oreochromis Niloticus) Jantan Menggunakan Madu Lebah Hutan.
Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.
Marcellia, S., Widiastuti, E, L., Nurcahyani dan
Rivai. 2013. Pemberian Senyawa Osmolit Organik Taurin pada Pakan Buatan
Terhadap Respon Pertumbuhan dan Perkembangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis
Niloticus) Pra-Dewasa. Universitas Lampung, Bandar Lampung.
Melmambessy, E.
H. P. 2010. Pendugaan Stok Ikan Tongkol di Selat Makassar Sulawesi Selatan.
Universitas Musamus, Merauke.
Pamungkas,
Y. P. 2013. Tingkat Kematangan Gonad
Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) di Danau Batur Kabupaten Bangli Bali.
11 (2) : 71-74.
Rahardjo, M. F.,
D. S. Sjafei., R. Affandi., Sulistiono dan J. Hutabarat. 2011. Ikhtiology.
Penerbit: Lubuk Agung, Bandung.
Rosmaidar.,
Dasrul., U. Fitriani., Zuhrawati., Hamny dan D. Aliza. 2016. Pengaruh Umur Larva Ikan Nila (Oreochromis
Niloticus) Terhadap Peningkatan Penjantanan Menggunakan Hormon Methyl
Testosterone (Mt) Alami. Jurnal Medika Veterinaria. 10(2): 154 – 156. ISSN:
2503 – 1600.
Rosmaidar., Winaruddin dan M. Herlina. 2014. Peningkatan Jumlah Nila (Oreochromis
Niloticus) Jantan Melalui Penggunaan Hormon Metil Testosteron Alami. Jurnal
Medika Veterinaria. 8(2): 128 – 131. ISSN: 0853 – 1943.
Sofijanto, M. A., R. Kristina
dan H. Subagio. 2016. Rasio Jenis
Kelamin danTingkat Kematangan Gonad Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis) yang
Tertangkap pada Pukat Cincin Berlampu Setan di Perairan Lamongan.
Universitas Hang Tuah, Surabaya.
Solang, M. 2010. Indeks Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis
Niloticus L) yang Diberi Pakan Alternatif dan Dipotong Sirip Ekornya.
Jurnal Saintek. 5(2).
Wahyuningsih, H
dan T. A. Barus. 2006. Buku Ajar: Ikhtiologi. Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Yuniarti, T., S. Hanif., T. Prayoga dan Suroso. 2009. Teknik Produksi
Induk Betina Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Tahap Verifikasi Jantan
Fungsional (XX). Jurnal Saintek Perikanan. 5(1): 38 – 43.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar