Sabtu, 01 April 2017

MORFOMETRI SUNGAI TUNTUNGAN DI KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN KABUPATEN DELI SERDANG

MORFOMETRI SUNGAI TUNTUNGAN DI KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN KABUPATEN DELI SERDANG
Oleh: 
Reni Zulika Sinaga/150302032
Manajemen Sumberdaya Perairan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia mempunyai perairan yang lebih luas dari daratan. Oleh karena itu, Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Perairan Indonesia, baik perairan tawar, payau, maupun laut kaya akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna. Demikian luas serta beragam jasad–jasad yang hidup di dalam perairan yang kesemuanya membentuk dinamika kehidupan yang saling berkesinambungan. Perairan Indonesia dikenal kaya akan sumberdaya hayati yang beraneka ragam, seperti alga, lamun, dan mangrove (Abbas, 2014).
Air adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Komposisi tubuh manusia sebagian besar adalah air (cairan), yaitu sekitar 60-70 %. Karena itu, air memegang peranan yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan dan tidak tergantikan. Air adalah materi esensial dan tidak disintesakan. UU No.7 tahun 2004 tentang sumber daya air Pasal 29 ayat 1 dan 2 menyatakan Penyediaan sumber daya air ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan air sesuai dengan kualitas dan kuantitas (Lewa dkk., 2012).
Ekosistem air yang terdapat di daratan (inland water) secara umum dapat dibagi 2, yaitu perairan lentik (lentic water) yang disebut sebagai perairan tenang, misalnya danau, rawa, waduk, situ, telaga, dan sebagainya serta perairan lotik (lotic water) yang disebut sebagai perairan berarus deras, misalnya sungai, kali, kanal, parit, dan sebagainya. Perbedaan utama antara perairan lotik dan lentik adalah dalam hal kecepatan arus air (Silalahi, 2009).
Klasifikasi mutu air menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dibagi menjadi empat kelas, yaitu: Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan peruntukan lain yang syarat mutu air sama dengan kegunaan tersebut; Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air yang sama dengan kegunaan tersebut; Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut (Sumantry, 2012).
Berdasarkan peruntukannya, tentunya diharapkan bahwa kualitas air yang ada di perairan tersebut masih dalam batas-batas toleransi. Kriteria kualitas air, apakah masih layak untuk dimanfaatkan atau tidak, dalam artian kualitas air digunakan untuk mengetahui apakah air itu cukup aman untuk dikonsumsi atau dipergunakan untuk kegiatan tertentu ataupun air tersebut sudah tidak layak untuk dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan (Latif, 2012).
Di alam bebas ini, tidak ada air yang murni karena di dalam air yang murni (H2O) tidak ada suatu jenis kehidupan pun. Setiap organisme yang hidup memerlukan udara dan zat hara makanan untuk mempertahankan kehidupannya. Dengan demikian, agar organisme air dapat hidup di seluruh perairan di bumi, perairan yang ada tentunya harus mengandung berbagai mineral, bahan organik, dan anorganik lainnya, baik yang tersuspensi maupun yang terlarut dalam air (Parlaungan, 1996).
Penurunan kualitas air akan menyebabkan terjadinya perubahan ekologis pada perairan yang memberikan pengaruh terhadap keanekaragaman organisme yang hidup di dalamnya. Keanekaragaman spesies dapat dijadikan sebagai indikator kualitas air. Suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi bila terdapat banyak spesies dengan jumlah individu masing-masing spesies relatif merata. Bila suatu komunitas hanya terdiri dari sedikit spesies dengan jumlah individu yang tidak merata, maka komunitas tersebut mempunyai keanekaragaman yang rendah dan itu menjadi indikasi bahwa suatu perairan telah tercemar (Fitra, 2008).
Salah satu indikator penentu untuk mengetahui kualitas perairan yang memenuhi persyaratan tersebut adalah nilai produktivitas primer. Produktivitas primer adalah laju penyimpanan energi radiasi matahari oleh organisme produsen dalam bentuk bahan organik melalui proses fotosintesa oleh fitoplankton. Dalam tropik level suatu perairan, fitoplankton disebut sebagai produsen utama perairan (Erlina dkk., 2007).
Pencemaran air adalah penambahan unsur atau organisme laut kedalam air sehingga pemanfaatannya dapat terganggu. Pencemaran air dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial karena adanya gangguan oleh adanya zat-zat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air pada kondisi yang kritis atau merusak kadar kimia air. Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air. Besarnya beban pencemaran yang ditampung oleh suatu perairan, dapat diperhitungkan berdasarkan jumlah polutan yang berasal dari berbagai sumber aktifitas air buangan dari proses-proses industri dan buangan domestik yang berasal dari penduduk (Salmin, 2005).
Kualitas sumber air dari sungai-sungai penting di Indonesia umumnya tercemar amat sangat berat oleh limbah organik yang berasal dari limbah rumah tangga, industri, dan pertanian. Menurut Agenda 21 Indonesia (1997) Penyebaran penduduk yang tidak merata akan mengakibatkan terjadinya akumulasi zat pencemar di daerah yang sangat padat penduduknya. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya peruntukan kualitas air serta timbulnya wabah penyakit akibat kurang baiknya sanitasi lingkungan. Selain itu, diketahui penurunan kualitas air sungai tidak hanya terjadi di daerah hilir sungai, tetapi telah merambah ke daerah hulu sungai sebagai akibat dari pemanfaatan sungai yang tidak efektif, diantaranya sungai yang dijadikan sebagai jamban keluarga (Dini, 2011).
Tujuan Praktikum
Tujuan dari Praktikum Limnologi ini adalah:
1.        Untuk mengetahui morfometri Sungai Tuntungan.
2.        Untuk mengetahui kualitas air Sungai Tuntungan.
3.        Untuk mengetahui cara menggunakan secchi disk.
Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini, yaitu sebagai salah satu syarat mengikuti Praktikum Limnologi di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan serta sebagai sumber informasi tentang kualitas air Sungai Tuntungan bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Sungai
Air permukaan terdiri dari air sungai dan air danau. Air sungai adalah air hujan yang jatuh ke permukaan bumi dan mengalir melewati daerah aliran sungai. Daerah aliran sungai merupakan daerah yang dianggap sebagai wilayah dari suatu titik tertentu pada suatu sungai dan dipisahkan dari daerah aliran sungai sebelahnya oleh suatu pembagi atau punggung bukit yang dapat ditelusuri pada peta topografi. Air danau adalah air permukaan berasal dari air hujan atau air tanah yang keluar ke permukaan tanah dan terkumpul pada suatu titik yang relatif rendah dan cekung (Abditya, 2010).
UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dinyatakan bahwa sungai merupakan salah satu bentuk alur air permukaan yang harus dikelola secara menyeluruh, terpadu berwawasan lingkungan hidup dengan mewujudkan kemanfaatan sumberdaya air yang berkelanjutan untuk sebesar–besarnya kemakmuran rakyat. Berdasarkan hal tersebut, sungai harus dilindungi dan dijaga kelestariannya, ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya, dan dikendalikan dampak negatif terhadap lingkungannya (Nisa dkk., 2015).
Sungai adalah massa air yang secara alami mengalir melalui suatu lembah. Kebanyakan mengalir di permukaan bumi ke tempat yang lebih rendah, sebagian meresap di bawah permukaan tanah. Alirannya tidak tetap, kadang deras, kadang lambat, tergantung kemiringan sungai. Alirannya mengikuti saluran tertentu yang di kanan kirinya dibatasi oleh tebing yang curam. Debit air sungai adalah jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu (sungai, saluran, mata air) persatuan waktu (L/s) (Sumantry, 2012).
Hal-hal yang berkaitan dengan morfologi sungai, antara lain dataran banjir (flood plain), pembentukan delta, bentuk sungai dan klasifikasi sungai (sungai lurus, sungai berselampit/braided, dan sungai bermeander). Sungai bermeander terdiri atas lengkungan sungai yang membentuk huruf S. Sungai yang alinyemen memanjangnya terdiri atas bentuk-bentuk lengkungan yang belum ditentukan oleh variasi alam tetrain yang dilewati sungai tersebut (Hutabarat, 2015).
Perairan sungai merupakan tempat yang memiliki peran penting bagi makhluk hidup. Keberadaan ekosistem sungai dapat memberikan manfaat bagi makhluk hidup, baik yang hidup di dalam sungai maupun yang ada di sekitarnya. Kegiatan manusia sebagai bentuk kegiatan pembangunan akan berdampak pada perairan sungai. Adanya kegiatan manusia dan industri yang memanfaatkan sungai sebagai tempat untuk membuang limbah. Hal tersebut akan berdampak pada penurunan kualitas air, yaitu dengan adanya perubahan kondisi fisika, kimia, dan biologi. Kondisi sungai yang tercemar tidak dapat digunakan untuk kegiatan perikanan (Suparjo, 2009).
Sungai merupakan perairan mengalir (lotik) yang dicirikan oleh arus yang searah dan relatif kencang, dengan kecepatan berkisar 0,1 – 1,0 m/detik, serta sangat dipengaruhi oleh waktu, iklim, bentang alam (topografi dan kemiringan), jenis batuan dasar, dan curah hujan. Semakin tinggi tingkat kemiringan, maka semakin besar ukuran batuan dasar dan semakin banyak curah hujan, maka pergerakan air semakin kuat dan kecepatan arus semakin cepat. Sungai bagian hulu dicirikan dengan badan sungai yang dangkal dan sempit, tebing curam dan tinggi, berair jernih dan mengalir cepat. Sungai sebagai penampung dan penyalur air yang datang dari daerah hulu atas, akan sangat terpengaruh oleh tata guna lahan dan luasnya daerah aliran sungai sehingga pengaruhnya akan terlihat pada kualitas air sungai (Nisa dkk., 2015).
Sungai merupakan suatu wilayah ekosistem terbuka yang akan selalu mendapat buangan limbah dari berbagai aktivitas manusia di sekitarnya. Limbah yang masuk ke dalam sungai dapat menyebabkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia, dan mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas air serta akan berdampak negatif bagi organisme yang hidup di dalamnya (Shoalihat, 2015).
Morfologi sungai adalah ilmu yang mempelajari sifat, jenis dan perilaku sungai dengan semua aspek perubahannya dalam dimensi ruang dan waktu. Gejala morfologi yang mempengaruhi sungai adalah: Keadaan daerah aliran sungai, yang meliputi unsur topografi, vegetasi, geologi tanah dan penggunaan tanah yang berpengaruh terhadap koefisien rembesan pengaliran, sifat curah hujan serta keadaan hidrologi; Hidrologi di palung sungai; Material dasar saluran, tebing serta berubahnya alur aliran; Aktivitas manusia diantaranya dibangunnya prasarana air, pengambilan material dasar sungai, tebing sungai dan bantaran sungai, serta pembuangan material dan sampah ke sungai (Hutabarat, 2015).
Ekosistem sungai dibagi menjadi beberapa zona, yakni zona Krenal (mata air) yang umumnya terdapat di daerah hulu, zona Rithral, dan zona Potamal. Zona Krenal dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Rheokrenal (mata air yang berbentuk air terjun biasanya terdapat pada tebing-tebing yang curam), Limnokrenal (mata air yang berbentuk genangan air yang membentuk aliran sungai kecil), dan Helokrenal (mata air yang membentuk rawa-rawa). Aliran dari beberapa mata air akan membentuk aliran sungai di daerah pegunungan yang disebut zona Rithral, ditandai dengan relief aliran sungai yang terjal. Zona Rithral dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Epirithral (bagian paling hulu), Metarithral (bagian tengan dari zona Rithral), dan zona Hyporithral (bagian akhir dari zona Rithral). Setelah melewati zona Hyporithral, aliran sungai akan memasuki zona Potamal, yaitu aliran sungai pada daerah yang reliefnya lebih landai dibandingkan zona Rithral. Zona Potamal juga dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Epipotamal (bagian atas dari zona Potamal), Metapotamal (bagian tengah), dan Hipopotamal (bagian akhir dari zona Potamal) (Sugiharyanto, 2012).
Pola aliran sungai secara tidak langsung menunjukan karakteristik material bahan induk, seperti permeabilitas, struktur geologi, dan kemudahannya mengalami erosi. Pola aliran sungai sejajar (parallel) pada umumnya dijumpai pada DAS yang berada pada daerah dengan struktur patahan. Pola aliran dalam DAS dapat digolongkan menjadi: Dendritik, umumnya terdapat pada daerah dengan batuan sejenis dan penyebarannya luas, misalnya daerah yang ditutupi oleh endapan sedimen yang luas dan terletak pada suatu bidang horizontal di daerah dataran rendah; Radial, biasanya dijumpai di daerah lereng gunung api atau daerah dengan topografi berbentuk kubah; Rektangular, terdapat di daerah batuan kapur; Trellis, biasanya dijumpai pada daerah dengan lapisan sedimen di daerah pegunungan lipatan; Kombinasi dendritik dan trellis, dapat dijumpai pada rangkaian pegunungan yang sejajar dan terdapat pada batuan struktural terlipat dengan tekstur halus sampai sedang (Rahayu dkk., 2009).
Debit adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam sistem satuan SI, besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/s). Dalam laporan-laporan teknis, debit aliran biasanya ditunjukkan dalam bentuk hidrograf aliran. Hidrograf aliran adalah suatu perilaku debit sebagai respon adanya perubahan karakteristik biogeofisik yang berlangsung dalam suatu DAS (oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS) dan atau adanya perubahan (fluktuasi musiman atau tahunan) iklim lokal (Hutabarat, 2015).
Air permukaan yang biasanya dimanfaatkan sebagai sumber penyediaan air bersih adalah: Air waduk (berasal dari air hujan dan air sungai); Air sungai (berasal dari air hujan dan mata air); Air danau (berasal dari air hujan, air sungai atau mata air). Pada umumnya, air permukaan telah terkontaminasi oleh zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan sehingga memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat dikonsumsi oleh masyarakat (Abditya, 2010).
Morfometri Sungai
Morfometri DAS merupakan ukuran kuantitatif karakteristik DAS yang terkait dengan aspek geomorfologi suatu daerah. Karakteristik ini terkait dengan proses pengatusan (drainase) air hujan yang jatuh di dalam DAS. Parameter tersebut adalah luas DAS, bentuk DAS, jaringan sungai, kerapatan aliran, pola aliran, dan gradien kecuraman sungai (Rahayu dkk., 2009).
Morfometri menjelaskan tentang karakteristik fisik badan perairan dan menggambarkan berbagai potensinya serta kepekaan terhadap pengaruh beban material dari daerah tangkapannya. Morfometri memainkan peran penting dalam proses biologis dan kimia perairan. Morfometri juga mengatur muatan hara, produksi primer, dan produksi sekunder zooplankton, zoobenthos, dan ikan. Sementara itu, paramater fisika-kimia perairan menjelaskan karakteristik perairan yang terkandung dalam suatu perairan. Kualitas air yang baik sangat penting untuk mendukung kehidupan biota air. Kondisi kualitas air menentukan ketersediaan pakan alami bagi ikan, seperti plankton, benthos, dan tumbuhan air (Muhtadi dkk., 2016).
DAS merupakan tempat pengumpulan presipitasi ke suatu sistem sungai. Luas daerah aliran dapat diperkirakan dengan mengukur daerah tersebut pada peta topografi. Bentuk DAS mempengaruhi waktu konsentrasi air hujan yang mengalir menuju outlet. Semakin bulat bentuk DAS, berarti semakin singkat waktu konsentrasi yang diperlukan sehingga semakin tinggi fluktuasi banjir yang terjadi. Sebaliknya, semakin lonjong bentuk DAS, waktu konsentrasi yang diperlukan semakin lama sehingga fluktuasi banjir semakin rendah. Bentuk DAS secara kuantitatif dapat diperkirakan dengan menggunakan nilai nisbah memanjang (elongation ratio/Re) dan kebulatan (circularity ratio/Rc) (Rahayu dkk., 2009).
Diperlukan suatu metode dalam penentuan batas DAS yang cepat, otomatis, dan terintegrasi dengan data DAS lainnya, serta diperolehnya data lain morfometri DAS. Dengan ketersediaan model elevasi permukaan bumi digital atau Digital Surface Model (DSM) dan Sistem Informasi Geografis (SIG), sifat DAS dapat diekstraksi dengan menggunakan prosedur otomatis. Data DEM memiliki kegunaan untuk menentukan feature dari terrain, seperti drainase basin dan DAS, jaringan drainase maupun kanal atau saluran (Purwanto, 2013).
Menurut Rahayu dkk., (2009) perhitungan Elongation ratio dapat dihitung dengan rumus:
Di mana:
Re        = Faktor bentuk
A         = Luas DAS (km2)
Lb        = Panjang sungai utama (km)
Sedangkan perhitungan Circularity ratio dapat dihitung dengan rumus:
Di mana:
Rc        = Faktor bentuk
A         = Luas DAS (km2)
P          = Keliling (perimeter) DAS (km)
Menurut Purwanto (2013) panjang DAS adalah sama dengan jarak datar dari muara sungai ke arah hulu sepanjang sungai induk. Sedangkan lebar DAS adalah perbandingan antara luas DAS dengan panjang sungai induk. Lebar DAS tidak dapat ditentukan dengan pengukuran langsung, tetapi dengan meggunakan rumus:
Di mana:
W        = Lebar DAS (km)
A         = Luas DAS (km2)
Lb        = Panjang sungai utama (km)
Menurut Rahayu dkk., (2009) gradien atau kemiringan sungai merupakan perbandingan beda tinggi antara hulu dengan hilir dan panjang sungai induk. Kemiringan alur sungai merupakan parameter dimensional yang menggambarkan besarnya penurunn rerata tiap satuan jarak horizontal tertentu pada saluran sungai utama. Gradien sungai dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Di mana:
Su        = Kemiringan alur sungai utama
h10          = Ketinggian titik yang terletak pada jarak 0.10 Lb
h85        = Ketinggian titik yang terletak pada jarak 0.85 Lb
Lb        = Panjang alur sungai utama
Kualitas Air Sungai
Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air diatur oleh pemerintah dalam PP No. 82 Tahun 2001 Pasal 8 ayat (1) Pembagian kelas ini didasarkan pada peringkat (gradasi) tingkatan baiknya mutu air, dan kemungkinan kegunannya. Tingkatan mutu air Kelas Satu merupakan tingkatan yang terbaik. Secara relatif, tingkatan mutu air Kelas Satu lebih baik dari Kelas Dua, dan selanjutnya. Tingkatan mutu air dari setiap kelas disusun berdasarkan kemungkinan kegunaanya bagi suatu peruntukan air (designated beneficial water uses). Air baku air minum adalah air yang dapat diolah menjadi air yang layak sebagai air minum dengan pengolahan secara sederhana dengan cara difiltrasi, disinfeksi, dan dididihkan (Silalahi, 2009).
Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu. Dalam penelitian ini, kualitas air diukur berdasarkan parameter fisika dan kimia. Parameter fisika merupakan kondisi fisik perairan yang dijadikan sebagai indikator kualitas air. Dalam penelitian ini parameter fisika yang diukur adalah suhu, intensitas cahaya, dan kecerahan. Parameter kimia merupakan kondisi kimia suatu perairan yang dijadikan sebagai indikator kualitas air. Dalam penelitian ini parameter kimia yang diukur diantaranya pH, DO, BOD, dan NO3 (Ramadani, 2014).
Klasifikasi mutu air merupakan pendekatan untuk menetapkan kriteria mutu air dari tiap kelas, yang akan menjadi dasar untuk penetapan baku mutu air. Setiap kelas air mempersyaratkan mutu air yang dinilai masih layak untuk dimanfaatkan bagi peruntukan tertentu. Peruntukan lain yang dimaksud, misalnya kegunaan air untuk proses industri, kegiatan penambangan, dan pembangkit tenaga listrik, asalkan kegunaan tersebut dapat menggunakan air dengan mutu air sebagaimana kriteria mutu air dari kelas air yang dimaksud (Silalahi, 2009).
Pengukuran Kualitas Air Sungai
Intensitas cahaya matahari mempengaruhi produktivitas primer. Hasil perubahan energi cahaya matahari menjadi energi kimia dapat diperoleh melalui proses fotosintesis oleh tumbuhan hijau. Proses fotosintesa sangat tergantung pada intensitas cahaya matahari, konsentrasi CO2, oksigen terlarut, dan temperatur perairan. Oleh karena itu, tumbuhan hijau sangat tergantung pada kecerahan suatu perairan karena mempengaruhi proses fotosintesis (Fitra, 2008).
Faktor cahaya matahari yang masuk ke dalam air akan mempengaruhi sifat-sifat optis dari air. Sebagian cahaya matahari tersebut akan diabsorbsi dan sebagian lagi akan dipantulkan keluar dari permukaan air. Dengan bertambahnya lapisan air, intensitas cahaya tersebut akan mengalami perubahan yang signifikan, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Cahaya gelombang pendek merupakan yang paling kuat mengalami pembiasan yang mengakibatkan kolam air yang jernih akan terlihat berwarna biru dari permukaan (Silalahi, 2009).
Kekeruhan/kecerahan air dapat disebabkan oleh adanya bahan-bahan organik dan ananorganik yang tersuspensi dalam kolam air maupun yang terlarut, sedangkan kecerahan adalah kemampuan cahaya matahari menembuh kolam air. Dengan demikian semakin keruh air, akan semakin rendah kecerahan airnya. Secara langsung kecerahan/kekeruhan air ini tidak besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan yang dibudidayakan, namun air kolam yang keruh akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dalam air sehingga proses fotosintesis akan terhambat. Di samping itu air keruh yang disebabkan oleh adanya bahan-bahan anorganik yang tersuspensi, ikan akan lebih mudah dapat ditangkap dan sealiknya pemupukan kolam akan kurang berhasil (Parlaungan, 1996).
Kekeruhan air disebabkan adanya partikel-partikel debu, tanah liat, pragmen tumbuh-tumbuhan, dan plankton dalam air. Dengan keruhnya air, maka penetrasi cahaya ke dalam air akan berkurang sehingga penyebaran organisme berhijau daun tidak begitu dalam karena proses fotosintesis tidak dapat berlangsung. Prinsip penentuan kecerahan air dapat dilakukan dengan menggunakan keping Secchi, yaitu berupa suatu kepingan yang berwarna hitam putih dengan diameter 25 cm yang terbuat dari plat logam dengan ketebalan sekitar 3 mm (Silalahi, 2009).
Metode cepat untuk mengukur kekeruhan di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan Secchi disc atau piringan yang berwarna hitam putih. Secchi disc ini digunakan sebagai tanda batas pandangan mata pengamat ke dalam air, semakin keruh air, maka batas penglihatan mata semakin dangkal. Alat yang diperlukan untuk mengukur kekeruhan adalah: Tabung transparan, dengan tinggi 45 cm, tabung dapat dibuat dari dua buah botol air kemasan ukuran 600 ml yang disatukan; Secchi disc, dibuat dari kayu berbentuk lingkaran dengan diameter 25 cm, diberi warna hitam dan putih, kemudian diberi tongkat sepanjang 35 cm (Rahayu dkk., 2009).
Penentuan debit sungai dapat dilaksanakan dengan pengukuran aliran dan analisis. Pelaksanaan pengukuran debit sungai dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung, yaitu dengan melakukan pendataan terhadap parameter alur sungai dan tanda bekas banjir. Debit akan tergantung pada luas penampang aliran dan kecepatan aliran rerata. Pendekatan nilai debit dapat dilakukan dengan mengukur penampang aliran dan kecepatan aliran tersebut. Cara ini merupakan prosedur umum dalam pengukuran debit sungai secara langsung. Pengukuran luas penampang aliran dilakukan dengan mengukur tinggi muka air dan lebar dasar alur sungai. Kecepatan aliran biasanya diukur dengan menggunakan current meter (alat ukur kecepatan aliran yang berbentuk propeler), Velocity Head Rod, atau dengan bangunan pengukur debit aliran (Hutabarat, 2015).



METODOLOGI
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 09 Oktober 2016 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai di Sungai Tuntungan, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Medan Tuntungan.
Alat dan Bahan Praktikum
Alat yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu: secchi disk yang digunakan untuk mengukur kecerahan, bola duga yang digunakan untuk mengukur kecepatan arus sungai, tongkat bervolume yang digunakan untuk mengukur kedalaman, kompas bidik yang digunakan untuk menentukan sudut yang dibentuk, tali berskala yang digunakan untuk mengukur lebar sungai, stopwatch yang digunakan untuk menghitung waktu atau durasi yang dibutuhkan, kamera yang digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan praktikum, alat tulis yang digunakan untuk mencatat hasil yang diperoleh dari praktikum, milimeter block yang digunakan untuk mencatat hasil yang diperoleh dari morfometri sungai, kertas kalkir yang digunakan untuk menggambarkan hasil yang dibuat di milimeter block.
Prosedur Praktikum
a.         Prosedur dalam pengukuran lebar sungai, yaitu:
1.        Alat yang dibutuhkan dalam praktikum disediakan.
2.        Tali berskala dibentang secara ketat selebar sungai.
3.        Kompas bidik disiapkan pada salah satu ujung tali berskala.
4.        Hasil yang ditunjukkan kompas bidik dicatat.
5.        Salah satu ujung tali berskala digeser 1 meter ke kanan.
6.        Hasil yang ditunjukkan kompas bidik dicatat.
7.        Pita yang terdapat pada tali berskala dihitung jumlahnya.
8.        Lakukan hal yang sama hingga jarak 3 meter.
9.        Setelah diperoleh hasil perhitungan dengan jarak 3 meter, lakukan hal yang sama pada ujung yang berlawanan.
10.    Semua hasil yang diperoleh dicatat.
11.    Hasil yang diperoleh dari seluruh kelompok disatukan dan dijumlahkan hasilnya sehingga diperoleh ukuran lebar sungai.
b.        Prosedur dalam pengukuran kedalaman, yaitu:
1.        Alat yang dibutuhkan dalam praktikum disediakan.
2.        Tongkat bervolume dimasukkan ke dalam sungai hingga menyentuh substrat.
3.        Kemudian hasil yang ditunjukkan tongkat bervolume dicatat sehingga diperoleh kedalaman sungai.
c.         Prosedur dalam pengukuran kecerahan, yaitu:
1.        Alat yang dibutuhkan dalam praktikum disediakan.
2.        Secchi disk dimasukkan ke dalam air hingga tidak terlihat perbedaan warnanya.
3.        Tongkat bervolume dimasukkan ke dalam sungai hingga batas ketinggian Secchi disk.
4.        Hasil yang ditunjukkan Secchi disk dan tongkat bervolume kemudian dicatat.
5.        Secchi disk diangkat perlahan hingga batas tampak perbedaan warnanya.
6.        Tongkat bervolume dimasukkan ke dalam sungai hingga batas ketinggian Secchi disk.
7.        Hasil yang ditunjukkan Secchi disk dan tongkat bervolume kemudian dicatat.
8.        Kemudian hasilnya ditentukan dengan menggunakan rumus:
Kecerahan (H) = H0 + H1
 2
Di mana:
H         = Kecerahan rata-rata (m)
H0        = Kecerahan mula-mula (m)
H1        = Kecerahan akhir (m)
d.        Prosedur dalam pengukuran kecepatan arus sungai, yaitu:
1.        Alat yang dibutuhkan dalam praktikum disediakan.
2.        Bola duga dijatuhkan bersamaan dengan dimulainya stopwatch.
3.        Setelah tali tegang, hasil yang ditunjukkan stopwatch dicatat.
4.        Kemudian hasilnya ditentukan dengan membagikan panjang tali dengan waktu yang ditempuh sehingga diperoleh nilai kecepatan arusnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil yang diperoleh dari praktikum ini, yaitu:
Tabel 1. Pengukuran Kedalaman, Kecerahan, dan Kecepatan Arus

Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Kedalaman
89 cm
82 cm
18 cm
Kecerahan
49,75 cm
49,75 cm
49,75 cm
Kecepatan Arus
1,708 m/s
0,968 m/s
0,418 m/s

Tabel 2. Pengukuran Lebar dan Sudut Sungai

Pengukuran I
Pengukuran II

Panjang
Sudut
Panjang
Sudut
Data I
7,3 m
2730 ke Barat
8 m
850 ke Timur
8,15 m
2750 ke Barat
8,5 m
780 ke Timur
8,85 m
2800 ke Barat
9 m
660 ke Timur
Data II
11,2 m
2700 ke Barat
11,5 m
900 ke Timur
11,6 m
2810 ke Barat
12,2 m
700 ke Timur
13,2 m
3010 ke Barat
12,7 m
550 ke Timur
Data III
9 m
272, 920 ke Barat
9,2 m
900 ke Timur
9,5 m
280,100 ke Barat
9,5 m
800 ke Timur
9,65 m
286,10 ke Barat
10 m
750 ke Timur

Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh bahwa Sungai Tuntungan memiliki morfologi yang berbentuk lurus tidak berbentuk lengkungan yang membentuk huruf S. Hal ini sesuai dengan Hutabarat (2015) yang menyatakan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan morfologi sungai, antara lain dataran banjir (flood plain), pembentukan delta, bentuk sungai dan klasifikasi sungai (sungai lurus, sungai berselampit/braided, dan sungai bermeander). Sungai bermeander terdiri atas lengkungan sungai yang membentuk huruf S. Sungai yang alinyemen memanjangnya terdiri atas bentuk-bentuk lengkungan yang belum ditentukan oleh variasi alam tetrain yang dilewati sungai tersebut.
Kualitas air Sungai Tuntungan berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum yang dikaitkan dengan parameter fisika dan kimia yaitu tergolong ke dalam air yang tidak tercemar. Hal ini sesuai dengan Ramadani (2014) yang menyatakan bahwa kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu. Dalam penelitian ini, kualitas air diukur berdasarkan parameter fisika dan kimia. Parameter fisika merupakan kondisi fisik perairan yang dijadikan sebagai indikator kualitas air. Dalam penelitian ini parameter fisika yang diukur adalah suhu, intensitas cahaya, dan kecerahan. Parameter kimia merupakan kondisi kimia suatu perairan yang dijadikan sebagai indikator kualitas air.
Data sudut yang diperoleh berdasarkan pada praktikum yang dilakukan di Sungai Tuntungan menggunakan kompas bidik dapat menggambarkan bentuk sungai tersebut. Hal ini sesuai Yusuf dkk (2011) yang menyatakan bahwa prinsip penggunan kompas yaitu kompas di arahkan dengan baik pada arah titik yang dituju kemudian lihat angka dan perpindahan jarum kompas yang bergerak.
Berdasarkan pengukuran kekuruhan menggunakan alat secchi disk di Sungai tuntungan dapat diperoleh bahwa perairan tersebut memiliki kualitas air yang tidak keruh. Hal ini sesuai dengan Silalahi (2009) yang menyatakan bahwa prinsip penentuan kecerahan air dapat dilakukan dengan menggunakan keping Secchi, yaitu berupa suatu kepingan yang berwarna hitam putih dengan diameter 25 cm yang terbuat dari plat logam dengan ketebalan sekitar 3 mm.
Kecepatan arus yang diukur menggunakan bola duga di Sungai Tuntungan pada stasiun 1 = 1,708 m/s, stasiun 2 = 0,968 m/s, dan stasiun 3 = 0,41 m/s. Kecepatan arus rerata di Sungai Tuntungan tidak terlalu kuat. Hal ini sesuai dengan Yusud dkk (2011) yang menyatakan bahwa kondisi pola arus (arah dan kecepatan), bola duga dengan satuan m/d mengukur kecepatan arus. Prinsip penggunaannya, yaitu bola yang diisi pemberat dan diikat dengan tali sepanjang 3 meter dijatuhkan perlahan pada aliran arus yang deras, sedang, dan lemah sambil dipegang talinya kemudian hitung kecepatan bola tersebut hingga panjang tali tersebut habis. Setelah itu, hasil yang diperoleh kemudian dicari rerata kecepatan arusnya. Teknik pengukuran kecepatan arus dapat dilakukan dengan pendekatan Lagrangian dan Eulerian. Pendekatan Lagrangian dilakukan dengan pengamatan gerakan massa air permukaan dalam rentang waktu tertentu menggunakan pelampung, sedangkan pendekatan Eulerian dilakukan dengan pengamatan arus.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan dari Praktikum Limnologi ini, yaitu sebagai berikut:
1.     Morfometri Sungai Tuntungan, yaitu sungai berbentuk lurus, memiliki kedalaman rerata = 63 cm, memiiki kecerahan = 49,75 cm, dan memiliki kecepatan arus rerata = 3,094 m/s.
2.     Kualitas air Sungai Tuntungan berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum, yaitu tergolong ke dalam air yang tidak tercemar karena berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum, nilai parameter fisika-kimia tidak melewati standar baku.
3.     Pengukuran kecerahan menggunakan Secchi disk, yaitu dengan memasukkan Secchi disk ke dalam sungai secara perlahan hingga batas tak tampak perbedaan warnanya, lalu catat kedalaman yang diperoleh, kemudian angkat Secchi disk secara perlahan hingga batas tampak perbedaan warnanya, lalu catat kedalaman yang diperoleh, kemudian tentukan hasilnya dengan menggunakan rumus.
Saran
Saran untuk Praktikum Limnologi ini, yaitu sebaiknya lebih berhati-hati lagi ketika sedang melaksanakan kegiatan praktikum, baik para praktikan maupun para asisten yang sedang berada di laboratorium.








DAFTAR PUSTAKA
Abbas, A. A. 2014. Biodiversitas Gastropoda Epifauna di Kawasan Mangrove Pantai Desa Bontolebang, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Abditya, H. 2010. Analisis Biaya Uji Kualitas Air Sumur. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Dini, S. 2011. Evaluasi Kualitas Air Sungai Ciliwung di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Tahun 2000-2010. Universitas Indonesia, Depok.

Erlina, A., A. Hartoko dan Suminto. 2007. Kualitas Perairan di Sekitar BBPBAP Jepara Ditinjau dari Aspek Produktivitas Primer Sebagai Landasan Operasional Pengembangan Budidaya Udang dan Ikan. Jurnal Pasir Laut. 2 (2): 1-17.

Fitra, E. 2008. Analisis Kualitas Air dan Hubungannya dengan Keanekaragaman Vegetasi Akuatik di Perairan Parapat Danau Toba. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Hutabarat, Y. R. 2015. Kajian Sedimentasi dan Hubungannya dengan Debit Sungai pada Musim Kemarau di Areal Perkebunan Kelapa Sawit PTP. Nusantara IV Pabatu. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Latif, M. A. A. 2012. Studi Kuantitas dan Kualitas Air Sungai Tallo Sebagai Sumber Air Baku. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Lewa, R. T., O. Komala, S. Y. S. Rahayu. 2012. Kualitas Air Sungai Ciliwung di Kota Bogor. Universitas Pakuan, Bogor.

Muhtadi, A., Yunasfi, R. Leidonald, S. D. Sandy, A. Junaidy dan A. T. Daulay. 2016. Status Limnologis Danau Siombak, Medan, Sumatera Utara. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. 1 (1): 39-55.

Nisa, K., Z. Nasution dan K. E. L. Ramija. 2015. Studi Kualitas Perairan Sebagai Alternatif Pengembangan Budidaya Ikan di Sungai Keureuto Kecamatan Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Parlaungan, Y. 1996. Kualitas Air dan Hubungannya dengan Penyakit Ikan Air Tawar. Bakorluh Provinsi Riau, Riau.

Purwanto, T. H. 2013. Ekstraksi Morfometri Daerah Aliran Sungai dari Data Digital Surface Model (Studi Kasus DAS Opak). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rahayu, S., R. H. Widodo, M. V. Noordwijk, I. Suryadi dan B. Verbist. 2009. Monitoring Air di Daerah Aliran Sungai. World Agroforestry Centre-Southeast Asia Regional Office: ISBN: 979-3198-45-3.

Ramadani, A. P. 2014. Analisis Korelasi Kualitas Air Berdasarkan Parameter Fisika Kimia dengan Keanekaragaman Fitoplankton di Perairan Pelabuhan Teluk Nibung Kecamatan Tanjung Balai. Universitas Negeri Medan, Medan.

Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan. Jurnal Oseana. 30 (3): 21-26: ISSN: 0216-1877.

Shoalihat, F. 2015. Pengujian Kualitas Air Sungai dengan Indikator Larva Ephemeroptera, Plecoptera, dan Trichoptera di Sungai Gajah Wong D. I. Yogyakarta. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Silalahi, J. 2009. Analisis Kualitas Air dan Hubungannya dengan Keanekaragaman Vegetasi Akuatik di Perairan Balige Danau Toba. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sugiharyanto. 2012. Pengelolaan Sungai Opak Untuk Pertanian Pasca Erupsi Gunung Merapi Tahun 2010. Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.

Sumantry, T. 2012. Pengukuran Debit dan Kualitas Air Sungai Cisalak pada Tahun 2012. Jurnal Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012: ISSN: 0852-2979.

Suparjo, M. N. 2009. Kondisi Pencemaran Perairan Sungai Babon Semarang. Jurnal Saintek Perikanan. 4 (2): 38-45.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar