Rabu, 14 Juni 2017

MAKAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN


MAKAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN
150302032

 Oleh:
Reni Zulika Sinaga
150302032





MATA KULIAH BIOLOGI PERIKANAN

               PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017


KATA PENGANTAR

                                          

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan laporan Fisiologi Hewan Air yang berjudul “Makanan dan Kebiasaa Makan Ikan ”.  Laporan ini merupakan salah satu syarat masuk untuk praktikal Laboratorium Biologi Perikanan.
            Pada  kesempatan  ini  penulis  mengucapkan  terimakasih  kepada Ibu Dr. Ani Suryanti, S.Pi, M.Si selaku dosen Biologi Perikanan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Demikianlah makalah ini penulis selesaikan. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pihai-pihak yang membutuhkan.



                                                            Medan,   Juni  2017
                                Penulis



                                                           DAFTAR ISI

                                                                                                                    Halaman
KATA PENGANTAR..................................................................................             i
DAFTAR ISI...............................................................................................            ii
DAFTAR GAMBAR...................................................................................             iii
DAFTAR TABEL.......................................................................................             iv
PENDAHULUAN
Latar Belakang.....................................................................................          1
Tujuan Penulisan..................................................................................          2
Manfaat Penulisan................................................................................          2
TINJAUAN PUSTAKA     
            Kebiasaan Makan Ikan......................................................................              4
            Makanan Ikan...................................................................................             6
KESIMPULAN DAN SARAN
            Kesimpulan .....................................................................................             11
            Saran..............................................................................................             11
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

  
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Melihat besarnya potensi sumber daya hayati khususnya yang berasal dari lautan di Indonesia maka perlu dilakukan suatu usaha untuk dapat mengetahui berbagai aspek biologi perikanan,hal tersebut dapat dimulai dengan melakukan praktikum yang membahas mengenai aspek biologi perikanan tersebut.Atas dasar tersebut praktikum biologi perikanan dilaksanakan dengan komposisi materi meliputi pembahasan tentang kebiasaan makanan ikan.Adapun pengertian kebiasaan makanan adalah kualitas dan kuantitas yang digunakan oleh ikan,sehingga kebiasaan makan itu hidup.Makanan yang telah digunakan oleh ikan akan mempengaruhi sisa persediaan makanan dan sebaliknya dari makanan yang diambil akan mempengaruhi pertumbuhan,kematangan bagi tiap-tiap individu ikan serta survivalnya.Ikan merupakan organisme tingkat tinggi yang memiliki nilai ekonomis dan ekologi penting.Mengingat pentingnya keberadaan ikan dalam suatu ekosistem,maka diperlukan pengetahuan tentang beberapa aspek biologi,antara lain tingkat kematangan gonad,fekunditas,hubungan panjang berat,seksualitas ikan,ruaya,pemijahan,awal daur hidup,kebiasaan makanan dan cara memakan,persaingan dan pemangsaan, pertumbuhan ikan,umur ikan,analisis populasi dan analisa saluran pencernaan yang merupakan kunci penting dan harus diperhatikan untuk menjamin kelestarian sumberdaya dan usaha budidaya ikan tersebut.
Analisa pola kebiasan makanan ikan dipakai dalam menentukan gizi alamiah ikan itu. Dengan mengetahui kebiasaan makanan ikan, maka dapat dilihat hubungan ekologi diantara organisme.Misalnya rantai makanan,bentuk-bentuk pemangsaan,predasi dan kompetisi.Jadi makanan dapat menjadi faktor penentu bagi pertumbuhan,kondisi ikan,dan populasi ikan tersebut.Jenis makanan satu spesies ikan biasanya tergantung pada umur,tempat dan waktu dimana ikan tersebut berada (Effendie, 1979).
pengukuran berat dari berbagai penimbangan ikan yang paling tepat adalah dengan menggunakan timbangan duduk dan timbangan gantung,adapan keuntungan yang dimiliki dari kedua timbangan ini adalah bekerjanya lebih teliti,pengaruh dari luar seperti angin dapat dikurangi,serta pendugaan pertama terhadap berat ikan yang ditimbang tidak perlu dilakukan karena secara langsung dapat menunjukkan beratnya (Abdul 1985).
Beberapa faktor yang memepengaruhi  makanan atau ada tidaknya suatu zat makanan oleh ikan yaitu ukuran makanan,warna makanan,selera ikan terhadap makanan tersebut.Jumlah makanan yang dibutuhkan oleh ikan tergantung  dari kebiasaan makan,kelimpahan makan,suhu dan kondisi umur ikan.kebiasaan makanan dan cara memakan ikan itu secara alami bergantung kepada lingkungan tempat ikan itu hidup (Anonim, 2008).
Tidak keseluruhan makanan yang ada dalam suatu perairan dimakan oleh ikan. Beberapa faktor yang mempengaruhi dimakan atau tidaknya suatu zat makanan oleh ikan diantaranya yaitu ukuran makanan ikan,warna makanan dan selera makan ikan terhadap makanan tersebut.Sedangkan jumlah makanan yang dibutuhkan oleh ikan tergantung pada kebiasaan makan,kelimpahan makanan,nilai konversi makanan serta kondisi makanan ikan tersebut (Yasidi, 2005).
Untuk mengusahakan penangkapan,pemeliharaan dan peternakan ikan dengan sukses,sering kali diperlukan pengetahuan praktis tentang jenis makanan yang disukai ikan.Untuk itu perlu penelitian tentang makanan dan kebiasaan makan ikan.Pada dasarnya harus atas pemeriksaan isi lambung dan usus ikan yang bersangkutan(Soesono, 1977).

BAB II
TINJAUAN PUSTKA
Kebiasaan makanan ikan (food habits) adalah kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara memakan (feeding habits) adalah waktu, tempat dan caranya makanan itu didapatkan oleh ikan. Kebiasaan makanan dan cara memakan ikan secara alami bergantung pada lingkungan tempat ikan itu hidup .Tujuan mempelajari kebiasaan makanan (food habits) ikan dimaksudkan untuk mengetahui pakan yang dimakan oleh setiap jenis ikan (Effendie, 2002).
Hasil penelitian Tjahjo dan Purnamaningtyas (2008) pada ikan nila di Waduk Cirata mempunyai nilai luas relung sebesar 3,9. Tingginya nilai luas relung ikan nila yang ada di Waduk Cirata menunjukkan bahwa ikan tersebut dapat memanfaatkan seluruh kelompok sumber daya makanan yang tersedia secara merata terhadap makanan yang tersedia di perairan tersebut. Krebs (1989) menyatakan bahwa tinggi rendahnya nilai luas relung makanan menunjuk-kan tingkat generalitas ikan dalam memanfaatkan pakan alami yang ada. Semakin tinggi nilai luas relung makanan pada ikan menunjukkan bahwa ikan tersebut akan lebih leluasa memanfaatkan sumber daya pakan yang ada                 (Purnomo & Warsa 2011).
Berdasarkan kebiasaan makannya, ikan dapat dibedakan atas tiga golongan, yaitu herbivora, karnivora dan omnivora. Namun di alam sering sekali ditemukan tumpang tindih yang disebabkan oleh keadaan habitat sekeliling tempat ikan hidup. Pada umumnya ikan mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap kebiasaan makanannya serta dalam memanfaatkan makanan yang tersedia (Irawati, 2011).
Dalam daur hidup ikan, selain dari serangan predator, maupun penyakit, perubahan kebiasaan makanan khususnya pada stadia awal merupakan masa kritis yang bisa menyebabkan mortalitas alami. Masa kritis tersebut terjadi pada saat sesudah penyerapan kuning telur selesai, dimana larva ikan mulai mengambil makanan dari luar tubuhnya, sehingga kemampuan larva ikan untuk mendapatkan makanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan larva ikan untuk mendeteksi keberadaan makanan, cara menangkap serta bukaan mulut larva ikan yang berkaitan dengan ukuran makanan yang tersedia di perairan. Selain itu kepadatan dan ketersediaan makanan di alam juga merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan hidup. Mortalitas yang tinggi dapat terjadi apabila larva ikan tidak segera mendapatkan makanan yang sesuai baik jenis maupun jumlahnya      (Affiati dan Lim, 1986).
Ikan baung adalah ikan tawar berkumis yang bersifat nokturnal yaitu aktif mencari makanan dan melakukan aktivitas lainnya pada malam hari. Ketersediaan organisme dasar atau pakan alami yang terdapat pada suatu perairan berkaitan dengan kebiasaan makanan dan kondisi habitat. Mystus nemurus C.V atau ikan baung dewasa mampu mencapai panjang tubuh 570 mm. ikan baung memiliki panjang usus 300 mm dengan ukuran panjang total tubuhnya 330 mm yang merupakan ciri-ciri usus karnivor  (Kottelat et al., 1993).
Pengelompokan ikan berdasarkan kelas ukuran panjang tubuh bertujuan untuk mengetahui IP makanan ikan senangin mulai ukuran terkecil yang diperoleh hingga ukuran terbesar, sehingga diketahui apakah ada perbedaan isi lambung ikan berdasarkan ukuran tubuhnya. Pengelompokan sesuai dengan petunjuk Sudjana (1996) yaitu:
1. Tentukan jumlah ikan yang diteliti (n)
2. Tentukan panjang tertinggi dan terendah
3. Tentukan rentang data terbesar dikurangi data terkecil
4. Tentukan banyak kelas interval
5. Banyak kelas interval : 1 + (3,3) log n
6. Tentukan panjang kelas (P) : rentang /banyak kelas
Menurut (Carpenter & Niem, 1999; Khuo & Shao, 1999) Makanan ikan baji-baji yang didominasi kelompok crustacea dan ikan dasar menjadi penciri bahwa ikan ini termasuk ikan pemakan dasar. Hal ini dapat dipahami karena habitat hidup ikan baji-baji adalah di dasar perairan (ikan demersal). Pola sebaran ukuran panjang ikan baji-baji yang tertangkap bahwa ukuran panjang total maksimum ikan baji-baji yang pernah tertangkap di daerah perairan Western Central Pacific (termasuk perairan Indonesia) adalah 300 mm dan paling banyak tertangkap pada kelompok ukuran 200 mm.
Roehm et al. (1967) menyatakan bahwa ikan rainbow trout yang ditambahkan 1% gosipol dalam pakan menyebabkan pertumbuhan ikan menurun sekitar 50% dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan ikan dengan penambahan 2% gosipol asetat dalam pakan menyebabkan ikan tidak mau makan. Selanjutnya dikatakan, pada hati, ginjal dan jaringan limpanya terdapat ikatan gosipol dan gosipol tersebut tetap berada dalam hati sampai ikan diberi pakan yang tidak mengandung gosipol.
Bacillariophyceae dari genus Synedra merupakan makanan utama ikan bilih. Ikan jantan mengkonsumsi makanan sama dengan ikan betina. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan pakan alami ikan bilih jantan dan ikan bilih betina. Kelompok makanan yang ditemukan dari saluran pencernaan ikan bilih jantan tidak jauh berbeda dengan ikan bilih betina terdiri plankton kelompok Bacillaryophiceae, Chlorophyceae, Cyanophyceaea, dan lain- lain (Serasah, detritus serta organisme yang tidak teridentifikasi) (Febriani, 2010).
            Menurut pendapat Affandi (2005) Pakan dengan komposisi yang baik dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan kelulushidupan (sintasan) ikan sidat. Untuk mencapai kondisi tersebut kadar kebutuhan protein yang baik bagi pertumbuhan ikan sidat, yaitu ±45%. Dalam budidaya ikan sidat bentuk pakan yang digunakan adalah pelet pasta. Pelet pasta membutuhkan stabilisator agar tidak mudah larut dalam air (Winarno, 1996; Puspitasari 2008). Pakan yang mudah larut dalam air dapat mempengaruhi sintasan ikan sidat. Terdapat dugaan komposisi pakan yang baik adalah campuran antara pelet ikan, ulat tepung, dan ganggang merah. Diharapkan ketiga campuran pakan tersebut dapat meningkat-kan pertumbuhan dan sintasan ikan sidat secara optimal.



DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R. 2005. Strategi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidat, Anguilla spp. Di Indonesia [Strategy on Utilization of Eel (Anguila sp.) Resources in Indonesia]. Jurnal Ikhtiologi Indonesia. Volume 5, no 2, 2005.
Affiati, N dan Lim, C. 1986. Pengaruh Saat Awal Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Gurami   (Osphronemous gouramy). Buletin Penelitian Perikanan Darat 5(1): 23 – 27.
Carpenter, K.E. & Niem, V.H. (eds). 1999. FAO species identification guide for fishery purposes.The living marine resources of the Western Central Pacific. Volume 4. Bony fishes part 4 (Mugilidae to Carangidae). Rome, FAO. pp. 2069-2790.
Effendie, M.I.2002. Biologi Perikanan. Cetakan Kedua. Yogyakarta. Yayasan Pustaka Nusatama. 163 Halaman.
Febriani L. 2010. Studi makanan dan pertumbuhan ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker) di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 102 hlm.
Irawati,2011. Kebiasaan Makanan Ikan Merah, Lutjanus Boutton (Lacepede, 1802) Di Perairan Pallameang, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan [Skripsi].Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan Universitas  Hasanuddin,Makasar.
Kottelat, M. A., Whitten, S. N. and Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes Of Western Indonesia and Sulawesi (Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi). Periplus Edition (HK). Ltd. Kerjasama dengan proyek EMDI, Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup R.I. Jakarta.239 halaman.
Krebs CJ. 1989. Ecological methodology. University of British Columbia. New York (US): Harper and Row Publisher.
Purnomo K, Warsa A. 2011. Struktur Komunitas dan Relung Makanan Ikan Pasca Introduksi Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus) di Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 17(1): 73-82.
Puspitasari, D. 2008. Kajian Substitusi Tapioka Dengan Rumput Laut (Euchema cottoni) Pada Pembuatan Bakso. [Skripsi].       Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas
Roehm, J.N., Lee, D.J., Sinnhuber, R.O. 1967. Accumulation and elimination of     dietary gossypol in the organ of rainbow trout. Lipids, 5(1) : 80-81.
Tjahjo DWH, Purnamaningtyas SE. 2008. Kebiasaan Makan Ikan di Waduk Cirata, Jawa Barat : Sebagai Data Dasar untuk Pemacuan Stok Ikan. Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumberdaya Ikan II, Loka Riset Pemacuan Stok Ikan (LRPSI). Pusat Riset Perikanan Tangkap. Jakarta.
Sudjana, M. A. (1986). Metode Statistika. Edisi ke IV. Tarsito. Bandung 502 hal. Nikolsky, G. V. 1963. The Ecology of Fishes. Academic Press. New York. 325 h.
Winarno. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

MAKAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)

MAKAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN GURAMI
(Osphronemus gourami)

Oleh :

Reni Zulika Sinaga
130302032






                                          

  



MATA KULIAH BIOLOGI PERIKANAN
              PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2017


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan laporan Fisiologi Hewan Air yang berjudul “Makanan dan Kebiasaa Makan Ikan Gurami (Osphronemus gourami)”.  Laporan ini merupakan salah satu syarat masuk untuk praktikal Laboratorium Biologi Perikanan.
            Pada  kesempatan  ini  penulis  mengucapkan  terimakasih  kepada  Ibu Dr. Ani Suryanti, S.Pi, M.Si selaku dosen Biologi Perikanan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Demikianlah makalah ini penulis selesaikan. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pihai-pihak yang membutuhkan.



                                                            Medan,   Juni  2017
                                     Penulis



DAFTAR ISI
                                                                                                                      Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................                i
DAFTAR ISI.............................................................................................               ii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................               iii
PENDAHULUAN
Latar Belakang.................................................................................               1
Tujuan Penulisan..............................................................................               2
Manfaat Penulisan............................................................................               2
TINJAUAN PUSTAKA     
            Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)................................................              3
            Kebiasaan Makan Ikan......................................................................              4
            Makanan Ikan..................................................................................              6
KESIMPULAN DAN SARAN
            Kesimpulan ....................................................................................             11
            Saran..............................................................................................             11
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ikan sebagai hewan air memiliki beberapa fisiologi yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Misalnya sebagai hewan hidup di air baik itu di perairan tawar maupun di perairan laut menyebabkan ikan harus dapat mengetahui kekuatan arah arus, karenanya ikan dilengkapi dengan organ yang dikenal dengan linnea lateralis. Organ ini tidak ditemukan pada hewan darat. Contoh lain perbedaan konsentrasi antara medium tempat hidup dan konsentrasi cairan tubuh memaksa ikan melakukan osmoregulasi untuk mempertahankan konsentrasi cairan tubuhnya akibat difusi dan osmose (Fujaya, 2002).
Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis. Memiliki ciri khas pada tulang belakang, dan siripnya, serta bergantung pada air sebagai medium untuk kehidupan. Ikan memiliki keanekaragaman bentuk, ukuran, habitat, serta distribusi jenis ikan berdasarkan perbedaan ruang dan waktu sehingga membutuhkan pengetahuan tentang pengelompokan atau pengklasifikasian ikan pada umumnya bentuk tubuh ikan berkaitan dengan suatu kategori, namun terdapat pula jenis ikan yang memliki bentuk kombinasi. Ikan memiliki kemampuan didalam air untuk bergerak menggunakan siripnya, serta bergantung pada air untuk kehidupannya, ikan memiliki kemampuan didalam air untuk bergerak deengan menggunakan siripnya (Widayati dkk, 2013).
 Ikan gurami merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke seluruh perairan Asia Tenggara dan Cina. Masyarakat Indonesia sudah lama mengenal gurami, rasa dagingnya yang gurih dan lezat sangat digemari masyarakat. Gurami termasuk salah satu dari 12 komoditas untuk pemenuhan gizi masyarakat.Gurami banyak dikembangkan oleh para petani, hal ini dikarenakan permintaan pasar yang cukup tinggi dan pemeliharaannya yang relatif mudah. Namun salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi ini memiliki pertumbuhan yang lambat tetapi dapat diatasi dengan pemberian pakan berkualitas dalam jumlah yang cukup (Lucas dkk, 2015).
Ikan gurame memiliki tubuh agak panjang, tinggi, dan pipih ke samping. Ukuran mulutnya kecil, miring, dan dapat disembullkan. Ikan gurame memiliki garis lateral tunggal, lengkap, dan tidak terputus. Sisiknya stenoid (tidak membulat secara penuh) dan berukuran besar. Ikan ini memiliki gigi pada rahang bawah. Gurame umumnya hidup pada perairan tawar, namun ditemukan juga gurame yang hidup di perairan payau. Ikan gurame dilengkapi dengan alat pernafasan tambahan berupa labirin yang terletak di dalam rongga insang. Ikan gurame dapat menghirup oksigen langsung dari udara pada perairan yang miskin oksigen. Gurame tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah, suhu optimal untuk ikan gurame berkisar antara 28-32 oC. Ikan gurame lebih menyukai perairan yang jernih, dan tenang. Cara pergerakan ikan gurame dalam kolom air adalah vertikal (naik-turun) sehingga lebih menyukai perairan yang agak dalam (Aini, 2008).
Proses metabolisme ikan meningkat jika suhu naik hingga dibawah batas yang mematikan. Berdasarkan hokum van’t hoff, kenaikan suhu sebesar 100 C akan menyebabkan kecepatan reaksi metabolism meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan kondisi normal. Kebutuhan protein pada ikan untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimum sangat dipengaruhi oleh suhu (Kantun, 2012).
Pencernaan secara fisik dan mekanik dimulai di bagian rongga mulut yaitu
dengan berperannya gigi pada proses pemotongan dan penggerusan makanan. Pencernaan secara mekanik ini juga berlangsung di segmen lambung dan usus yaitu melalui gerakan-gerakan (kontraksi) otot pada segmen tersebut. Pencernaan secara mekanik di segmen lambung dan usus terjadi lebih efektif oleh karena adanya peran cairan digestif. Pada ikan, pencernaan secara kimiawi dimulai di bagian lambung, hal ini dikarenakan cairan digestif yang berperan dalam proses pencernaan secara kimiawi mulai dihasilkan di segmen tersebut yaitu disekresikan oleh kelenjar lambung. Pencernaan ini selanjutnya disempurnakan di segmen usus. Cairan digestif yang berperan pada proses pencernaan di segmen usus berasal dari hati, pankreas, dan dinding usus itu sendiri. Kombinasi antara aksi fisik dan kimiawi inilah yang menyebabkan perubahan makanan dari yang asalnya bersifat komplek menjadi senyawa sederhana atau yang asalanya berpartikel makro menjadi partikel mikro (Kusrini dkk, 2007).
Makanan alami ikan terdiri atas berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di perairan. Ketika masih berbentuk benih, makanan yang disukainya berupa zooplankton (plankton hewani), seperti Rotifera , Moina, atau Daphnia . Selain itu, benih ikan nila juga memakan alga atau lumut yang menempel di bebatuan yang ada di habitatnya. Saat di budidayakan, nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam. Jika telah mencapai ukuran dewasa, ikan ini bisa diberi berbagai pakan tambahan seperti pellet (Nuraeni, 2013).
Makanan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu organisme karena dapat menentukan luas penyebaran suatu spesies serta dapat mengontrol besarnya suatu populasi. Suatu organisme dapat hidup tumbuh dan berkembang karena adanya energi yang berasal dari makanan yang. Makanan yang terdapat pada lambung dikelompokkan sebagai makanan utama serta makanan tambahan. Dengan mengetahui makanan suatu jenis ikan maka dapat ditentukan kedudukan ikan itu apakah sebagai predator atau competitor (Astuti, 2011).
Kebiasaan makanan ikan dipelajari untuk menentukan gizi alamiah ikan tersebut. Pengetahuan tentang kebiasaan makanan ikan dapat digunakan untuk melihat hubungan ekologi di antara organisme di perairan tempat mereka berada, misalnya bentuk pemangsaan, persaingan, dan rantai makanan. Jadi, makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi keberadaan populasi           (Irawati, 2011).
Tujuan Praktikum
            Tujuan dari penulisan ini ini adalah sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui jenis  makanan pada  ikan gurami (Osphronemus gourami).
2.         Untuk mengetahui kebiasaan makan ikan gurami (Osphronemus gourami).
3.         Untuk mengetahui metode pengukuran jenis makanan dengan metode volumetrik dan gravimetrik pada ikan.
Manfaat Praktikum
            Manfaat dari praktikum ini yaitu sebagai syarat dalam mengikuti praktikal test praktikum Biologi Perikanan dan sebagai sumber informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
Gurame merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merah sawo dan bagian perut berwarna kekuning-kuningan atau keperak-perakan. Ikan gurami merupakan keluarga Anabantidae, keturunan helostoma dan bangsa labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke Malaysia, Thailand, Ceylon, dan Australia. Pertumbuhan ikan gurami agak lambatdibanding ikan air tawar jenis lain. Di Indonesia, orang Jawa menyebutkan Gurami, Guramih, orang Sumatera ikan Kalau, Kala, Kalui, sedangkan di Kalimantan disebut Kalui. Orang Inggris menyebutnya ‘Giant Gouramy’, karena ukurannya yang besar sampai mencapai berat 5 kg (Rosadi, 2012).
Ikan gurame memiliki tubuh agak panjang, tinggi, dan pipih ke samping. Ukuran mulutnya kecil, miring, dan dapat disembullkan. Ikan gurame memiliki garis lateral tunggal, lengkap, dan tidak terputus. Sisiknya stenoid (tidak membulat secara penuh) dan berukuran besar. Ikan ini memiliki gigi pada rahang bawah. Gurame umumnya hidup pada perairan tawar, namun ditemukan juga gurame yang hidup di perairan payau. Ikan gurame dilengkapi dengan alat pernafasan tambahan berupa labirin yang terletak di dalam rongga insang. Ikan gurame dapat menghirup oksigen langsung dari udara pada perairan yang miskin oksigen. Gurame tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah, suhu optimal untuk ikan gurame berkisar antara 28-32 oC. Ikan gurame lebih menyukai perairan yang jernih, dan tenang. Cara pergerakan ikan gurame dalam kolom air adalah vertikal (naik-turun) sehingga lebih menyukai perairan yang agak dalam         (Aini, 2008).
Ciri –ciri ikan ini mempunyai  bentuk badan panjang, lebar atau pipih ke samping, badan tertutup sisik–sisik  yang besar tampak kasar dan kuat. Ikan gurami dapat tumbuh dan berkembang di  perairan tawar pada ketinggian antara 0– 800 meter dari permukaan laut. Ikan ini menyukai perairan yang dalam, jernih dan tenang. Ikan gurami dapat tumbuh baik pada kondisi air yang mempunyai suhu 24–280 C dan pH 6,5–7,8. Ikan gurami termasuk hewan omnivora (pemakan segala) dari larva sampai benih berumur 4 bulan (Darini, 2010).
Pakan Ikan
Pakan merupakan salah satu faktor pembatas bagi organisme yang dibudidayakan. Sebagian besar stadia awal larva ikan yang memerlukan pakan alami fitoplankton atau zooplankton. Fitoplankton sangat dibutuhkan dalam kegiatan budidaya yang bersifat komersial, seperti pada jenis ikan (larva dan atau dewasa), bivalvia dan moluska (larva, juvenil dan dewasa). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pakan alami adalah ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, mudah dicerna, tidak beracun, mudah dikultur secara massal dan mengandung nutrisi tinggi. Ikan membutuhkan pakan yang cukup, baik dari segi kuantitas maupun kualitas untuk keperluan perkembangan dan keberhasilan hidupnya. Besarnya populasi ikan dalam suatu perairan antara lain juga ditentukan oleh pakan yang tersedia. Pakan yang dimakan oleh ikan akan mempengaruhi pertumbuhannya, kematangan individu serta keberhasilan hidupnya. Ketersediaan pakan dalam perairan selain dipengaruhi oleh kondisi biotik juga ditentukan oleh kondisi abiotik seperti suhu, cahaya, ruang dan luas permukaan pada perairan tersebut (Dani dkk, 2005).
            Ikan membutuhkan pakan sejak mulai hidup dari ukuran larva (burayak), dewasa sampai ukuran induk. Fungsi pakan adalah untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Pakan yang dimakan oleh ikan pertama-tama digunakan untuk kelangsungan hidup dan apabila ada kelebihannya akan dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Jadi bila menghendaki pertumbuhan ikan yang baik, maka harus diberi sejumlah pakan yang melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya (Murjani, 2009).
Pelet merupakan pakan buatan yang dipadatkan, dikompakkan melalui proses mekanik. Pelet dicetak dalam bentuk gumpalan dan silindier kecil yang berbeda diameter, panjang, dan tingkat keuatannya. Jenis pakan buatan bentuk pelet ada dua macam yaitu pelet terapung atau melayang dan pelet tenggelam. Pelet terapung atau melayang diberikan untuk ikan-ikan yang hidup di permukaan air sedangkan pelet tenggelam diberikan untuk ikan-ikan yang hidup di dasar perairan (Subandiyah dkk, 2003).
            Jentik nyamuk terdiri dari kepala, toraks, dan abdomen, serta ada corong udara dengan pekten dan sekelompok bulu-bulu. Sepanjang hidupnya, jentik kebanyakan berdiam di permukaan air walaupun mereka akan berenang ke dasar kontainer jika terganggu atau sedang mencari makanan. Pada saat istirahat, jentik membentuk sudut dengan permukaan air (Subekti dkk, 2011).
Cacing sutera (Tubifex sp.) merupakan pakan alami yang paling disukai oleh ikan air tawar. Cacing (Tubifex sp.) sangat baik bagi pertumbuhan ikan air tawar karena kandungan proteinnya tinggi. Pakan buatan adalah makanan ikan yang dibuat dari campuran bahan-bahan alami dan atau bahan olahan yang selanjutnya akan dilakukan proses pengolahan serta dibuat dalam bentuk tertentu sehingga tercipta daya tarik (merangsang) ikan untuk memakannya dengan mudah dan lahap, salah satu contoh pakan buatan yaitu pelet baik pelet tenggelam ataupun pelet terapung (Aggraeni dan Nurlita, 2013).
Kebiasaan Makan Ikan
Makanan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu organisme karena dapat menentukan luas penyebaran suatu spesies serta dapat mengontrol besarnya suatu populasi. Suatu organisme dapat hidup tumbuh dan berkembang karena adanya energi yang berasal dari makanan yang dimakan. Makanan yang terdapat pada lambung dikelompokkan sebagai makanan utama serta makanan tambahan. Dengan mengetahui makanan suatu jenis ikan maka dapat ditentukan kedudukan ikan itu apakah sebagai predator atau competitor (Astuti, 2011).
Kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara makan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan lebih lanjut, bagaimana cara ikan memperoleh makanannya. Faktor-faktor yang menentukan suatu jenis ikan akan memakan suatu jenis organisme adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera ikan terhadap makanan.Kebiasaan makanan ikan dipelajari untuk menentukan gizi alamiah ikan tersebut. Pengetahuan tentang kebiasaan makanan ikan dapat digunakan untuk melihat hubungan ekologi di antara organisme di perairan tempat mereka berada, misalnya bentuk pemangsaan, persaingan, dan rantai makanan. Jadi, makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi keberadaan populasi (Irawati, 2011).
Cara ikan mengambil makanan dari alam lingkungan sangat bervariasi yaitu tergantung pada ukuran, umur ikan, spesies ikan dan sipat ikannya. Dalam upaya mendapatkan dan memakan makanannya sangat dipengaruhi oleh posisi keberadaan mangsa yang akan dimakan, aktivitas gerak dari mangsa, bentuk makanan, ukuran makanan dan warna dari makanan yang akan dimakan. Ikan akan aktif bergerak dengan bantuan dari semua sirip yang dimilikinya, tetapi apabila kesehatan ikan atau organnya berupa sirip ini terganggu ini akan mempengaruhi pergerakan dari ikan-ikan tersebut (Denny, 2012).
Berdasarkan cara makan ikan dapat kita bedakan menjadi 5 golongan yaitu pemangsa (Predator), penghisap (Sucker), penggerogot (Grazer), parasit dan penyaring (Strainer). Beberapa larva ikan termasuk kedalam ikan yang memiliki cara makandengan tipe penghisap atau sucker, ikan penghisap (sucker) adalah ikan-ikan yang cara mengambil makanannya dengan jalan menghisap lumpur atau pasir di dasar perairan akan tetapi sebagian dari ikan penghisap ini ada yang memiliki kemampuan untuk memisahkan bahan makanan dari yang bukan bahan makanan maka melimpahnya fitoplankton di kolam pemeliharaan larva ikan memudahkan larva ikan untuk mengkonsumsinya dengan cara menghisapnya (Widiana dkk, 2013).
Analisis kebiasaan makanan dilakukan dengan cara membedah ikan contoh dan mengambil saluran pencernaan (lambung dan usus), kemudian diawetkan dalam larutan formalin 4% untuk selanjutnya dianalisis (identifikasi) jenis makanannya Semua jenis organisme yang terdapat dalam alat pencernaan dicatat. Identifikasi jenis organisme yang ditemukan pada saluran pencernaan dapat digunakan untuk menentukan golongan ikan dengan akurat (Astuti, 2011).
Metode volumetrik dilakukan dengan cara mengukur volume isi alatpencernaan tiap individu. Kemudian keringkan dengan menggunakan kertassaring atau tisu. Memisahkan masing-masing organisme yang sejenis dan ukurvolumenya dengan dikeringkan terlebih dahulu. Jenis makanan yang tidak dapatditentukan dimasukkan ke dalam kelompok makanan yang tidak teridentifikasi. Volume organisme sejenis dibandingkan dengan volume total isi pencernaanmakanan dan dinyatakan dalam persen. Volume total keseluruhan jenis makananadalah 100 % (Sari, 2008).
Pembahasan
Ikan gurami akan mengkonsumsi pakan yang sesuai dengan kabutuhannya untuk melakukan proses metabolisme. Pakan yang dikonsumsi oleh ikan dapat mempengaruhi pertumbuhan karena pakan yang masuk mengandung protein dan karbohidrat.  Hal ini sesuai dengan Murjani (2009), yang menyatakan bahwa ikan membutuhkan pakan sejak mulai hidup dari ukuran larva (burayak), dewasa sampai ukuran induk. Fungsi pakan adalah untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Pakan yang dimakan oleh ikan pertama-tama digunakan untuk kelangsungan hidup dan apabila ada kelebihannya akan dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Jadi bila menghendaki pertumbuhan ikan yang baik, maka harus diberi sejumlah pakan yang melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya.
Ikan gurami termasuk jenis ikan herbivora karena memiliki panjang saluran usus atau saluran pencernaan yang panjangnya dua kali lipat dari panjang tubuhnya. Hal ini sesuai dengan Asyari dan Fatah (2011) yang menyatakan bahwa semua saluran pencernaan ikan telah disesuaikan dengan makanan yang dikonsumsi oleh ikan tersebut, agar proses mencerna makanan dapat berlangsung optimum. Ikan yang bersifat herbivora memiliki saluran pencernaan yang lebih panjang dibandingkan ikan omnivora dan karnívora karena jenis makanan yang dimakan seperti tumbuh-tumbuhan dan lainnya lebih susah hancur sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencernanya. Pada ikan vegetaris (herbivora) saluran pencernaan dapat tiga kali panjang tubuhnya.
Organ pencernaan pada ikan gurami dimulai mulut yang berfungsi sebagai tempat masuknya makanan, kerongkongan, lambung, usus dan berakhir di anus. Usus berfungsi sebagai alat pencernaan dan anus sebagai tempat pengeluaran sisa-sisa makanan. Hal ini sesuai dengan wahyuningsih dkk, (2013) yang menyatakan bahwa secara umum organ pencernaan yang terdiri atas mulut, rongga mulut, tekak, kerongkongan, lambung, pylorus, usus dan anus. Mulut berfungsi untuk mengambil makanan yang biasanya di telan bulat-bulat tanpa ada perubahan, tekak terletak anatara mulut bagian belakan dan insang bagian belakang.
Ikan gurami mempunyai kebiasaan makan dengan melakukan penggerogotann pada makananya. Ukuran mulut ikan gurami tergolong kecil dan mempunyai gigi-gigi yang kacil. Hal ini sesuai dengan Widiana dkk, (2013) yang menyatakan bahwa berdasarkan cara makan ikan dapat kita bedakan menjadi 5 golongan yaitu pemangsa (Predator), penghisap (Sucker), penggerogot (Grazer), parasit dan penyaring (Strainer). Beberapa larva ikan termasuk kedalam ikan yang memiliki cara makan dengan tipe penghisap atau sucker, ikan penghisap (sucker) adalah ikan-ikan yang cara mengambil makanannya dengan jalan menghisap lumpur atau pasir di dasar perairan akan tetapi sebagian dari ikan penghisap ini ada yang memiliki kemampuan untuk memisahkan bahan makanan dari yang bukan bahan makanan maka melimpahnya fitoplankton di kolam pemeliharaan larva ikan memudahkan larva ikan untuk mengkonsumsinya dengan cara menghisapnya.
Pengamatan kebiasaan makan ikan dapat dilihat dengan membedah ikan, lalu diambil saluran pencernaannya atau usus, kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi lihat volume usus, lalu kerik bagian dalam usus dan masukkan kembali kedalam tabung reaksi yang sudah berisi air. Hal ini sesuai dengan Astuti (2011), yang menyatakan bahwa analisis kebiasaan makanan dilakukan dengan cara membedah ikan contoh dan mengambil saluran pencernaan (lambung dan usus), untuk selanjutnya dianalisis (identifikasi) jenis makanannya Semua jenis organisme yang terdapat dalam alat pencernaan dicatat. Identifikasi jenis organisme yang ditemukan pada saluran pencernaan dapat digunakan untuk menentukan golongan ikan dengan akurat.
Dalam pengukuran volume isi pencernaan ikan gurami dapat dilakukan dengan menggunakan metode volumetrik. Dilakukan dengan mengkerik isi usus ikan gurami lalu dihitung selisih volume usus dengan yang belum dikerik dalam tabung reaksi, yaitu didapat ikan 1 = 57%, ikan 2 =  100% dan ikan 3 = 33%. Hal ini Sari (2008), yang menyatakan bahwa metode volumetrik dilakukan dengan cara mengukur volume isi alat pencernaan tiap individu. Kemudian keringkan dengan menggunakan kertas saring atau tisu. Memisahkan masing-masing organisme yang sejenis dan ukur volumenya dengan dikeringkan terlebih dahulu. Jenis makanan yang tidak dapat ditentukan dimasukkan ke dalam kelompok makanan yang tidak teridentifikasi. Volume organisme sejenis dibandingkan dengan volume total isi pencernaan makanan dan dinyatakan dalam persen. Volume total keseluruhan jenis makanan adalah 100 %.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
       Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.        Ikan gurami memakan tanaman air dan fitoplankton.  
2.        Ikan gurami termasuk jenis ikan herbivora yaitu pemakan tumbuhan. Karena itu, ikan gurami mempunyai panjang usus dua kali lipat dari tubuhnya.
3.        Metode volumetrik dihitung dengan menghitung volume organisme sejenis dibandingkan dengan volume total isi pencernaan makanan dan dinyatakan dalam persen. Volume total keseluruhan jenis makanan adalah 100 %. Sedangkan metode gravimetrik dihitung dengan mengitung berat suatu jenis makanan dibanding dengan berat total jenis makanan dan dinyatakan dalam persen.
Saran
            Saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah hendaknya alat lebih dilengkapi lagi dan dalam melakukan suatu pembedahan perlu dilakukan secara hati-hati agar bagian yang akan diamati tidak rusak dan dalam pengamatannya berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA
Aini, Y. 2008. Kinerja Pertumbuhan Ikan Gurame Pada Media Bersalinitas 3 Ppt Dengan Paparan Medan Listrik. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Astuti, E., Abduljabarsyah., Irawati. 2011. Studi Aspek Kebiasaan Makanan Ikan Nomei yang Tertangkap di Perairan Juata Laut Tarakan. Universitas Borneo, Tarakan..

Fujaya. Y. 2002. Fisiologi Hewan Ikan. Depertemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Irawati. 2011. Kebiasaan Makanan Ikan Merah (Lutjanus boutton)di Perairan Pallameang, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kantun, W. 2012. Temperatur dan reproduksi. Sekolah Tinggi Infomasi dan Teknologi Balik Dewa, Indonesia.

Kusrini, E., Nurul, H., K., Adi, S. Dan Marlina, A. 2010. Anatomi Organ Pencernaan Ikan Nila Merah Oreochromis Sp. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Lucas, W. G. F., O. J. Kalesaran, dan C. Lumenta. 2015.  Pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva gurami (Osphronemus gouramy) dengan pemberian beberapa jenis pakan. Jurnal Budidaya Perairan. 3 (2) : 19-28.

Nurani, F. R., Novi, R. S., Bountyfa., Yessy, N. 2010. Pengaruh Penambahan Perasan Kunyit (Curcuma longa) pada Pakan terhadap Daya Cerna dan Pertumbuhan Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy). Universitas Airlangga, Surabaya.

Rosadi, D. 2012. Pola Keruangan Budidaya Kolam Ikan Gurami di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. [Skripsi]. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, Depok.

Sari, F. W. 2008. Studi Kebiasaan Makanan Ikan Layur(Superfamili Trichiuroidea) di PerairanPalabuhanratu, Kabupaten Sukabumi,Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Subandiyah, S., R. Hinawati, S. Rohmy, dan Atmaja. 2010. Pemeliharaan Larva Ikan Hias Pelangi Asal Danau Kurumoi Umur 7 Hari dengan Pakan Alami. Seminar Nasional Biologi.


Widiana, A., A. Kusumorini, S. Handayani. 2013. Potensi Fitoplankton Sebagai Sumber Daya Pakan pada Pemeliharaan Larva Ikan Mas (Cyprinus Carpio) di BBPBAT Sukabumi. Jurnal Biologi. 6 (2).

Widayati, D. E., Aunurrohim dan N. Abdulgani. 2013. Studi Hispatologi Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) pada Konsentrasi Sublethal Air Lumpur Sidoarjo. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.