MAKAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN
150302032
Oleh:
Reni Zulika Sinaga
150302032
MATA KULIAH BIOLOGI PERIKANAN
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga dapat
menyelesaikan laporan Fisiologi Hewan Air yang berjudul “Makanan dan Kebiasaa Makan Ikan ”. Laporan ini merupakan salah satu syarat masuk
untuk praktikal Laboratorium Biologi Perikanan.
Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan
terimakasih kepada Ibu Dr.
Ani Suryanti, S.Pi, M.Si selaku dosen Biologi Perikanan. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membimbing penulis dalam
menyelesaikan makalah ini.
Demikianlah makalah ini penulis
selesaikan. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pihai-pihak yang membutuhkan.
Medan, Juni 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR
ISI............................................................................................... ii
DAFTAR
GAMBAR................................................................................... iii
DAFTAR
TABEL....................................................................................... iv
PENDAHULUAN
Latar Belakang..................................................................................... 1
Tujuan Penulisan.................................................................................. 2
Manfaat
Penulisan................................................................................ 2
TINJAUAN PUSTAKA
Kebiasaan Makan Ikan...................................................................... 4
Makanan Ikan................................................................................... 6
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
..................................................................................... 11
Saran.............................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Melihat besarnya potensi sumber daya
hayati khususnya yang berasal dari lautan di Indonesia maka perlu dilakukan
suatu usaha untuk dapat mengetahui berbagai aspek biologi perikanan,hal
tersebut dapat dimulai dengan melakukan praktikum yang membahas mengenai aspek
biologi perikanan tersebut.Atas dasar tersebut praktikum biologi perikanan
dilaksanakan dengan komposisi materi meliputi pembahasan tentang kebiasaan
makanan ikan.Adapun pengertian kebiasaan makanan adalah kualitas
dan kuantitas yang digunakan oleh ikan,sehingga kebiasaan makan itu hidup.Makanan
yang telah digunakan oleh ikan akan mempengaruhi sisa persediaan makanan dan
sebaliknya dari makanan yang diambil akan mempengaruhi pertumbuhan,kematangan
bagi tiap-tiap individu ikan serta survivalnya.Ikan merupakan organisme tingkat tinggi yang memiliki
nilai ekonomis dan ekologi penting.Mengingat pentingnya keberadaan ikan dalam
suatu ekosistem,maka diperlukan pengetahuan tentang beberapa aspek
biologi,antara lain tingkat kematangan gonad,fekunditas,hubungan panjang
berat,seksualitas ikan,ruaya,pemijahan,awal daur hidup,kebiasaan makanan dan cara
memakan,persaingan dan pemangsaan, pertumbuhan ikan,umur ikan,analisis populasi
dan analisa saluran pencernaan yang merupakan kunci penting dan harus
diperhatikan untuk menjamin kelestarian sumberdaya dan usaha budidaya ikan
tersebut.
Analisa pola kebiasan
makanan ikan dipakai dalam menentukan gizi alamiah ikan itu. Dengan mengetahui
kebiasaan makanan ikan, maka dapat dilihat hubungan ekologi diantara organisme.Misalnya
rantai makanan,bentuk-bentuk pemangsaan,predasi dan kompetisi.Jadi makanan
dapat menjadi faktor penentu bagi pertumbuhan,kondisi ikan,dan populasi ikan
tersebut.Jenis makanan satu spesies ikan biasanya tergantung pada umur,tempat
dan waktu dimana ikan tersebut berada (Effendie, 1979).
pengukuran berat dari
berbagai penimbangan ikan yang paling tepat adalah dengan menggunakan timbangan
duduk dan timbangan gantung,adapan keuntungan yang dimiliki dari kedua
timbangan ini adalah bekerjanya lebih teliti,pengaruh dari luar seperti angin
dapat dikurangi,serta pendugaan pertama terhadap berat ikan yang ditimbang
tidak perlu dilakukan karena secara langsung dapat menunjukkan beratnya (Abdul
1985).
Beberapa faktor yang
memepengaruhi makanan atau ada tidaknya suatu zat makanan oleh ikan yaitu
ukuran makanan,warna makanan,selera ikan terhadap makanan tersebut.Jumlah
makanan yang dibutuhkan oleh ikan tergantung dari kebiasaan
makan,kelimpahan makan,suhu dan kondisi umur ikan.kebiasaan makanan dan cara
memakan ikan itu secara alami bergantung kepada lingkungan tempat ikan itu
hidup (Anonim, 2008).
Tidak keseluruhan
makanan yang ada dalam suatu perairan dimakan oleh ikan. Beberapa faktor yang
mempengaruhi dimakan atau tidaknya suatu zat makanan oleh ikan diantaranya
yaitu ukuran makanan ikan,warna makanan dan selera makan ikan terhadap makanan
tersebut.Sedangkan jumlah makanan yang dibutuhkan oleh ikan tergantung pada
kebiasaan makan,kelimpahan makanan,nilai konversi makanan serta kondisi makanan
ikan tersebut (Yasidi, 2005).
Untuk mengusahakan
penangkapan,pemeliharaan dan peternakan ikan dengan sukses,sering kali
diperlukan pengetahuan praktis tentang jenis makanan yang disukai ikan.Untuk
itu perlu penelitian tentang makanan dan kebiasaan makan ikan.Pada dasarnya
harus atas pemeriksaan isi lambung dan usus ikan yang bersangkutan(Soesono,
1977).
BAB II
TINJAUAN PUSTKA
Kebiasaan makanan ikan (food habits) adalah kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan
oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara memakan (feeding habits) adalah waktu,
tempat dan caranya makanan itu didapatkan oleh ikan. Kebiasaan makanan dan cara
memakan ikan secara alami bergantung pada lingkungan tempat ikan itu hidup
.Tujuan mempelajari kebiasaan makanan (food habits) ikan dimaksudkan untuk
mengetahui pakan yang dimakan oleh setiap jenis ikan (Effendie, 2002).
Hasil penelitian Tjahjo dan Purnamaningtyas (2008)
pada ikan nila di Waduk Cirata mempunyai nilai luas relung sebesar 3,9.
Tingginya nilai luas relung ikan nila yang ada di Waduk Cirata menunjukkan
bahwa ikan tersebut dapat memanfaatkan seluruh kelompok sumber daya makanan
yang tersedia secara merata terhadap makanan yang tersedia di perairan tersebut.
Krebs (1989) menyatakan bahwa tinggi rendahnya nilai luas relung makanan menunjuk-kan
tingkat generalitas ikan dalam memanfaatkan pakan alami yang ada. Semakin
tinggi nilai luas relung makanan pada ikan menunjukkan bahwa ikan tersebut akan
lebih leluasa memanfaatkan sumber daya pakan yang ada (Purnomo & Warsa 2011).
Berdasarkan kebiasaan makannya, ikan dapat dibedakan
atas tiga golongan, yaitu herbivora, karnivora dan omnivora. Namun di alam
sering sekali ditemukan tumpang tindih yang disebabkan oleh keadaan habitat
sekeliling tempat ikan hidup. Pada umumnya ikan mempunyai daya adaptasi yang
tinggi terhadap kebiasaan makanannya serta dalam memanfaatkan makanan yang
tersedia (Irawati, 2011).
Dalam daur hidup ikan, selain dari serangan
predator, maupun penyakit, perubahan kebiasaan makanan khususnya pada stadia
awal merupakan masa kritis yang bisa menyebabkan mortalitas alami. Masa kritis
tersebut terjadi pada saat sesudah penyerapan kuning telur selesai, dimana
larva ikan mulai mengambil makanan dari luar tubuhnya, sehingga kemampuan larva
ikan untuk mendapatkan makanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan larva ikan
untuk mendeteksi keberadaan makanan, cara menangkap serta bukaan mulut larva
ikan yang berkaitan dengan ukuran makanan yang tersedia di perairan. Selain itu
kepadatan dan ketersediaan makanan di alam juga merupakan faktor yang
mempengaruhi keberhasilan hidup. Mortalitas yang tinggi dapat terjadi apabila
larva ikan tidak segera mendapatkan makanan yang sesuai baik jenis maupun
jumlahnya (Affiati dan Lim, 1986).
Ikan baung adalah ikan tawar berkumis yang bersifat
nokturnal yaitu aktif mencari makanan dan melakukan aktivitas lainnya pada
malam hari. Ketersediaan organisme dasar atau pakan alami yang terdapat pada
suatu perairan berkaitan dengan kebiasaan makanan dan kondisi habitat. Mystus
nemurus C.V atau ikan baung dewasa mampu mencapai panjang tubuh 570 mm. ikan
baung memiliki panjang usus 300 mm dengan ukuran panjang total tubuhnya 330 mm
yang merupakan ciri-ciri usus karnivor (Kottelat et al., 1993).
Pengelompokan ikan berdasarkan kelas ukuran panjang
tubuh bertujuan untuk mengetahui IP makanan ikan senangin mulai ukuran terkecil
yang diperoleh hingga ukuran terbesar, sehingga diketahui apakah ada perbedaan
isi lambung ikan berdasarkan ukuran tubuhnya. Pengelompokan sesuai dengan
petunjuk Sudjana (1996) yaitu:
1.
Tentukan jumlah ikan yang diteliti (n)
2.
Tentukan panjang tertinggi dan terendah
3.
Tentukan rentang data terbesar dikurangi data terkecil
4.
Tentukan banyak kelas interval
5.
Banyak kelas interval : 1 + (3,3) log n
6.
Tentukan panjang kelas (P) : rentang /banyak kelas
Menurut (Carpenter & Niem, 1999; Khuo &
Shao, 1999) Makanan ikan baji-baji yang didominasi kelompok crustacea dan ikan
dasar menjadi penciri bahwa ikan ini termasuk ikan pemakan dasar. Hal ini dapat
dipahami karena habitat hidup ikan baji-baji adalah di dasar perairan (ikan
demersal). Pola sebaran ukuran panjang ikan baji-baji yang tertangkap bahwa
ukuran panjang total maksimum ikan baji-baji yang pernah tertangkap di daerah
perairan Western Central Pacific (termasuk perairan Indonesia) adalah
300 mm dan paling banyak tertangkap pada kelompok ukuran 200 mm.
Roehm et al. (1967) menyatakan bahwa ikan
rainbow trout yang ditambahkan 1% gosipol dalam pakan menyebabkan pertumbuhan
ikan menurun sekitar 50% dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan ikan dengan
penambahan 2% gosipol asetat dalam pakan menyebabkan ikan tidak mau makan.
Selanjutnya dikatakan, pada hati, ginjal dan jaringan limpanya terdapat ikatan
gosipol dan gosipol tersebut tetap berada dalam hati sampai ikan diberi pakan
yang tidak mengandung gosipol.
Bacillariophyceae dari genus Synedra merupakan
makanan utama ikan bilih. Ikan jantan mengkonsumsi makanan sama dengan ikan
betina. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan pakan alami ikan bilih jantan
dan ikan bilih betina. Kelompok makanan yang ditemukan dari saluran pencernaan
ikan bilih jantan tidak jauh berbeda dengan ikan bilih betina terdiri plankton
kelompok Bacillaryophiceae, Chlorophyceae, Cyanophyceaea, dan lain- lain
(Serasah, detritus serta organisme yang tidak teridentifikasi) (Febriani,
2010).
Menurut pendapat Affandi (2005)
Pakan dengan komposisi yang baik dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan
kelulushidupan (sintasan) ikan sidat. Untuk mencapai kondisi tersebut kadar
kebutuhan protein yang baik bagi pertumbuhan ikan sidat, yaitu ±45%. Dalam
budidaya ikan sidat bentuk pakan yang digunakan adalah pelet pasta. Pelet pasta
membutuhkan stabilisator agar tidak mudah larut dalam air (Winarno, 1996;
Puspitasari 2008). Pakan yang mudah larut dalam air dapat mempengaruhi sintasan
ikan sidat. Terdapat dugaan komposisi pakan yang baik adalah campuran antara
pelet ikan, ulat tepung, dan ganggang merah. Diharapkan ketiga campuran pakan
tersebut dapat meningkat-kan pertumbuhan dan sintasan ikan sidat secara
optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Affandi,
R. 2005. Strategi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidat, Anguilla spp. Di Indonesia
[Strategy on Utilization of Eel (Anguila sp.) Resources in Indonesia].
Jurnal Ikhtiologi Indonesia. Volume 5, no 2, 2005.
Affiati, N dan Lim, C.
1986. Pengaruh Saat Awal Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan
Hidup Benih Ikan Gurami (Osphronemous
gouramy). Buletin Penelitian Perikanan Darat 5(1): 23 – 27.
Carpenter, K.E.
& Niem, V.H. (eds). 1999. FAO species identification guide for
fishery purposes.The living marine resources of the Western Central Pacific.
Volume 4. Bony fishes part 4 (Mugilidae to Carangidae). Rome, FAO. pp. 2069-2790.
Effendie,
M.I.2002. Biologi Perikanan. Cetakan Kedua. Yogyakarta. Yayasan Pustaka
Nusatama. 163 Halaman.
Febriani L.
2010. Studi makanan dan pertumbuhan ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker)
di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 102 hlm.
Irawati,2011. Kebiasaan Makanan Ikan Merah, Lutjanus
Boutton (Lacepede, 1802) Di Perairan Pallameang, Kabupaten Pinrang, Provinsi
Sulawesi Selatan [Skripsi].Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan
Universitas Hasanuddin,Makasar.
Kottelat, M. A.,
Whitten, S. N. and Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes Of Western
Indonesia and Sulawesi (Ikan Air
Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi). Periplus Edition
(HK). Ltd. Kerjasama dengan proyek EMDI, Kantor Menteri Negara Kependudukan dan
Lingkungan Hidup R.I. Jakarta.239 halaman.
Krebs CJ. 1989. Ecological
methodology. University of British Columbia. New York (US): Harper and Row
Publisher.
Purnomo K, Warsa
A. 2011. Struktur Komunitas dan Relung Makanan Ikan Pasca Introduksi Ikan Patin
Siam (Pangasianodon hypophthalmus) di Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes. Jurnal
Penelitian Perikanan Indonesia. 17(1): 73-82.
Puspitasari, D.
2008. Kajian Substitusi Tapioka Dengan Rumput Laut (Euchema cottoni)
Pada Pembuatan Bakso. [Skripsi]. Program
Studi Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas
Roehm, J.N.,
Lee, D.J., Sinnhuber, R.O. 1967. Accumulation
and elimination of dietary gossypol
in the organ of rainbow trout. Lipids, 5(1) : 80-81.
Tjahjo DWH,
Purnamaningtyas SE. 2008. Kebiasaan Makan Ikan di Waduk Cirata, Jawa Barat :
Sebagai Data Dasar untuk Pemacuan Stok Ikan. Prosiding Forum Nasional Pemacuan
Sumberdaya Ikan II, Loka Riset Pemacuan Stok
Ikan (LRPSI). Pusat Riset Perikanan Tangkap. Jakarta.
Sudjana, M. A.
(1986). Metode Statistika. Edisi ke IV. Tarsito. Bandung 502 hal.
Nikolsky, G. V. 1963. The Ecology of Fishes. Academic Press. New
York. 325 h.
Winarno. 1996.
Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.






