MORFOMETRI
SUNGAI TUNTUNGAN DI KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN KABUPATEN DELI SERDANG
Oleh:
Reni Zulika Sinaga/150302032
Manajemen Sumberdaya Perairan
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Indonesia mempunyai
perairan yang lebih luas dari daratan. Oleh karena itu, Indonesia dikenal
sebagai negara maritim. Perairan Indonesia, baik perairan tawar, payau, maupun
laut kaya akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna. Demikian luas serta
beragam jasad–jasad yang hidup di dalam perairan yang kesemuanya membentuk
dinamika kehidupan yang saling berkesinambungan. Perairan Indonesia dikenal kaya
akan sumberdaya hayati yang beraneka ragam, seperti alga, lamun, dan mangrove (Abbas, 2014).
Air adalah zat yang sangat
dibutuhkan oleh manusia. Komposisi tubuh manusia sebagian besar adalah air
(cairan), yaitu sekitar 60-70 %. Karena itu, air memegang peranan yang sangat
penting dalam segala aspek kehidupan dan tidak tergantikan. Air adalah materi
esensial dan tidak disintesakan. UU No.7 tahun 2004 tentang sumber daya air
Pasal 29 ayat 1 dan 2 menyatakan Penyediaan sumber daya air ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan akan air sesuai dengan kualitas dan kuantitas (Lewa dkk.,
2012).
Ekosistem air yang terdapat di daratan (inland water) secara umum dapat dibagi
2, yaitu perairan lentik (lentic water)
yang disebut sebagai perairan tenang, misalnya danau, rawa, waduk, situ, telaga,
dan sebagainya serta perairan lotik (lotic
water) yang disebut sebagai perairan berarus deras, misalnya sungai, kali,
kanal, parit, dan sebagainya. Perbedaan utama antara perairan lotik dan lentik
adalah dalam hal kecepatan arus air (Silalahi, 2009).
Klasifikasi mutu air menurut Peraturan
Pemerintah No. 82 tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air, dibagi menjadi empat kelas, yaitu: Kelas satu, air yang
peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan
lain yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; Kelas dua,
air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air,
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan
peruntukan lain yang syarat mutu air sama dengan kegunaan tersebut; Kelas tiga,
air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar,
peternakan, air yang sama dengan kegunaan tersebut; Kelas empat, air yang
peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan
lain yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut (Sumantry,
2012).
Berdasarkan peruntukannya, tentunya diharapkan
bahwa kualitas air yang ada di perairan tersebut masih dalam batas-batas toleransi.
Kriteria kualitas air, apakah masih layak untuk dimanfaatkan atau tidak, dalam
artian kualitas air digunakan untuk mengetahui apakah air itu cukup aman untuk dikonsumsi
atau dipergunakan untuk kegiatan tertentu ataupun air tersebut sudah tidak
layak untuk dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan (Latif, 2012).
Di alam bebas ini, tidak ada air yang
murni karena di dalam air yang murni (H2O) tidak ada suatu jenis
kehidupan pun. Setiap organisme yang hidup memerlukan udara dan zat hara
makanan untuk mempertahankan kehidupannya. Dengan demikian, agar organisme air dapat
hidup di seluruh perairan di bumi, perairan yang ada tentunya harus mengandung
berbagai mineral, bahan organik, dan anorganik lainnya, baik yang tersuspensi
maupun yang terlarut dalam air (Parlaungan, 1996).
Penurunan kualitas air akan menyebabkan
terjadinya perubahan ekologis pada perairan yang memberikan pengaruh terhadap
keanekaragaman organisme yang hidup di dalamnya. Keanekaragaman spesies dapat
dijadikan sebagai indikator kualitas air. Suatu komunitas dikatakan memiliki
keanekaragaman spesies yang tinggi bila terdapat banyak spesies dengan jumlah
individu masing-masing spesies relatif merata. Bila suatu komunitas hanya
terdiri dari sedikit spesies dengan jumlah individu yang tidak merata, maka
komunitas tersebut mempunyai keanekaragaman yang rendah dan itu menjadi
indikasi bahwa suatu perairan telah tercemar (Fitra, 2008).
Salah satu indikator penentu untuk mengetahui kualitas perairan yang memenuhi persyaratan tersebut adalah nilai produktivitas primer. Produktivitas primer adalah laju penyimpanan energi radiasi matahari oleh organisme produsen dalam bentuk bahan organik melalui proses fotosintesa oleh fitoplankton. Dalam tropik level suatu perairan, fitoplankton disebut sebagai produsen utama perairan (Erlina dkk., 2007).
Pencemaran air adalah
penambahan unsur atau
organisme laut kedalam air sehingga pemanfaatannya
dapat terganggu. Pencemaran air dapat
menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial
karena adanya gangguan oleh adanya zat-zat
beracun atau muatan bahan organik yang berlebih.
Keadaan ini akan menyebabkan oksigen
terlarut dalam air pada kondisi yang kritis atau merusak kadar kimia air.
Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air.
Besarnya beban pencemaran yang ditampung oleh suatu perairan, dapat
diperhitungkan berdasarkan jumlah polutan yang berasal dari berbagai sumber
aktifitas air buangan dari proses-proses industri dan buangan domestik yang
berasal dari penduduk (Salmin, 2005).
Kualitas sumber air dari sungai-sungai penting di Indonesia
umumnya tercemar amat sangat berat oleh limbah organik yang berasal dari limbah
rumah tangga, industri, dan pertanian. Menurut Agenda 21 Indonesia (1997)
Penyebaran penduduk yang tidak merata akan mengakibatkan terjadinya akumulasi
zat pencemar di daerah yang sangat padat penduduknya. Hal ini dapat
mengakibatkan terganggunya peruntukan kualitas air serta timbulnya wabah
penyakit akibat kurang baiknya sanitasi lingkungan. Selain itu, diketahui
penurunan kualitas air sungai tidak hanya terjadi di daerah hilir sungai,
tetapi telah merambah ke daerah hulu sungai sebagai akibat dari pemanfaatan
sungai yang tidak efektif, diantaranya sungai yang dijadikan sebagai jamban
keluarga (Dini, 2011).
Tujuan
Praktikum
Tujuan
dari Praktikum Limnologi ini adalah:
1.
Untuk mengetahui
morfometri Sungai Tuntungan.
2.
Untuk mengetahui
kualitas air Sungai Tuntungan.
3.
Untuk mengetahui cara
menggunakan secchi disk.
Manfaat
Praktikum
Manfaat
dari praktikum ini, yaitu sebagai salah satu syarat mengikuti Praktikum Limnologi
di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara, Medan serta sebagai sumber informasi tentang kualitas air
Sungai Tuntungan bagi pihak yang membutuhkan.
Pengertian
Sungai
Air permukaan terdiri dari air sungai
dan air danau. Air sungai adalah air hujan yang jatuh ke permukaan bumi dan
mengalir melewati daerah aliran sungai. Daerah aliran sungai merupakan daerah
yang dianggap sebagai wilayah dari suatu titik tertentu pada suatu sungai dan
dipisahkan dari daerah aliran sungai sebelahnya oleh suatu pembagi atau
punggung bukit yang dapat ditelusuri pada peta topografi. Air danau adalah air
permukaan berasal dari air hujan atau air tanah yang keluar ke permukaan tanah
dan terkumpul pada suatu titik yang relatif rendah dan cekung (Abditya, 2010).
UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air, dinyatakan bahwa sungai merupakan salah satu bentuk alur air permukaan
yang harus dikelola secara menyeluruh, terpadu berwawasan lingkungan hidup
dengan mewujudkan kemanfaatan sumberdaya air yang berkelanjutan untuk
sebesar–besarnya kemakmuran rakyat. Berdasarkan hal tersebut, sungai harus
dilindungi dan dijaga kelestariannya, ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya,
dan dikendalikan dampak negatif terhadap lingkungannya (Nisa dkk., 2015).
Sungai adalah massa air yang secara
alami mengalir melalui suatu lembah. Kebanyakan mengalir di permukaan bumi ke
tempat yang lebih rendah, sebagian meresap di bawah permukaan tanah. Alirannya
tidak tetap, kadang deras, kadang lambat, tergantung kemiringan sungai.
Alirannya mengikuti saluran tertentu yang di kanan kirinya dibatasi oleh tebing
yang curam. Debit air sungai adalah jumlah air yang mengalir dari suatu
penampang tertentu (sungai, saluran, mata air) persatuan waktu (L/s) (Sumantry,
2012).
Hal-hal yang berkaitan
dengan morfologi sungai, antara lain dataran banjir (flood plain),
pembentukan delta, bentuk sungai dan klasifikasi sungai (sungai lurus, sungai
berselampit/braided, dan sungai bermeander). Sungai bermeander terdiri
atas lengkungan sungai yang membentuk huruf S. Sungai yang alinyemen
memanjangnya terdiri atas bentuk-bentuk lengkungan yang belum ditentukan oleh
variasi alam tetrain yang dilewati sungai tersebut (Hutabarat, 2015).
Perairan sungai merupakan
tempat yang memiliki peran penting bagi makhluk hidup. Keberadaan ekosistem
sungai dapat memberikan manfaat bagi makhluk hidup, baik yang hidup di dalam
sungai maupun yang ada di sekitarnya. Kegiatan manusia sebagai bentuk kegiatan
pembangunan akan berdampak pada perairan sungai. Adanya kegiatan manusia dan
industri yang memanfaatkan sungai sebagai tempat untuk membuang limbah. Hal
tersebut akan berdampak pada penurunan kualitas air, yaitu dengan adanya
perubahan kondisi fisika, kimia, dan biologi. Kondisi sungai yang tercemar
tidak dapat digunakan untuk kegiatan perikanan (Suparjo, 2009).
Sungai merupakan perairan mengalir
(lotik) yang dicirikan oleh arus yang searah dan relatif kencang, dengan
kecepatan berkisar 0,1 – 1,0 m/detik, serta sangat dipengaruhi oleh waktu,
iklim, bentang alam (topografi dan kemiringan), jenis batuan dasar, dan curah
hujan. Semakin tinggi tingkat kemiringan, maka semakin besar ukuran batuan
dasar dan semakin banyak curah hujan, maka pergerakan air semakin kuat dan
kecepatan arus semakin cepat. Sungai bagian hulu dicirikan dengan badan sungai
yang dangkal dan sempit, tebing curam dan tinggi, berair jernih dan mengalir
cepat. Sungai sebagai penampung dan penyalur air yang datang dari daerah hulu
atas, akan sangat terpengaruh oleh tata guna lahan dan luasnya daerah aliran
sungai sehingga pengaruhnya akan terlihat pada kualitas air sungai (Nisa dkk.,
2015).
Sungai merupakan suatu wilayah ekosistem
terbuka yang akan selalu mendapat buangan limbah dari berbagai aktivitas
manusia di sekitarnya. Limbah yang masuk ke dalam sungai dapat menyebabkan
terjadinya perubahan faktor fisika, kimia, dan mengakibatkan terjadinya
penurunan kualitas air serta akan berdampak negatif bagi organisme yang hidup
di dalamnya (Shoalihat, 2015).
Morfologi sungai adalah ilmu
yang mempelajari sifat, jenis dan perilaku sungai dengan semua aspek
perubahannya dalam dimensi ruang dan waktu. Gejala morfologi yang mempengaruhi
sungai adalah: Keadaan daerah aliran sungai, yang meliputi unsur topografi,
vegetasi, geologi tanah dan penggunaan tanah yang berpengaruh terhadap
koefisien rembesan pengaliran, sifat curah hujan serta keadaan hidrologi;
Hidrologi di palung sungai; Material dasar saluran, tebing serta berubahnya
alur aliran; Aktivitas manusia diantaranya dibangunnya prasarana air, pengambilan
material dasar sungai, tebing sungai dan bantaran sungai, serta pembuangan
material dan sampah ke sungai (Hutabarat, 2015).
Ekosistem sungai dibagi menjadi beberapa
zona, yakni zona Krenal (mata air)
yang umumnya terdapat di daerah hulu, zona Rithral,
dan zona Potamal. Zona Krenal dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Rheokrenal (mata air yang berbentuk air
terjun biasanya terdapat pada tebing-tebing yang curam), Limnokrenal (mata air yang berbentuk genangan air yang membentuk
aliran sungai kecil), dan Helokrenal
(mata air yang membentuk rawa-rawa). Aliran dari beberapa mata air akan
membentuk aliran sungai di daerah pegunungan yang disebut zona Rithral, ditandai dengan relief aliran
sungai yang terjal. Zona Rithral
dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Epirithral
(bagian paling hulu), Metarithral
(bagian tengan dari zona Rithral),
dan zona Hyporithral (bagian akhir
dari zona Rithral). Setelah melewati
zona Hyporithral, aliran sungai akan
memasuki zona Potamal, yaitu aliran
sungai pada daerah yang reliefnya lebih landai dibandingkan zona Rithral. Zona Potamal juga dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Epipotamal (bagian atas dari zona Potamal), Metapotamal
(bagian tengah), dan Hipopotamal
(bagian akhir dari zona Potamal)
(Sugiharyanto, 2012).
Pola aliran sungai secara tidak langsung
menunjukan karakteristik material bahan induk, seperti permeabilitas, struktur
geologi, dan kemudahannya mengalami erosi. Pola aliran sungai sejajar
(parallel) pada umumnya dijumpai pada DAS yang berada pada daerah dengan struktur
patahan. Pola aliran dalam DAS dapat digolongkan menjadi: Dendritik, umumnya
terdapat pada daerah dengan batuan sejenis dan penyebarannya luas, misalnya
daerah yang ditutupi oleh endapan sedimen yang luas dan terletak pada suatu
bidang horizontal di daerah dataran rendah; Radial, biasanya dijumpai di daerah
lereng gunung api atau daerah dengan topografi berbentuk kubah; Rektangular, terdapat
di daerah batuan kapur; Trellis, biasanya dijumpai pada daerah dengan lapisan
sedimen di daerah pegunungan lipatan; Kombinasi dendritik dan trellis, dapat
dijumpai pada rangkaian pegunungan yang sejajar dan terdapat pada batuan
struktural terlipat dengan tekstur halus sampai sedang (Rahayu dkk., 2009).
Debit adalah laju aliran air (dalam
bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan
waktu. Dalam sistem satuan SI, besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter
kubik per detik (m3/s). Dalam laporan-laporan teknis, debit aliran
biasanya ditunjukkan dalam bentuk hidrograf aliran. Hidrograf aliran adalah
suatu perilaku debit sebagai respon adanya perubahan karakteristik biogeofisik
yang berlangsung dalam suatu DAS (oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS) dan
atau adanya perubahan (fluktuasi musiman atau tahunan) iklim lokal (Hutabarat,
2015).
Air
permukaan yang biasanya dimanfaatkan sebagai sumber penyediaan air bersih
adalah: Air waduk (berasal dari air hujan dan air sungai); Air sungai (berasal
dari air hujan dan mata air); Air danau (berasal dari air hujan, air sungai
atau mata air). Pada umumnya, air permukaan telah terkontaminasi oleh zat-zat
yang berbahaya bagi kesehatan sehingga memerlukan pengolahan terlebih dahulu
sebelum dapat dikonsumsi oleh masyarakat (Abditya, 2010).
Morfometri
Sungai
Morfometri DAS merupakan
ukuran kuantitatif karakteristik DAS yang terkait dengan aspek geomorfologi
suatu daerah. Karakteristik ini terkait dengan proses pengatusan (drainase) air
hujan yang jatuh di dalam DAS. Parameter tersebut adalah luas DAS, bentuk DAS,
jaringan sungai, kerapatan aliran, pola aliran, dan gradien kecuraman sungai
(Rahayu dkk., 2009).
Morfometri menjelaskan tentang
karakteristik fisik badan perairan dan menggambarkan berbagai potensinya serta
kepekaan terhadap pengaruh beban material dari daerah tangkapannya. Morfometri
memainkan peran penting dalam proses biologis dan kimia perairan. Morfometri
juga mengatur muatan hara, produksi primer, dan produksi sekunder zooplankton,
zoobenthos, dan ikan. Sementara itu, paramater fisika-kimia perairan
menjelaskan karakteristik perairan yang terkandung dalam suatu perairan.
Kualitas air yang baik sangat penting untuk mendukung kehidupan biota air.
Kondisi kualitas air menentukan ketersediaan pakan alami bagi ikan, seperti
plankton, benthos, dan tumbuhan air (Muhtadi dkk., 2016).
DAS merupakan tempat pengumpulan
presipitasi ke suatu sistem sungai. Luas daerah aliran dapat diperkirakan
dengan mengukur daerah tersebut pada peta topografi. Bentuk DAS mempengaruhi
waktu konsentrasi air hujan yang mengalir menuju outlet. Semakin bulat bentuk
DAS, berarti semakin singkat waktu konsentrasi yang diperlukan sehingga semakin
tinggi fluktuasi banjir yang terjadi. Sebaliknya, semakin lonjong bentuk DAS,
waktu konsentrasi yang diperlukan semakin lama sehingga fluktuasi banjir
semakin rendah. Bentuk DAS secara kuantitatif dapat diperkirakan dengan
menggunakan nilai nisbah memanjang (elongation
ratio/Re) dan kebulatan (circularity
ratio/Rc) (Rahayu dkk., 2009).
Diperlukan suatu metode dalam penentuan
batas DAS yang cepat, otomatis, dan terintegrasi dengan data DAS lainnya, serta
diperolehnya data lain morfometri DAS. Dengan ketersediaan model elevasi
permukaan bumi digital atau Digital
Surface Model (DSM) dan Sistem Informasi Geografis (SIG), sifat DAS dapat
diekstraksi dengan menggunakan prosedur otomatis. Data DEM memiliki kegunaan
untuk menentukan feature dari terrain, seperti drainase basin dan DAS,
jaringan drainase maupun kanal atau saluran (Purwanto, 2013).
Menurut Rahayu dkk., (2009) perhitungan Elongation ratio dapat dihitung dengan
rumus:

Di mana:
Re = Faktor bentuk
A = Luas DAS (km2)
Lb = Panjang sungai
utama (km)
Sedangkan perhitungan Circularity ratio dapat dihitung dengan
rumus:
Di mana:
Rc = Faktor bentuk
A = Luas DAS (km2)
P = Keliling (perimeter) DAS (km)
Menurut Purwanto (2013) panjang DAS adalah sama dengan jarak datar
dari muara sungai ke arah hulu sepanjang sungai induk. Sedangkan lebar DAS
adalah perbandingan antara luas DAS dengan panjang sungai induk. Lebar DAS
tidak dapat ditentukan dengan pengukuran langsung, tetapi dengan meggunakan
rumus:
Di mana:
W = Lebar DAS (km)
A = Luas DAS (km2)
Lb = Panjang sungai utama (km)
Menurut Rahayu dkk., (2009) gradien atau kemiringan sungai
merupakan perbandingan beda tinggi antara hulu dengan hilir dan panjang sungai
induk. Kemiringan alur sungai merupakan parameter dimensional yang
menggambarkan besarnya penurunn rerata tiap satuan jarak horizontal tertentu
pada saluran sungai utama. Gradien sungai dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
Di mana:
Su = Kemiringan alur sungai utama
h10 = Ketinggian titik yang terletak
pada jarak 0.10 Lb
h85 = Ketinggian titik yang terletak pada
jarak 0.85 Lb
Lb = Panjang alur
sungai utama
Kualitas
Air Sungai
Pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air diatur oleh pemerintah dalam PP No. 82 Tahun 2001
Pasal 8 ayat (1) Pembagian kelas ini didasarkan pada peringkat (gradasi)
tingkatan baiknya mutu air, dan kemungkinan kegunannya. Tingkatan mutu air
Kelas Satu merupakan tingkatan yang terbaik. Secara relatif, tingkatan mutu air
Kelas Satu lebih baik dari Kelas Dua, dan selanjutnya. Tingkatan mutu air dari
setiap kelas disusun berdasarkan kemungkinan kegunaanya bagi suatu peruntukan
air (designated beneficial water uses).
Air baku air minum adalah air yang dapat diolah menjadi air yang layak sebagai
air minum dengan pengolahan secara sederhana dengan cara difiltrasi,
disinfeksi, dan dididihkan (Silalahi, 2009).
Kualitas air secara umum menunjukkan
mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan
tertentu. Dalam penelitian ini, kualitas air diukur berdasarkan parameter
fisika dan kimia. Parameter fisika merupakan kondisi fisik perairan yang
dijadikan sebagai indikator kualitas air. Dalam penelitian ini parameter fisika
yang diukur adalah suhu, intensitas cahaya, dan kecerahan. Parameter kimia merupakan
kondisi kimia suatu perairan yang dijadikan sebagai indikator kualitas air.
Dalam penelitian ini parameter kimia yang diukur diantaranya pH, DO, BOD, dan
NO3 (Ramadani, 2014).
Klasifikasi
mutu air merupakan pendekatan untuk menetapkan kriteria mutu air dari tiap
kelas, yang akan menjadi dasar untuk penetapan baku mutu air. Setiap kelas air
mempersyaratkan mutu air yang dinilai masih layak untuk dimanfaatkan bagi
peruntukan tertentu. Peruntukan lain yang dimaksud, misalnya kegunaan air untuk
proses industri, kegiatan penambangan, dan pembangkit tenaga listrik, asalkan
kegunaan tersebut dapat menggunakan air dengan mutu air sebagaimana kriteria
mutu air dari kelas air yang dimaksud (Silalahi, 2009).
Pengukuran Kualitas Air
Sungai
Intensitas cahaya matahari mempengaruhi
produktivitas primer. Hasil perubahan energi cahaya matahari menjadi energi
kimia dapat diperoleh melalui proses fotosintesis oleh tumbuhan hijau. Proses
fotosintesa sangat tergantung pada intensitas cahaya matahari, konsentrasi CO2,
oksigen terlarut, dan temperatur perairan. Oleh karena itu, tumbuhan hijau
sangat tergantung pada kecerahan suatu perairan karena mempengaruhi proses
fotosintesis (Fitra, 2008).
Faktor cahaya matahari yang masuk ke
dalam air akan mempengaruhi sifat-sifat optis dari air. Sebagian cahaya
matahari tersebut akan diabsorbsi dan sebagian lagi akan dipantulkan keluar
dari permukaan air. Dengan bertambahnya lapisan air, intensitas cahaya tersebut
akan mengalami perubahan yang signifikan, baik secara kualitatif maupun secara
kuantitatif. Cahaya gelombang pendek merupakan yang paling kuat mengalami
pembiasan yang mengakibatkan kolam air yang jernih akan terlihat berwarna biru
dari permukaan (Silalahi, 2009).
Kekeruhan/kecerahan air dapat disebabkan
oleh adanya bahan-bahan organik dan ananorganik yang tersuspensi dalam kolam
air maupun yang terlarut, sedangkan kecerahan adalah kemampuan cahaya matahari
menembuh kolam air. Dengan demikian semakin keruh air, akan semakin rendah
kecerahan airnya. Secara langsung kecerahan/kekeruhan air ini tidak besar
pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan yang dibudidayakan, namun air kolam yang
keruh akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dalam air sehingga proses
fotosintesis akan terhambat. Di samping itu air keruh yang disebabkan oleh adanya
bahan-bahan anorganik yang tersuspensi, ikan akan lebih mudah dapat ditangkap
dan sealiknya pemupukan kolam akan kurang berhasil (Parlaungan, 1996).
Kekeruhan air disebabkan adanya
partikel-partikel debu, tanah liat, pragmen tumbuh-tumbuhan, dan plankton dalam
air. Dengan keruhnya air, maka penetrasi cahaya ke dalam air akan berkurang
sehingga penyebaran organisme berhijau daun tidak begitu dalam karena proses
fotosintesis tidak dapat berlangsung. Prinsip penentuan kecerahan air dapat
dilakukan dengan menggunakan keping Secchi, yaitu berupa suatu kepingan yang
berwarna hitam putih dengan diameter 25 cm yang terbuat dari plat logam dengan
ketebalan sekitar 3 mm (Silalahi, 2009).
Metode cepat untuk mengukur kekeruhan di
lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan Secchi
disc atau piringan yang berwarna hitam putih. Secchi disc ini digunakan sebagai tanda batas pandangan mata
pengamat ke dalam air, semakin keruh air, maka batas penglihatan mata semakin
dangkal. Alat yang diperlukan untuk mengukur kekeruhan adalah: Tabung
transparan, dengan tinggi 45 cm, tabung dapat dibuat dari dua buah botol air
kemasan ukuran 600 ml yang disatukan; Secchi
disc, dibuat dari kayu berbentuk lingkaran dengan diameter 25 cm, diberi
warna hitam dan putih, kemudian diberi tongkat sepanjang 35 cm (Rahayu dkk.,
2009).
Penentuan debit sungai dapat dilaksanakan
dengan pengukuran aliran dan analisis. Pelaksanaan pengukuran debit sungai
dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung, yaitu dengan melakukan
pendataan terhadap parameter alur sungai dan tanda bekas banjir. Debit akan
tergantung pada luas penampang aliran dan kecepatan aliran rerata. Pendekatan
nilai debit dapat dilakukan dengan mengukur penampang aliran dan kecepatan
aliran tersebut. Cara ini merupakan prosedur umum dalam pengukuran debit sungai
secara langsung. Pengukuran luas penampang aliran
dilakukan dengan mengukur tinggi muka air dan lebar dasar alur sungai. Kecepatan
aliran biasanya diukur dengan menggunakan current meter (alat ukur
kecepatan aliran yang berbentuk propeler), Velocity Head Rod, atau dengan bangunan pengukur
debit aliran (Hutabarat, 2015).
Waktu dan Tempat
Praktikum
Praktikum
ini dilaksanakan pada tanggal 09 Oktober 2016 pukul 08.00 WIB sampai dengan
selesai di Sungai Tuntungan, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Medan Tuntungan.
Alat dan Bahan
Praktikum
Alat
yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu: secchi
disk yang digunakan untuk mengukur kecerahan, bola duga yang digunakan
untuk mengukur kecepatan arus sungai, tongkat bervolume yang digunakan untuk
mengukur kedalaman, kompas bidik yang digunakan untuk menentukan sudut yang
dibentuk, tali berskala yang digunakan untuk mengukur lebar sungai, stopwatch yang digunakan untuk
menghitung waktu atau durasi yang dibutuhkan, kamera yang digunakan untuk
mendokumentasikan kegiatan praktikum, alat tulis yang digunakan untuk mencatat
hasil yang diperoleh dari praktikum, milimeter
block yang digunakan untuk mencatat hasil yang diperoleh dari morfometri
sungai, kertas kalkir yang digunakan untuk menggambarkan hasil yang dibuat di milimeter block.
Prosedur Praktikum
a.
Prosedur dalam
pengukuran lebar sungai, yaitu:
1.
Alat yang dibutuhkan
dalam praktikum disediakan.
2.
Tali berskala dibentang
secara ketat selebar sungai.
3.
Kompas bidik disiapkan
pada salah satu ujung tali berskala.
4.
Hasil yang ditunjukkan
kompas bidik dicatat.
5.
Salah satu ujung tali
berskala digeser 1 meter ke kanan.
6.
Hasil yang ditunjukkan
kompas bidik dicatat.
7.
Pita yang terdapat pada
tali berskala dihitung jumlahnya.
8.
Lakukan hal yang sama
hingga jarak 3 meter.
9.
Setelah diperoleh hasil
perhitungan dengan jarak 3 meter, lakukan hal yang sama pada ujung yang
berlawanan.
10. Semua
hasil yang diperoleh dicatat.
11. Hasil
yang diperoleh dari seluruh kelompok disatukan dan dijumlahkan hasilnya
sehingga diperoleh ukuran lebar sungai.
b.
Prosedur dalam
pengukuran kedalaman, yaitu:
1.
Alat yang dibutuhkan
dalam praktikum disediakan.
2.
Tongkat bervolume
dimasukkan ke dalam sungai hingga menyentuh substrat.
3.
Kemudian hasil yang
ditunjukkan tongkat bervolume dicatat sehingga diperoleh kedalaman sungai.
c.
Prosedur dalam
pengukuran kecerahan, yaitu:
1.
Alat yang dibutuhkan
dalam praktikum disediakan.
2.
Secchi
disk dimasukkan ke dalam air hingga tidak
terlihat perbedaan warnanya.
3.
Tongkat bervolume
dimasukkan ke dalam sungai hingga batas ketinggian Secchi disk.
4.
Hasil yang ditunjukkan Secchi disk dan tongkat bervolume kemudian
dicatat.
5.
Secchi
disk diangkat perlahan hingga batas tampak
perbedaan warnanya.
6.
Tongkat bervolume
dimasukkan ke dalam sungai hingga batas ketinggian Secchi disk.
7.
Hasil yang ditunjukkan Secchi disk dan tongkat bervolume kemudian
dicatat.
8.
Kemudian
hasilnya ditentukan dengan menggunakan rumus:
Kemudian
hasilnya ditentukan dengan menggunakan rumus:
Kecerahan
(H) = H0 + H1
Di
mana:
H = Kecerahan rata-rata (m)
H0 = Kecerahan mula-mula (m)
H1 = Kecerahan akhir (m)
d.
Prosedur dalam pengukuran
kecepatan arus sungai, yaitu:
1.
Alat yang dibutuhkan
dalam praktikum disediakan.
2.
Bola duga dijatuhkan
bersamaan dengan dimulainya stopwatch.
3.
Setelah tali tegang,
hasil yang ditunjukkan stopwatch
dicatat.
4.
Kemudian hasilnya
ditentukan dengan membagikan panjang tali dengan waktu yang ditempuh sehingga
diperoleh nilai kecepatan arusnya.
Hasil
Hasil yang diperoleh dari praktikum ini, yaitu:
Tabel 1.
Pengukuran Kedalaman, Kecerahan, dan Kecepatan Arus
|
|
Stasiun I
|
Stasiun II
|
Stasiun III
|
|
Kedalaman
|
89 cm
|
82 cm
|
18 cm
|
|
Kecerahan
|
49,75 cm
|
49,75 cm
|
49,75 cm
|
|
Kecepatan Arus
|
1,708 m/s
|
0,968 m/s
|
0,418 m/s
|
Tabel 2. Pengukuran Lebar dan Sudut Sungai
|
|
Pengukuran I
|
Pengukuran II
|
||
|
|
Panjang
|
Sudut
|
Panjang
|
Sudut
|
|
Data I
|
7,3 m
|
2730 ke Barat
|
8 m
|
850 ke Timur
|
|
8,15 m
|
2750 ke Barat
|
8,5 m
|
780 ke Timur
|
|
|
8,85 m
|
2800 ke Barat
|
9 m
|
660 ke Timur
|
|
|
Data II
|
11,2 m
|
2700 ke Barat
|
11,5 m
|
900 ke Timur
|
|
11,6 m
|
2810 ke Barat
|
12,2 m
|
700 ke Timur
|
|
|
13,2 m
|
3010 ke Barat
|
12,7 m
|
550 ke Timur
|
|
|
Data III
|
9 m
|
272, 920 ke Barat
|
9,2 m
|
900 ke Timur
|
|
9,5 m
|
280,100 ke Barat
|
9,5 m
|
800 ke Timur
|
|
|
9,65 m
|
286,10 ke Barat
|
10 m
|
750 ke Timur
|
|
Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh bahwa
Sungai Tuntungan memiliki morfologi yang berbentuk lurus tidak berbentuk
lengkungan yang membentuk huruf S. Hal ini sesuai dengan Hutabarat (2015) yang
menyatakan bahwa hal-hal yang berkaitan
dengan morfologi sungai, antara lain dataran banjir (flood plain),
pembentukan delta, bentuk sungai dan klasifikasi sungai (sungai lurus, sungai
berselampit/braided, dan sungai bermeander). Sungai bermeander terdiri
atas lengkungan sungai yang membentuk huruf S. Sungai yang alinyemen
memanjangnya terdiri atas bentuk-bentuk lengkungan yang belum ditentukan oleh
variasi alam tetrain yang dilewati sungai tersebut.
Kualitas air Sungai Tuntungan
berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum yang dikaitkan dengan parameter
fisika dan kimia yaitu tergolong ke dalam air yang tidak tercemar. Hal ini
sesuai dengan Ramadani (2014) yang menyatakan bahwa kualitas air secara umum
menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau
keperluan tertentu. Dalam penelitian ini, kualitas air diukur berdasarkan
parameter fisika dan kimia. Parameter fisika merupakan kondisi fisik perairan
yang dijadikan sebagai indikator kualitas air. Dalam penelitian ini parameter
fisika yang diukur adalah suhu, intensitas cahaya, dan kecerahan. Parameter
kimia merupakan kondisi kimia suatu perairan yang dijadikan sebagai indikator
kualitas air.
Data sudut yang diperoleh berdasarkan
pada praktikum yang dilakukan di Sungai Tuntungan menggunakan kompas bidik
dapat menggambarkan bentuk sungai tersebut. Hal ini sesuai Yusuf dkk (2011)
yang menyatakan bahwa prinsip penggunan kompas yaitu kompas di arahkan dengan
baik pada arah titik yang dituju kemudian lihat angka dan perpindahan jarum
kompas yang bergerak.
Berdasarkan pengukuran kekuruhan
menggunakan alat secchi disk di
Sungai tuntungan dapat diperoleh bahwa perairan tersebut memiliki kualitas air
yang tidak keruh. Hal ini sesuai dengan Silalahi (2009) yang menyatakan bahwa
prinsip penentuan kecerahan air dapat dilakukan dengan menggunakan keping
Secchi, yaitu berupa suatu kepingan yang berwarna hitam putih dengan diameter
25 cm yang terbuat dari plat logam dengan ketebalan sekitar 3 mm.
Kecepatan arus yang diukur menggunakan
bola duga di Sungai Tuntungan pada stasiun 1 = 1,708 m/s, stasiun 2 = 0,968
m/s, dan stasiun 3 = 0,41 m/s. Kecepatan arus rerata di Sungai Tuntungan tidak
terlalu kuat. Hal ini sesuai dengan Yusud dkk (2011) yang menyatakan bahwa
kondisi pola arus (arah dan kecepatan), bola duga dengan satuan m/d mengukur
kecepatan arus. Prinsip penggunaannya, yaitu bola yang diisi pemberat dan
diikat dengan tali sepanjang 3 meter dijatuhkan perlahan pada aliran arus yang
deras, sedang, dan lemah sambil dipegang talinya kemudian hitung kecepatan bola
tersebut hingga panjang tali tersebut habis. Setelah itu, hasil yang diperoleh
kemudian dicari rerata kecepatan arusnya. Teknik pengukuran kecepatan arus
dapat dilakukan dengan pendekatan Lagrangian dan Eulerian. Pendekatan
Lagrangian dilakukan dengan pengamatan gerakan massa air permukaan dalam rentang
waktu tertentu menggunakan pelampung, sedangkan pendekatan Eulerian dilakukan
dengan pengamatan arus.
Kesimpulan
Kesimpulan dari Praktikum Limnologi ini,
yaitu sebagai berikut:
1. Morfometri
Sungai Tuntungan, yaitu sungai berbentuk lurus, memiliki kedalaman rerata = 63
cm, memiiki kecerahan = 49,75 cm, dan memiliki kecepatan arus rerata = 3,094 m/s.
2. Kualitas
air Sungai Tuntungan berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum, yaitu
tergolong ke dalam air yang tidak tercemar karena berdasarkan hasil yang
diperoleh dari praktikum, nilai parameter fisika-kimia tidak melewati standar
baku.
3. Pengukuran
kecerahan menggunakan Secchi disk,
yaitu dengan memasukkan Secchi disk
ke dalam sungai secara perlahan hingga batas tak tampak perbedaan warnanya,
lalu catat kedalaman yang diperoleh, kemudian angkat Secchi disk secara perlahan hingga batas tampak perbedaan warnanya,
lalu catat kedalaman yang diperoleh, kemudian tentukan hasilnya dengan
menggunakan rumus.
Saran
Saran
untuk Praktikum Limnologi ini, yaitu sebaiknya lebih berhati-hati lagi ketika
sedang melaksanakan kegiatan praktikum, baik para praktikan maupun para asisten
yang sedang berada di laboratorium.
Abbas,
A. A. 2014. Biodiversitas Gastropoda Epifauna di Kawasan Mangrove Pantai Desa
Bontolebang, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Abditya,
H. 2010. Analisis Biaya Uji Kualitas Air Sumur. Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.
Dini,
S. 2011. Evaluasi Kualitas Air Sungai Ciliwung di Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Tahun 2000-2010. Universitas Indonesia, Depok.
Erlina,
A., A. Hartoko dan Suminto. 2007. Kualitas Perairan di Sekitar BBPBAP Jepara
Ditinjau dari Aspek Produktivitas Primer Sebagai Landasan Operasional
Pengembangan Budidaya Udang dan Ikan. Jurnal Pasir Laut. 2 (2): 1-17.
Fitra,
E. 2008. Analisis Kualitas Air dan Hubungannya dengan Keanekaragaman Vegetasi
Akuatik di Perairan Parapat Danau Toba. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Hutabarat,
Y. R. 2015. Kajian Sedimentasi dan Hubungannya dengan Debit Sungai pada Musim
Kemarau di Areal Perkebunan Kelapa Sawit PTP. Nusantara IV Pabatu. Universitas
Sumatera Utara, Medan.
Latif,
M. A. A. 2012. Studi Kuantitas dan Kualitas Air Sungai Tallo Sebagai Sumber Air
Baku. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Lewa,
R. T., O. Komala, S. Y. S. Rahayu. 2012. Kualitas Air Sungai Ciliwung di Kota
Bogor. Universitas Pakuan, Bogor.
Muhtadi,
A., Yunasfi, R. Leidonald, S. D. Sandy, A. Junaidy dan A. T. Daulay. 2016.
Status Limnologis Danau Siombak, Medan, Sumatera Utara. Jurnal Oseanologi dan
Limnologi di Indonesia. 1 (1): 39-55.
Nisa,
K., Z. Nasution dan K. E. L. Ramija. 2015. Studi Kualitas Perairan Sebagai
Alternatif Pengembangan Budidaya Ikan di Sungai Keureuto Kecamatan Lhoksukon
Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Parlaungan,
Y. 1996. Kualitas Air dan Hubungannya dengan Penyakit Ikan Air Tawar. Bakorluh
Provinsi Riau, Riau.
Purwanto,
T. H. 2013. Ekstraksi Morfometri Daerah Aliran Sungai dari Data Digital Surface Model (Studi Kasus DAS
Opak). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ramadani,
A. P. 2014. Analisis Korelasi Kualitas Air Berdasarkan Parameter Fisika Kimia
dengan Keanekaragaman Fitoplankton di Perairan Pelabuhan Teluk Nibung Kecamatan
Tanjung Balai. Universitas Negeri Medan, Medan.
Salmin.
2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah
Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan. Jurnal Oseana. 30 (3):
21-26: ISSN: 0216-1877.
Shoalihat,
F. 2015. Pengujian Kualitas Air Sungai dengan Indikator Larva Ephemeroptera, Plecoptera, dan Trichoptera
di Sungai Gajah Wong D. I. Yogyakarta. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,
Yogyakarta.
Silalahi,
J. 2009. Analisis Kualitas Air dan Hubungannya dengan Keanekaragaman Vegetasi
Akuatik di Perairan Balige Danau Toba. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sugiharyanto.
2012. Pengelolaan Sungai Opak Untuk Pertanian Pasca Erupsi Gunung Merapi Tahun
2010. Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
Sumantry,
T. 2012. Pengukuran Debit dan Kualitas Air Sungai Cisalak pada Tahun 2012.
Jurnal Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012: ISSN: 0852-2979.
Suparjo,
M. N. 2009. Kondisi Pencemaran Perairan Sungai Babon Semarang. Jurnal Saintek
Perikanan. 4 (2): 38-45.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar