Laporan
Praktikum Kualitas Air
Ke-IV
ANALISIS
SIFAT KIMIA AIR
Oleh:
Reni Zulika Sinaga/150302032

LABORATORIUM KUALITAS
AIR
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA
2016
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan tentang “Analisis Sifat Kimia Air” ini dengan baik sebagai syarat masuk mengikuti praktikum di Laboratorium Terpadu
Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc., selaku Dosen penanggungjawab
Laboratorium Kualitas Air, Bapak Ahmad Muhtadi Rangkuti, S.Pi.,
M.Si dan Bapak Rusdi Leidonald S.Pi., M.Sc., selaku Dosen mata kuliah Kualitas
Air Universitas Sumatera Utara serta kepada seluruh Asisten Laboratorium Kualitas
Air yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis
berharap adanya kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan
selanjutnya.
Medan, November 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Jl Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang................................................................................... ............ 1
Tujuan
Praktikum............................................................................... ............ 2
Manfaat Praktikum............................................................................ ............ 2
TINJAUAN PUSTAKA
Analisis
Sifat Kimia Air................................................................................. 3
Ph.................................................................................................................... 3
DO
(Disolved Oxygen)................................................................................... 4
Salinitas.......................................................................................................... 6
pH................................................................................................................... 6
METODE PRAKTIKUM
Waktu
dan Tempat......................................................................................... 8
Alat
dan Bahan............................................................................................... 8
Prosedur Praktikum........................................................................................ 8
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil.............................................................................................................. 10
Pembahasan.................................................................................................. 10
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan........................................................................................ .......... 12
Saran.................................................................................................. .......... 12
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Latar Belakang
Air merupakan asal muasal dari
segala macam bentuk kehidupan di planet bumi ini. Bagi manusia kebutuhan akan
air ini amat mutlak karena sebenarnya zat pembentuk tubuh manusia sebagian besar
terdiri dari air yang jumlahnya sekitar 65% dari bagian tubuh. Sehingga untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya manusia berupaya mengadakan air yang cukup
bagi dirinya. Semakin maju tingkat kebudayaan masyarakat maka penggunaan air
makin meningkat. Diketahui bahwa volume total air di bumi adalah sekitar 1,4
milyar km3 yang 97,4% adalah air laut. Sisanya 2,6% adalah berupa air tawar.
Dari jumlah tersebut hanya 0,14% dari total jumlah air di bumi yang dengan
segera dapat dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya (Hendrawan, 2005).
Air adalah
sumber daya alam yang sangat vital, yang mutlak diperlukan bagi hidup dan
kehidupan manusia. Dari waktu ke waktu tingkat pemanfaatan air semakin
bertambah. Meningkatnya pemanfaatan sumber daya air ini bukan hanya disebabkan
oleh tingginya kebutuhan akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi tapi juga oleh
beragamnya jenis pemanfaatan sumber daya air. Sementara, air yang tersedia di
alam yang secara potensial dapat dimanfaatkan manusia tetap tidak bertambah
jumlahnya (Matahelumual, 2007).
Air minum adalah air yang diperlukan
untuk keperluan hidup rumah tangga, meliputi air untuk minum, memasak, mandi,
mencuci dan membersihkan rumah. Agar air minum tidak mengganggu kesehatan
manusia harus memenuhi persyaratan fisika, kimia dan bakteriologis yang
ditentukan oleh Dinas Kesehatan. Persyaratan fisika adalah persyaratan air yang
dapat dilihat, dirasa maupun dibau. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang persyaratan air bersih dan air
minum mencantumkan bahwa air minum harus tidak berbau, jernih, tidak berwarna,
tidak berasa dan perbedaan suhu air dengan suhu ruang tidak boleh lebih dari 3 derajat. Persyaratan kimia meliputi kadar
atau kandungan zat kimia dalam air (Patty, 2014).
Pemanfaatan
air terutama air tanah yang terus meningkat dapat menimbulkan dampak negatif
terhadap air tanah itu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya, diantaranya
berkurangnya kuantitas dan kualitas air tanah, penyusupan air laut dan amblesan
tanah. Menurunnya kuantitas dan kualitas air tanah tersebut akan memberikan
dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Agar pemanfaatan air tanah dapat
optimal tanpa menimbulkan dampak negatif, maka dalam pelaksanaan kegiatan
tersebut diperlukan panduan perencanaan pendayagunaan air tanah sebagai acuan
dalam perencanaan pendayagunaan air tanah yang berwawasan lingkungan yang
meliputi kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan
air tanah (Hendrawan, 2015).
Air tawar bersih untuk air minum semakin
langka di perkotaan. Air tanah sudah tidak aman dijadikan air minum karena
telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun air permukaan. Hal
inilah yang menjadi alasan mengapa air minum dalam kemasan (AMDK) yang
disebut-sebut menggunakan air pegunungan banyak dikonsumsi. Namun, harga AMDK
dari berbagai merek yang terus meningkat membuat konsumen mencari alternatif
baru yang murah. Air minum isi ulang (AMIU) menjadi pilihan yang lain. Keberadaan
air minum isi ulang terus meningkat sejalan dengan dinamika keperluan
masyarakat terhadap air minum yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi (Kusumaningtyas dkk., 2014).
Tujuan
Praktikum
Tujuan dari praktikum kualitas air ini
adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui metode analisis sifat
kimia air.
2.
Untuk mengetahui pengukuran DO pada sampel aqua dengan metode
Winkler.
3.
Untuk mengetahui
pengukuran salinitas dengan refraktometer.
Manfaat
Praktikum
TINJAUAN
PUSTAKA
Analisis
Sifat Kimia Air
Sifat
Kimia baik air laut, air hujan
,maupun air tanah/air tawar mengandung mineral. Macam-macam mineral yang
terkandung dalam air tawar bervariasi tergantung struktur tanah dimana air itu
diambil. Sebagai contoh mineral yang terkandung dalam air itu bukan melalui
suatu reaksi kimia melainkan terlarut dari suatu subtansi misalnya dari batu
andesit (dari batu vulkanis). Sifat kimia yang lain yaitu konduktivitas listrik
pada air paling seikit 1000 kali lebih besar daripada cairan non metalik pada
suhu ruangan (Patty, 2014).
Aktivasi kimia bertujuan untuk menempelkan
ion-ion aktif pada karbon, sehingga karbon akan memiliki kemampuan untuk
mengikat molekul-molekul gas dalam udara atau partikel polutan dalam larutan.
Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan aktivator antara lain adalah
hidroksida logam alkali, garam-garam karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari
logam alkali tanah dan khususnya ZnCl2, asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan
H3PO4 (Meilita Tryana dan Tuti Sarma Sinaga, 2003). Selain bahan-bahan kimia di
atas, kaporit/kalsium hipoklorit (Ca(OCl2)2) juga dapat digunakan sebagai bahan
pengaktif (Salmin, 2005).
pH
Derajat keasaman (pH) mempunyai
pengaruh yang besar terhadap kehidupan tumbuhan dan hewan perairan sehingga
dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menilai kondisi suatu perairan sebagai lingkungan
tempat hidup. Nilai pH dapat menunjukkan kualitas perairan sebagai lingkungan
hidup, air yang agak basa dapat mendorong proses pembongkaran bahan organik
yang ada dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diasimilasi oleh tumbuhan
dan fitoplankton (Akrimi dan Subroto, 2002).
Jika dalam suatu
perairan terdapat kandungan bahan organik yang tinggi, maka bahan organik
tersebut harus diuraikan, untuk ini diperlukan oksigen. Dalam keadaan ada
oksigen akan dihasilkan karbondioksida, uap air dan nitrat. Dalam keadaan tidak
ada oksigen akan jika
dalam suatu perairan terdapat bahan organik yang tinggi, maka hasil dekomposisi
bahan organik tersebut diantaranya karbondioksida. Di dalam air karbondioksida
ini akan membentuk asam karbonat. Keadaan ini juga bisa terjadi jika 1% dari
karbondioksida bereaksi dengan air sehingga
membentuk asam karbonat. Pada pembentukan asam karbonat tersebut akan
dihasilkan ion hidrogen yang mengakibatkan pH perairan menurun (Farista,
2000).
Pengukuran
pH dapat menggunakan pH meter, kertas lakmus, dan cara calorimeter. Pengukuran
pH menggunakan pH meter memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan dengan
kertas lakmus dan cara calorimeter Penggunaan pH meter atau mengukur ion
spesifik untuk mengukur konsentrasi ion hidrogen atau suatu ion yang lain dalam
larutan, jelas merupakan contoh potensiometri langsung pH Meter adalah sebuah
alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH (kadar keasaman atau
alkalinitas) dari suatu larutan. pH meter yang biasa terdiri dari pengukuran
probe pH (elektroda gelas) yang terhubung ke pengukuran pembacaan yang mengukur
dan menampilkan pH yang terukur. Elektroda kaca (gelas) merupakan elektroda
indikator yang peka akan ion hidrogen yang paling meluas penggunaanya, dan
penggunaannya bergantung pada fakta bahwa bila suatu selaput kaca dibenamkan
dalam suatu larutan, terjadi suatu potensial yang merupakan fungsi linier dari
konsentrasi ion hidrogen larutan itu (Akrimi dan Subroto, 2002).
DO (Disolved Oxygen)
Oksigen adalah unsur vital yang di perlukan
oleh semua organisme untuk respirasi dan sebagai zat pembakar dalm proses
metabolisme. Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen
dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara, dan dari proses
fotosintesis. Selanjutnya daur kehilangan oksigen melalui pelepasan dari
permukaan ke atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dari semua organisme
(Agustiningsih, 2014).
DO
atau Dissolved Oxygen berasal dari
hasil fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut umumnya berasal
dari difusi udara melalui permukaan air,
aliran air masuk, air hujan, dan hasil dari fotosintesis plankton atau tumbuhan
air. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Kadar oksigen
terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan
tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada
pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas
fotosintesis, respirasi, dan limbah yang masuk ke badan air. Peningkatan suhu
sebesar 1°C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%. Kandungan oksigen
terlaut minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh
senyawa beracun. Kandungan oksigen terlaut minimum ini sudah cukup mendukung
kehidupan organisme (Suharso, 2011).
Oksigen masuk dalam air payau
melalui difusi langsung dari udara, aliran air, termasuk hujan, dan proses
fotosintesa tanaman berhijau daun. Kandungan oksigen dapat menurun akibat
pernafasan organisme dalam air dan perombakan bahan organik. Cuaca mendung dan
tanpa angin dapat menurunkan kandungan oksigen di dalam air. Untuk kehidupan
ikan bandeng dengan nyaman diperlukan kadar oksigen minimum 3 mg per liter. Oksigen
terlarut di dalam air (Dissolved Oxygen = DO) (Simanjuntak, 2007).
Oksigen adalah salah
satu unsur kimia yang sangat penting sebagai penunjang utama kehidupan berbagai
organisme. Oksigen dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk proses respirasi
dan menguraikan zat organik menjadi zat anorganik oleh mikroorganisme. Oksigen
terlarut dalam air berasal dari difusi udara dan hasil fotosintesis organisme
berklorofil yang hidup dalam suatu perairan dan dibutuhkan oleh organisme untuk
mengoksidasi zat hara yang masuk ke dalam tubuhnya. Banyaknya oksigen yang
dibutuhkan untuk proses respirasi dan penguraian zat-zat organik oleh
mikroorganisme dinyatakan dengan Apparent
Oxygen Utilization (AOU). Dalam suatu perairan yang masih alami, nilai AOU
umumnya positip. Namun untuk perairan yang banyak mengandung zat-zat organik,
nilai AOU menjadi negatip yang berarti jumlah oksigen yang dibutuhkan lebih
banyak dibandingkan dengan jumlah oksigen yang tersedia (Agustira dkk, 2013).
Karakteristik
kimiawi, oksigen terlarut memegang peranan sangat penting dalam perairan dalam
fungsinya sebagai salah satu yang dibutuhkan oleh organisme perairan. Salah satu
yang memengaruhi kadar oksigen terlarut di perairan adalah suhu. Oksigen
terlarut juga menentukan kuantitas organisme suatu perairan. Selain itu oksigen
terlarut juga dipengaruhi faktor lain seperti tekanan uap air dan salinitas.
Oksigen larut di kolom air dengan berbagai reaksi dan proses-proses kimia yang
berlangsung di perairan, namun fluktuasi suhu akan menimbulkan perubahan
konsentrasi oksigen terlarut di perairan (Purba dan Khan, 2010).
Salinitas
Salinitas air adalah
konsentrasi dari total ion yang terdapat didalam perairan. Pengertian salinitas
air yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada
suatu perairan. Hal ini dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran
tentang padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi
oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh chlorida dan semua bahan
organik telah dioksidasi. Pengertian salinitas air yang lainnya adalah jumlah
segala macam garam yang terdapat dalam 1000 gr air (Hendrawan, 2015).
Salinitas atau kadar garam
adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat di perairan dan menggambarkan
padatan total di air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, bromida
dan iodida dikonversi menjadi klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi.
Salinitas ini dinyatakan dalam satuan gram/kg air atau permil (0/00). Nilai
salinitas sangat menentukan jenis perairan tersebut, di alam dikelompokkan
menjadi 3 yaitu perairan tawar, salinitas <0,50/00, perairan payau,
salinitas >0,50/00 – 300/00, perairan laut, salinitas >300/00 (Kusumatyas dkk., 2014).
Salah satu besaran dasar
dalam bidang ilmu kelautan adalah salinitas air laut. Salinitas seringkali
diartikan sebagai kadar garam dari air laut, walaupun hal tersebut tidak tepat
karena sebenarnya ada perbeda-an antara keduanya. Salinitas merupakan salah
satu faktor lingkungan yang berpengaruh penting pada konsumsi pakan,
metabolisme, sintasan, dan pertumbuhan organisme akuatik (Wijaya,
2009).
Pada perairan payau dapat
dikelompokkan lagi berdasarkan kisaran salinitas yang ada yaitu Oligohalin,
salinitas 0,50/00 – 3,00/00, Mesohalin, salinitas >3,00/00 – 160/00, Polyhalin,
salinitas >16,00/00 – 300/00. Perubahan salinitas bisa terjadi
sewaktu-waktu. Ketika hujan lebat air tawar masuk ke dalam tambak. Keadaan ini
dapat menyebabkan penurunan salinitas. Peningkatan salinitas terjadi dikala
musim kemarau, pada saat penguapan air tinggi dan pergantian air terbatas (Salmin, 2015).
Salinitas air yang sangat mudah dipahami
adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Hal ini
dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam
air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida
digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Sinambela
dan Sipayung, 2015).
Salah satu besaran
dasar dalam bidang ilmu kelautan adalah salinitas air laut. Salinitas
seringkali diartikan sebagai kadar garam dari air laut, walaupun hal tersebut
tidak tepat karena sebenarnya ada perbeda-an antara keduanya. Salinitas
merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh penting pada konsumsi
pakan, metabolisme, sintasan, dan pertumbuhan organisme akuatik (Salmin, 2005).
Salinitas air yang sangat mudah
dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Hal ini
dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam
air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida
digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Simanjuntak,
2009).
Salah satu besaran
dasar dalam bidang ilmu kelautan adalah salinitas air laut. Salinitas
seringkali diartikan sebagai kadar garam dari air laut, walaupun hal tersebut
tidak tepat karena sebenarnya ada perbeda-an antara keduanya. Salinitas
merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh penting pada konsumsi
pakan, metabolisme, sintasan, dan pertumbuhan organisme akuatik (Salmin, 2005).
Salinitas air yang sangat mudah
dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Hal ini
dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam
air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida
digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Simanjuntak,
2009).
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 14 November 2016 pada pukul 08.00 WIB
di Laboratorium Terpadu Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Alat dan Bahan
Alat
yang digunakan pada praktikum ini adalah handrefraktrometer untuk mengukur
salinitas, erlenmeyer sebagai media titrasi, pipet tetes untuk meneteskan
cairan.
Bahan
yang digunakan pada praktikum ini yaitu air clean-q sebagai air sampel.
Sedangkan untuk bahan titrasi metode winkler digunakan MnSO4, KOH-KI, H2SO4,
Na2S2O3, aquadest dan Amilum.
Metode Praktikum
Metode
yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengukur DO air kolam dengan
metode Winkler
a.
Metode pengukuran DO degan
metode winkler dapat diliat pada bagan berikut ini :


b.
Rumus menghitung kadar DO
dengan menggunakan titrasi winkler ialah sebagai berikut :
Keterangan :
DO :
Oksigen Terlarut (mg/l)
Ml Titran :
Volume titrasi Na2S2O3 (ml)
N Titran :
N titrasi Na2S2O3 (0,0125 ml)
V Sampel :
Volume air sampel yang dititrasikan
2.
Mengukur Salinitas dengan menggunakan refraktometer
·
Diambil air sampel menggunakan pipet tetes
·
Diteteskan air sampel di atas refraktometer sebanyak 1 tetes
·
Dilihat nilai salinitas di lubang refraktometer tersebut
·
Dicatat hasil pengamatan di buku catatan
Hasil
Hasil
yang diperoleh dari praktikum yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil perhitungan DO dan Salinitas
|
Parameter
|
Satuan
|
Sampel
|
||||
|
Aqua
|
Amoz
|
Clean Q
|
Oxy Water
|
Air Payau
|
||
|
DO
|
mg/l
|
4,65
|
3,92
|
3,16
|
9,65
|
-
|
|
Salinitas
|
0/00
|
0
|
0
|
0
|
0
|
3,3
|
Perhitungan DO
DO = N Na2S2O3 x ml
titran Na2S2O3 x 8 x 1000
DO = 0,0125 x 9,65 x
8 x 1000
100
DO = 965
100
DO
= 9,65 mg/l
Pembahasan
Dari hasil praktikum diketahui bahwa
nilai DO yang tertinggi adalah sampel clean-q yaitu sebanyak 4,65 mg/l. Semakin
bayak DO maka kualitas air akan semakin baik. Hal ini sesuai dengan Suharso
(2011), yang menyatakan bahwa kandungan oksigen terlaut minimum adalah 2 ppm
dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun. Semakin banyak
jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Kadar oksigen terlarut bervariasi
tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar
oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman,
tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air,
aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah yang masuk ke badan air.
Peningkatan suhu sebesar 1°C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%.
DO atau Dissolved Oxygen berasal
dari hasil fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut umumnya
berasal dari difusi udara melalui
permukaan air, aliran air masuk, air hujan, dan hasil dari fotosintesis
plankton atau tumbuhan air. Hal ini sesuai dengan Simanjuntak (2007), yang
menyatakan bahwa semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Kadar
oksigen terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air,
dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada
pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas
fotosintesis, respirasi, dan limbah yang masuk ke badan air. Peningkatan suhu
sebesar 1°C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%.
Dari
hasil praktikum salinitas air minum clean-q adalah 0. Salinitas atau kadar
garam adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat di perairan dan
menggambarkan padatan total di air setelah semua karbonat dikonversi menjadi
oksida, bromida dan iodida dikonversi menjadi klorida dan semua bahan organik
telah dioksidasi. Hal ini sesuai dengan Patty (2013), yang menyatakan bahwa
salinitas ini dinyatakan dalam satuan gram/kg air atau permil (0/00). Nilai
salinitas sangat menentukan jenis perairan tersebut, di alam dikelompokkan menjadi
3 yaitu perairan tawar, salinitas <0,50/00, perairan payau, salinitas
>0,50/00 – 300/00, perairan laut, salinitas >300/00.
Sumber
oksigen terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat diatmosfer
(sekitar 35%) dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton.Hal
ini sesuai dengan Akrimi dan Subroto (2002), yang menyatakan bahwa dengan kadar
oksigen yang terlarut dalam perairan alami
bervariasi tergantung dari suhu, tekanan parsial oksigen dalam atmosfer,
dan turbulensi air. Semakin besar suhu
dan ketinggian (altitude) serta
semakin kecil tekanan atmosfer.
Oksigen
terlarut dalam air sangat penting untuk menunjang pernafasan dan merupakan komponen utama dalam metabolisme
perairan. Oksigen mempunyai pengaruh
yang menentukan dalam siklus nitrogen yang membedakan proses nitrifikasi
dan denitrifikasi. Hal ini sesuai dengan Hendrawan (2005), yang menyatakan
bahwa pada umumnya oksigen terlarut memiliki distribusi vertikal yang menurun
dengan meningkatnya suatu kadar oksigen kedalaman dan sebaliknya.
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1.
Metode analisis sifat kimia air yang
dilakukan dalam praktikum ini adalah dengan metode Winkler, yaitu untuk
mengukur DO air clean-q.
2.
Pengukuran DO dengan
menggunakan metode Winkler dilakukan dengan melakukan titrasi sebanyak dua
kali, lalu dilakukan perhitungan DO dengan menggunakan rumus.
3.
Pengukuran
salinitas menggunakan refraktometer dilakukan dengan meneteskan air sampel ke
refraktometer lalu dilihat nilai salinitas dengan cara melihat lubang
angka/nilai pada refraktometer.
Saran
Saran
untuk praktikum ini adalah sebaiknya praktikan lebih memahami materi yang akan
disampaikan sebelum memulai praktikum agar pelaksanaannya berjalan dengan
lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Agustiningsih, D., S. B. Sasongko dan Sudarno. 2012. Analisis
Kualitas Air dan Strategi Pengendalian Pencemaran Air Sungai Blukar Kabupaten
Kendal. Jurnal Presipitasi. 9 (2). ISSN 1907-187X.
Agustira,
R., K. S. Lubis dan Jamilah. 2013. Kajian Karakteristik Kimia Air, Fisika Air
dan Debit Sungai Pada Kawasan DAS Padang Akibat Pembuangan Limbah Tapioka.
Jurnal Online Agroekoteknologi. 1 (3) : 615-625. ISSN : 2337-6597.
Akrimi dan G. Subroto. 2002. Teknik Pengamatan Kualitas Air dan
Plankton di Reservat Danau Arang-arang Jambi. Buletin Teknik Pertanian.
Palembang.
Farista, B. 2000. Kualitas Air Sumur Gali di Wilayah
Kotamadya Mataram Propinsi Nusa Tenggara Barat [Tesis]. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Hendrawan, D. 2005. Kualitas Air Sungai dan Situ di
DKI Jakarta, Jakarta Barat.
Kusumaningtyas, M. A., R. Bramawanto, A. Daulat dan
W. S. Pranowo. 2014. Kualitas Perairan Natuna Pada Musim Transisi. Depik. 3
(1): 10-20. ISSN 2089-7790.
Matahelumual, B. C. 2007. Penentuan Status Mutu Air
dengan Sistem STORET di Kecamatan Bantar Gebang. Pusat Lingkungan Geologi.
Bandung. Vol. 2 No. 2 Juni 2007:
113-118.
Patty, S. I. 2013. Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen Terlarut di
Perairan Kema Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax. 1 (3): 148-157. ISSN: 2302-3589.
Purba, N. P dan A. M. A. Khan. 2010. Karakteristik
Fisika-Kimia Perairan Pantai Dumai pada Musim Peralihan. Jurnal Akuatika. 1 (1)
: 69-83. ISSN : 0853-2523.
Salmin. 2005. Oksigen
Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu Indikator
Untuk Menentukan Kualitas Perairan. Bidang Dinamika Laut. Pusat Penelitian
Oseanografi-LIPI, Jakarta.
Simanjuntak, M. 2007. Oksigen
Terlarut dan Apparent Oxygen Utilization
di Perairan Teluk Klabat, Pulau Bangka. Jurnal Ilmu Kelautan. 12 (2) : 59-66.
Sinambela, M dan M. Sipayung.
2015. Makrozoobentos dengan Parameter Fisika dan Kimia di Perairan Sungai Babura
Kabupaten Deli Serdang. Universitas Negeri Medan, Medan.
Suharso, J. 2011. Pengaruh Pengisian Air Tanah
Buatan melalui Waduk Resapan terhadap Kualitas Air Tanah Dangkal [Skripsi].
Universitas Indonesia, Depok.
Wijaya, H. K. 2009. Komunitas
Perifiton dan Fitoplankton serta Parameter Fisika-Kimia Perairan Sebagai
Penentu Kualitas Air Di Bagian Hulu Sungai Cisadane, Jawa Barat [Skripsi].
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar