Sabtu, 01 April 2017

INDEKS KEMATANGAN GONAD IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Laporan Laboratorium Biologi Perikanan
INDEKS KEMATANGAN GONAD  IKAN NILA
(Oreochromis niloticus)
Oleh:
Reni Zulika Sinaga
150302032
I/B










Description: http://usu.ac.id/public/content/images/logo%20usu%20untuk%20semua%20png.png











LABORATORIUM BIOLOGI PERIKANAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULKTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan Laboratorium Biologi Perikanan yang berjudul Indeks Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis niloticus).
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Ani Suryanti, S.Pi., M.Si, Desrita, S.Pi., M.Si dan bapak Indra Lesmana, S.Pi., M.Si
selaku dosen penanggung jawab mata kuliah Biologi Perikanan serta para asisten Laboratorium Biologi Perikanan yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Demikian yang dapat penulis sampaikan. Laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan laporan selanjutnya. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.




     Medan,    Maret 2017           

  Penulis



DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .............................................................................               i
DAFTAR ISI .............................................................................................            ii
DAFTAR GAMBAR ...............................................................................             iii
PENDAHULUAN
Latar Belakang ................................................................................            1
Tujuan Praktikum ............................................................................            3
Manfaat Praktikum ..........................................................................            3
TINJAUAN PUSTAKA
Ikan Nila (Oreochromis niloticus)....................................................           4
Indeks Kematangan Gonad.............................................................             5
METODOLOGI
Waktu dan Tempat Praktikum ........................................................             9
Alat dan Bahan Praktikum ..............................................................            9
Prosedur Praktikum .........................................................................            9
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ................................................................................................           10
Pembahasan .....................................................................................           12
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ......................................................................................           14
Saran ................................................................................................           14
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia memiliki kekayaan jenis ikan yang sangat tinggi. Diperkirakan 8500 jenis ikan hidup diperairan Indonesia dan merupakan 45% dari jumlah jenis global di dunia. Dari jumlah tersebut 1300 jenis menempati perairan tawar. Dilihat dari jumlah jenis ikan air tawar, Indonesia menempati rangking kedua setelah Brazil dan pertama di Asia. Kenyataan yang ada saat ini menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai kekayaan sumberdaya ikan masih relatif sangat kecil                       (Budiman, dkk., 2002).
            Salah satu potensi laut Indonesia adalah potensi sumberdaya ikan, yang meliputi: sumberdaya ikan pelagis besar, sumberdaya ikan pelagis kecil, sumberdaya udang penaeid dan krustasea lainnya, sumberdaya ikan demersal, sumberdaya moluska dan teripang, sumberdaya cumi-cumi, sumberdaya benih alam komersial, sumberdaya karang, sumberdaya ikan konsumsi perairan karang, sumberdaya ikan hias, sumberdaya penyu laut, sumberdaya mammalia laut, dan sumberdaya rumput laut (Melmambessy, 2010).
            Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis, memiliki ciri khas pada tulang belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium untuk kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin.. Jumlah jenis ikan yang lebih besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar (Wahyuningsih dan Barus, 2006).
            Ikan adalah hewan berdarah dingin, ciri khasnya adalah mempunyai tulang belakang, insang dan sirip, dan terutama ikan sangat bergantung atas air sebagai medium dimana tempat mereka tinggal. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin. Mulai dari ikan yang berukuran kecil yang disebut Percid dari Amerika (Etheostoma microperca) yang dewasa secara seksual pada ukuran 27 mm. Di samping itu ada juga jenis goby dari Pacifik (Eviota) yang bertelur pada ukuran kurang dari 15 mm. Ada pula yang berukuran raksasa seperti Hiu (Rhincodon) yang dapat mencapai panjang 21 meter dengan berat 25 ton atau lebih. Kebanyakan ikan berbentuk terpedo, walaupun beberapa diantaranya berbentuk flat dan bentuk lainnya. (Burhanuddin, 2008).
Ikan merupakan sumberdaya laut yang dapat diperbaharui (renewable resources), yang artinya jika dimanfaatkan seoptimal mungkin maka potensi yang tertinggal dapat berkembang biak kembali. Tinggi rendahnya kemampuan berkembang biak bergantung pada banyak hal, antara lain individu ikan, lingkungan tempat hidup, dan kecepatan eksploitasi. Ikan dalam kehidupannya dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti dinamika perairan laut. Jenis ikan tertentu dapat berenang melintasi perairan samudera, baik secara cepat maupun lambat (Hawa, dkk., 2009).
Perkembangan industri perikanan di Indonesia mengalami peningkatan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data tahun 2004, hasil perikanan secara nasional sebesar 4.320.241 ton dengan indeks kenaikan rata-rata per tahun sebesar 3,48%. Dari total ini, sebesar 1.117.965 ton atau 25,87% digunakan untuk keperluan industri pengolahan ikan secara tradisional
(Desniar, dkk., 2009).

Ikan yang baru ditangkap bila tidak langsung ditangani dengan baik akan mudah busuk. Hal ini tentu menurunkan harga ikan tersebut. Proses pengolahan dan pengawetan ikan merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai industri perikanan. Tanpa adanya kedua proses tersebut, peningkatan produksi ikan yang dicapai sia-sia, karena tidak semua produk perikanan dapat dimanfaatkan oleh konsumen dalam keadaan baik. Pengolahan dan pengawetan bertujuan mempertahankan mutu dan juga dapat menstabilkan harga jual ikan pada saat musim ikan (Hawa, dkk., 2009).
Ikan memiliki keanekaragaman bentuk, ukuran, habitat serta distribusi jenis berdasarkan perbedaan ruang dan waktu sehingga membutuhkan pengetahuan tentang pengelompokan atau pengklasifikasian ikan. Pada umumnya bentuk tubuh ikan berkaitan erat dengan habitat dan cara hidupnya. Secara umum bentuk tubuh ikan adalah simetris bilateral, yang berarti jika ikan tersebut dibelah pada bagian tengah-tengah tubuhnya (potongan sagittal) akan terbagi menjadi dua bagian yang sama antara sisi kanan dan sisi kiri. Selain itu, terdapat beberapa jenis ikan berbentuk non-simetris bilateral, yaitu jika tubuh ikan tersebut dibelah secara melintang (crosssection) maka terdapat perbedaan antara sisi kanan dan sisi kiri tubuh (Wahyuningsih dan Barus, 2006).
            Nila merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya air tawar di Indonesia yang memiliki prospek cerah. Sejak diperkenalkan tahun 1970, ikan nila terus berkembang dan semakin disukai masyarakat, bahkan dapat mengalahkan jenis ikan lain yang sudah terlebih dahulu hadir di Indonesia. Hal ini disebabkan karena nila tergolong ikan yang harga jualnya terjangkau oleh masyarakat (Rosmaidar, dkk., 2014).
            Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk dalam program revitalisasi perikanan budidaya yang dicanangkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu upaya dalam meningkatkan kualitas induk dan benih ikan nila yang beredar di masyarakat. Teknologi produksi ikan nila jantan YY (supermale) telah dirilis pada tahun 2006 dengan nama nila GESIT (Genetically Supermale Indonesian Tilapia). Ikan nila GESIT ini memiliki keunggulan karena apabila disilangkan dengan betina normal (XX) akan menghasilkan keturunan yang semuanya jantan (XY) (Yuniarti, dkk., 2009).

Tujuan Praktikum
            Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.     Mengetahui klasifikasi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus).
2.     Mengetahui Tingkat Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis niloticus).
3.     Mengetahui Rumus Indeks Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

Manfaat Praktikum
            Manfaat dari praktikum ini adalah sebagai syarat penilaian di Laboratorium Biologi Perikanan, sebagai syarat masuk di Laboratorium Biologi Perikanan dan sebagai informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA
Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ikan nila merupakan ikan introduksi dari Afrika pada tahun 1969 dan kini telah menyebar luas di wilayah Indonesia. Ikan nila mempunyai nama latin Oreochromis niloticus, kelas Osteichtyes dan family Cichlidae. Ikan nila mempunyai ciri-ciri adanya garis warna tegak pada sirip ekor, hampir seluruhnya tubuh berwarna hitam, mulut mengarah ke atas dan mempunyai rumus sirip D. XVI-XVII, 11-15 dan A. III, 8-11 (Pamungkas, 2013).
            Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi yang telah lama dikenal oleh masyarakat dan telah dibudidayakan secara massal. Ikan nila sangat cepat mencapai kedewasaannya sehingga asupan energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan dalam bentuk daging dan pertambahan biomasa digunakan sebagai perkembangbiakannya. Budidaya monoseks menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan ini karena memungkinkan ikan tumbuh seragam, dapat mencapai ukuran besar, tidak bereproduksi liar di kolam budidaya dan mengurangi tingkah laku keinginan seksual. Budidaya monoseks telah terbukti efisien dalam memproduksi ikan nila dan dapat memperbaiki pertumbuhan biomassa ikan nila. Selisih biomassa ikan nila antara monoseks dengan yang tidak saat panen dapat mencapai 30-50%                 (Rosmaidar, dkk., 2016).
            Ikan nila merupakan salah satu ikan yang dibudidayakan masyarakat petani jaring apung . Hal ini karena ikan nila merupakan komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dan strategis dibandIngkan dengan komoditas perikanan lainnya, karena: prefensi masyarakat untuk mengkonsumsi ikan nila cukup tinggi, merupakan sumber protein hewani yang potensial bagi pemenuhan gizi masyarakat,  kebutuhan prasyarat hidup ikan nila yang kurang mgmerlukan kelayakan yang tinggi dan toleran terhadap perubahan kualitas lingkungan (Solang, 2010).
Ikan nila gift merupakan sumber protein yang sangat potensial, karena mudah di budidayakan dan memiliki keunggulan sifat biologis yaitu cepat tumbuh, taban penyakit, toleran terhadap lingkungan dan kekurangan oksigen. Dengan berbagai keunggulan itulah maka petani ataupun pengusaha dapat memilili jenis nila gift sebagai alternatif. Selain itu kandungan gizi ikan nila terdiri dari 17,5 % protein, 4,1 % lemak dan 78,4 % air, sehingga perlu ditingkatkan produksinya untuk penyediaan protein hewani yang murah dan mudah diperoleh. Populasi tunggal kelamin dapat diperoleh melalui : Pemeriksaan kelamin atau pemisahan kelamin secara manual, Hibridisasi, pengalihan kelamin dengan perlakuanh onnon I sex-reversal dan manipulasi kromosom (Hasibuan dan Jenny, 2001).
            Salah satu upaya penelitian untuk memperoleh ikan nila yang produktif adalah mengubah larva ikan nila menjadi jantan atau monosex. Hal ini dikarenakan pada proses budidaya ikan nila pertumbuhan nila jantan lebih cepat daripada pertumbuhan nila betina. Jantanisasi merupakan teknik menstimulus benih ikan ke arah jantan, dan untuk ini diperlukan hormon jantanisasi ikan/ hormon testosteron alami. Budidaya monosex (tunggal kelamin) jantan mendatangkan banyak keuntungan diantaranya adalah mempersingkat usia panen, ukuran ikan lebih besar dan daging lebih empuk daripada nila betina (Hertanto, dkk., 2013).

Indeks Kematangan Gonad
            TKG merupakan satu tingkatan kematangan seksual pada ikan. Sebagian besar hasil metabolisme digunakan selama fase perkembangan gonad. Dalam tahapan kematangan gonad, perkembangan sel telur menjadi semakin besar, berisi kuning telur dan akan diovulasikan pada ikan yang telah dewasa, jika gonad hampir masak memiliki beberapa tanda, di antaranya gonad mengisi setengah rongga tubuh, gonad betina berwarna kuning, bentuk telur tampak melalui dinding ovari (Sofijanto, 2016).
Kematangan gonad dapat diketahui dengan menghitung indeks kematangan gonad (IKG), yaitu perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian vitellogenesis, yaitu pengendapan kuning telur, sehingga terjadi perubahan-perubahan pada gonad dan beratnya menjadi bertambah. Gonad ikan jantan mengalami viteloogenesis terjadi peningkatan berat 5-10%, sedangkan pada betina 10-25% (Solang, 2010).
Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan.  Dengan ciri-ciri morfologi gonad sudah hampir matang, gonad mengisi setengah rongga tubuh, dan testis berwarna putih Pada ikan di daerah tropik faktor suhu secara relatif perubahannya tidak besar dan umumnya gonad dapat masak lebih cepat, dan pengamatan gonad dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara histologi dan morfologi. Pengamatan tingkat kematangan gonad yang dilakukan dengan cara histologi dari ikan tersebut (Pamungkas, 2013).  
Kematangan Gonad (TKG), yaitu dengan cara: 1. Histologi, yaitu dengan cara melakukan penelitian di dalam laboratorium yang akan menghasilkan data anatomi perkembangan gonad secara lebih jelas dan mendetail. 2. Pengamatan morfologi, yaitu pengamatan dengan melihat bentuk, ukuran panjang berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Pengamatan tingkat kematangan gonad (TKG) dilakukan dengan mengukur Kecepatan matang gonad menggunakan satuan hari mulai dari induk ikan dipelihara hingga matang gonad (ikan berada pada TKG IV) (Sofijanto, 2016).
Ikan hermaprodit mempunyai baik jaringan ovarium maupun jaringan testis yang sering dijumpai dalam beberapa famili ikan. Kedua jaringan tersebut terdapat dalam satu organ dan letaknya seperti letak gonad yang terdapat pada individu normal. Pada umumnya, ikan hermaprodit hanya satu sex saja yang berfungsi pada suatu saat, meskipun ada beberapa spesies yang bersifat hemaprodit sinkroni. Berdasarkan perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat menentukan jenis hermaproditismenya. Hermaprodit sinkroni/simultaneous yaitu apabila dalam gonad individu terdapat sel kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap untuk dikeluarkan. Ikan hermaprodit jenis ini ada yang dapat mengadakan pembuahan sendiri dengan mengeluarkan telur terlebih dahulu kemudian dibuahi oleh sperma dari individu yang sama, ada juga yang tidak dapat mengadakan pembuahan sendiri. Hermaprodit protandri yaitu ikan yang di dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina. Hermaprodit protogini merupakan keadaan yang sebaliknya dengan hermaprodit protandri. Proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan     (Burhanuddin, 2008).
TKG III pada gonad nila jantan mempunyai ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan matang. Gonad mengisi rongga tubuh, warna gonad pada ikan jantan kelabu atau putih dan berbentuk pipih. Pada gambar gonad nila betina TKG II, dengan ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan matang. Gonad mengisi seperempat rongga tubuh, berwarna kemerahan atau kuning dan berbentuk bulat, telur tidak tampak. Gonad nila betina mencapai TKG III dengan ciri-ciri morfologi ovarium besar, berwarna gelap, dan ada oosit yang mulai mengandung kuning telur. gonad nila jantan mencapai TKG III, dengan ciri-ciri morfologi gonad sudah hampir matang, gonad mengisi setengah rongga tubuh, dan testis berwarna putih. Berdasarkan perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat menentukan jenis hermaproditismenya. Hermaprodit sinkroni/simultaneous yaitu apabila dalam gonad individu terdapat sel kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap untuk dikeluarkan (Marcellia dkk., 2013).
Ciri-ciri morfologi gonad nila betina TKG IV yang terlihat adalah gonad mengisi tiga perempat rongga tubuh. Gonad betina berwarna kuning, hampir bening atau bening, telur mulai terlihat. Gonad nila jantan yang memasuki TKG IV memiliki ciri-ciri morfologi gonad mengisi tiga perempat rongga tubuh,testis berwarna putih kemerah-merahan, mengandung cairan putih jika ditekan perutnya keluar tetesan sperma. Gonad nila betina memasuki TKG V, yaitu perkembangan gonad yang sudah mencapai kematangan, sehingga sudah siap untuk melakukan pemijahan. Ciri-ciri morfologi gonad betina memasuki TKG V adalah ovarium berwarna kuning terang, ukurannya menjadi berkurang karena telah dilepaskannya oosit yang matang. Ovarium berisi oogonia, oosit muda dan beberapa oosit berwarna kuning telur serta banyak dijumpai folikel yang. Perkembangan gonad nila jantan yang memasuki TKG V dengan ciriciri morfologi testis bagian belakang kempis, bagian dekat pelepasan masih tiris, gonad jantan berwarna putih, kadangkadang dengan bintik cokelat. Pada TKG V gonad sudah siap dikeluarkan untuk terjadinya pemijahan ikan tersebut (Marcellia dkk., 2013).


METODOLOGI
Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 13 Maret 2017 pada pukul 15.00 di Laboratorium Terpadu Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Alat dan Bahan Praktikum
            Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas milimeter blok yang berfungsi untuk mengukur tubuh ikan, timbangan yang berfungsi untuk menimbang berat tubuh ikan, nampan yang berfungsi untuk wadah meletakkan ikan, buku gambar yang berfungsi untuk menulis dan menggambarkan hasil praktikum, alat tulis yang berfungsi untuk menulis, tissue gulung yang berfungsi untuk membersihkan alat–alat laboratorium, serbet yang berfungsi untuk membersihkan alat-alat laboratorium setelah melaksanakan praktikum, pisau cutter yang berfungsi untuk memotong atau membelah tubuh ikan, penjepit yang berfungsi untuk melihat bentuk alat kelamin ikan dan kamera digital yang berfungsi sebagai dokumentasi pada saat praktikum.
            Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) dan tissue untuk membersih alat yang kotor.
Prosedur Praktikum
            Prosedur pengamatan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.     Alat dan bahan disiapkan.
2.     Milimeter block disiapkan.
3.     Pisau cutter disiapkan.
4.     Ikan  nila (Oreochromis niloticus) diambil dari nampan untuk di identifikasi seperti TL, FL dan SL diatas milimeter block.
5.     Ikan nila (Oreochromis niloticus) ditimbang beratnya dengan timbangan.
6.     Ikan nila (Oreochromis niloticus) dibelah bagian tubuhnya untuk melihat tingkat kematangan gonadnya.
7.     Gambar ikan diambil dengan kamera digital sebagai lampiran.
8.     Hasil pengamatan dicatat dan digambarkan di buku gambar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Hasil dari praktikum ini adalah sebagai berikut: 

Tabel 1. Hasil Pengukuran Morfometri, IKG dan TKG Ikan
Jenis Ikan
Ke
TL
(cm)
FL
(cm)
SL
(cm)
BG
(gr)
BT
(gr)
IKG
(%)
TKG
Ikan Nila
Jantan
I
28
-
22
-
500
-
I
II
20
-
15
-
200
-
I
III
17
-
14
-
110
-
I
IV
16
-
13
-
100
-
I
V
16
-
10
-
100
-
I
Ikan Nila
Betina
I
23,2
-
20
1
320
0,31
IV
II
26
-
22,2
2
350
0,57
III
III
27,5
-
23
10,2
500
0,04
IV
IV
17
-
14
2,6
100
2,6
IV
V
18
-
14
4,4
100
4,4
IV
           
Menurut Linnaeus (1785), klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Osteichtyes
Ordo                : Perciformes
Famili              : Cichlidae
Genus              : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Perhitungan IKG Ikan Nila Betina
IKG = BG/BT x 100
(TKG I) 1/320 x 100% = 0,31%
(TKG II) 2/350 x 100% = 0,57%
(TKG III) 10,2/500 x 100% = 2,04%
(TKG 1V) 2,6/100 x 100% = 2,6%
(TKG V) 4,4/100 x 100% = 4,4%
Pembahasan:
Pada praktikum yang dilakukan ikan nila betina (Oreochromis niloticus) memiliki gonad, dimana bentuk gonad berbentuk memanjang (oval) dan berwarna kuning dan memiliki adanyan butiran telur kecil – kecil. Hal ini sesuai dengan  Burhanuddin (2008) yang menyatakan bahwa pada kelompok Teleost terdapat sepasang ovarium yang memanjang dan kompak. Ovarium terdiri dari oogonia dan jaringan penunjang atau stroma. Mereka tergantung pada bagian atas rongga tubuh dengan perantaraan mesovaria, di bawah atau di samping gelembung renang (jika ada). Ukuran dan perkembangannya pada rongga tubuh bervariasi dengan tingkat kematangannya. Pada keadaan matang, ovarium bisa mencapai 70 % dari berat tubuhnya. Sebagian besar pada waktu masih muda warna keputih-putihan dan menjadi kekuning-kuningan pada saat matang.
Dari hasil praktikum yang dilakukan ikan nila jantan (Oreochromis niloticus), masih memiliki tingkat  kematangan gonad I, karena warna gonad ikan nila jantan tersebut masih putih atau kelabu. Hal ini sesuai dengan pendapat Marcellia dkk., (2013), yang menyakan bahwa pada gonad nila jantan mempunyai ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan matang. Gonad mengisi rongga tubuh, warna gonad pada ikan jantan kelabu atau putih dan berbentuk pipih. Pada gambar gonad nila betina TKG II, dengan ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan matang. Gonad mengisi seperempat rongga tubuh, berwarna kemerahan atau kuning dan berbentuk bulat, telur tidak tampak.
Dari hasil praktikum yang dilakukan untuk mengetahui Indeks Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis niloticus) didapatkan dengan rumus berat gonad dibagi dengan berat tubuh ikan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Solang (2010) yang menyatakan bahwa kematangan gonad dapat diketahui dengan menghitung indeks kematangan gonad (IKG), yaitu perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian vitellogenesis, yaitu pengendapan kuning telur, sehingga terjadi perubahan-perubahan pada gonad dan beratnya menjadi bertambah. Gonad ikan jantan mengalami viteloogenesis terjadi peningkatan berat 5-10%, sedangkan pada betina 10-25% .
Dari hasil praktikum yang dilakukan ikan nila betina (Oreochromis niloticus), gonad yang didapatkan pada tingkat kematangan III, ciri-ciri morfologi ikan nila betina tersebut ialah ovarium besar, berwarna gelap, dan ada ovosit yang mulai mengandung kuning telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Marcellia dkk., (2013) yang menyatakn bahwa gonad nila betina mencapai TKG III dengan ciri-ciri morfologi ovarium besar, berwarna gelap, dan ada oosit yang mulai mengandung kuning telur. gonad nila jantan mencapai TKG III, dengan ciri-ciri morfologi gonad sudah hampir matang, gonad mengisi setengah rongga tubuh, dan testis berwarna putih. Berdasarkan perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat menentukan jenis hermaproditismenya. Hermaprodit sinkroni/simultaneous yaitu apabila dalam gonad individu terdapat sel kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap untuk dikeluarkan.
Pada hasil praktikum ikan nila betina (Oreochromis niloticus), gonad ikan nila sudah hampir memenuhi tiga perempat rongga tubuh,dan itu menunjukkan tingkat kematangan gonad III. Hal ini sesuai dengan pendapat Marcellia dkk., (2013), yang menyakan bahwa ciri-ciri morfologi gonad nila betina TKG III yang terlihat adalah gonad mengisi tiga perempat rongga tubuh. Gonad betina berwarna kuning, hampir bening atau bening, telur mulai terlihat. Kadangkadang dengan tekanan halus pada perutnya maka akan ada yang menonjol pada lubang pelepasannya.
Dari hasil praktikum yang dilakukan diketahui ikan nila jantan meiliki tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan ikan nila betina. Hal ini sesuai dengan Hertanto dkk., (2013), yang menyatakan bahwa pertumbuhan ikan nila jantan lebih cepat daripada pertumbuhan nila betina. Jantanisasi merupakan teknik menstimulus benih ikan ke arah jantan, dan untuk ini diperlukan hormon jantanisasi ikan/ hormon testosteron alami. Budidaya monosex (tunggal kelamin) jantan mendatangkan banyak keuntungan diantaranya adalah mempersingkat usia panen, ukuran ikan lebih besar dan daging lebih empuk daripada nila betina.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
            Kesimpulan dari hasil praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Ikan nila mempunyai ciri-ciri adanya garis warna tegak pada sirip ekor, hampir  seluruhnya tubuh berwarna hitam, mulut mengarah ke atas dan mempunyai       rumus sirip D. XVI-XVII, 11-15 dan A. III, 8-11.
2.      Tingkat Kematangan Gonad Ikan nila  (Oreochromis niloticus) jantan yang didapatkan ialah pada kematangan tingkat I dengan ciri-ciri warna gonad ikan nila jantan tersebut masih putih atau kelabu. Kematangan Gonad Ikan Nila Betina yang didapatkan ialaha pada kematangan tingkat II dan III dengan ciri tingat II ialah ciri-ciri morfologi ikan nila betina tersebut ialah ovarium besar, berwarna gelap, dan ada oosit yang mulai mengandung kuning telur, dan ciri tingakt III ialah gonad ikan betina tersebut sudah hampir memenuhi tinga perempat rongga tubuh.
3.      Menghitung indeks kematangan gonad (IKG), yaitu perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan dan dikali 100 %.
Saran
            Saran untuk praktikum Biologi Perikanan di Laboratorium Terpadu Manajemen Sumberdaya Perairan adalah agar para semua praktikum menaati aturan yang ada dan melakukan praktikum dengan lebih teliti dan berhati – hati lagi dalam praktikum.







DAFTAR PUSTAKA
Budiman, A., A. J. Arief dan A. H. Tjakrawidjaya. 2002. Peran Museum Zoologi dalam Penilitian dan Konservasi Keanekaragaman Hayati (Ikan). Jurnal Ikhtiologi Indonesia. 2(2): 51 - 52. ISSN: 1693 – 0339.

Burhanuddin, A. I. 2008. Peningkatan Pengetahuan Konsepsi Sistematika dan Pemahaman System Organ Ikan yang Berbasis SCL pada Matakuliah Ikhtiologi. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Desniar, D. Poernomo dan W. Wijatur. 2009. Pengaruh Konsentrasi Garam pada Peda Ikan Kembung (Rastrelliger Sp.) dengan Fermentasi Spontan. Jurnal Pengelolaan Hasil Perikanan Indonesia. 12(1): 73 – 87.

Hasibuan, A. P dan J. M. Umar. 2001. Pengalihan Jenis Kelamin Ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) dengan Pemberian Hormon Testosteron Alami. Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi, Batan, Jakarta.

Hawa, L. C., Suhardi dan E. P. Sari. 2009. Penentuan Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Ikan Kembung (Rastrelliger Sp.). Jurnal Teknologi Pertanian. 10(3): 153 – 161.

Hertanto, M. A., Y. Aida dan B. B. R. Sidharta. 2013. Produksi Ikan Nila Merah (Oreochromis Niloticus) Jantan Menggunakan Madu Lebah Hutan. Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.

Marcellia, S., Widiastuti, E, L., Nurcahyani dan Rivai. 2013. Pemberian Senyawa Osmolit Organik Taurin pada Pakan Buatan Terhadap Respon Pertumbuhan dan Perkembangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Pra-Dewasa. Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Melmambessy, E. H. P. 2010. Pendugaan Stok Ikan Tongkol di Selat Makassar Sulawesi Selatan. Universitas Musamus, Merauke.
Pamungkas, Y. P. 2013. Tingkat Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) di Danau Batur Kabupaten Bangli Bali. 11 (2) : 71-74.

Rahardjo, M. F., D. S. Sjafei., R. Affandi., Sulistiono dan J. Hutabarat. 2011. Ikhtiology. Penerbit: Lubuk Agung, Bandung.

Rosmaidar., Dasrul., U. Fitriani., Zuhrawati., Hamny dan D. Aliza. 2016. Pengaruh Umur Larva Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Terhadap Peningkatan Penjantanan Menggunakan Hormon Methyl Testosterone (Mt) Alami. Jurnal Medika Veterinaria. 10(2): 154 – 156. ISSN: 2503 – 1600.

 


Rosmaidar., Winaruddin dan M. Herlina. 2014. Peningkatan Jumlah Nila (Oreochromis Niloticus) Jantan Melalui Penggunaan Hormon Metil Testosteron Alami. Jurnal Medika Veterinaria. 8(2): 128 – 131. ISSN: 0853 – 1943.

Sofijanto, M. A., R. Kristina dan H. Subagio. 2016.  Rasio Jenis Kelamin danTingkat Kematangan Gonad Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis) yang Tertangkap pada Pukat Cincin Berlampu Setan di Perairan Lamongan. Universitas Hang Tuah, Surabaya.

Solang, M. 2010. Indeks Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis Niloticus L) yang Diberi Pakan Alternatif dan Dipotong Sirip Ekornya. Jurnal Saintek. 5(2).

Wahyuningsih, H dan T. A. Barus. 2006. Buku Ajar: Ikhtiologi. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Yuniarti, T., S. Hanif., T. Prayoga dan Suroso. 2009. Teknik Produksi Induk Betina Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Tahap Verifikasi Jantan Fungsional (XX). Jurnal Saintek Perikanan. 5(1): 38 – 43.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar