Senin, 21 November 2016

Sifat Kimia Air

Laporan Praktikum Kualitas Air Ke-IV
ANALISIS SIFAT KIMIA AIR
Oleh:

Reni Zulika Sinaga/150302032




download.png







LABORATORIUM KUALITAS AIR
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan tentang “Analisis Sifat Kimia Air”  ini dengan baik sebagai syarat masuk mengikuti praktikum di Laboratorium Terpadu Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc., selaku Dosen penanggungjawab Laboratorium Kualitas Air, Bapak               Ahmad Muhtadi Rangkuti, S.Pi., M.Si dan Bapak Rusdi Leidonald S.Pi., M.Sc., selaku Dosen mata kuliah Kualitas Air Universitas Sumatera Utara serta kepada seluruh Asisten Laboratorium Kualitas Air yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis berharap adanya kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan selanjutnya.





Medan,   November 2016

                                                                                                                         Penulis






DAFTAR ISI
Jl                                                                                                                   Halaman
KATA PENGANTAR..........................................................................................                    i
DAFTAR ISI..........................................................................................................                  ii
PENDAHULUAN
         Latar Belakang................................................................................... ............                  1
Tujuan Praktikum............................................................................... ............                 2
Manfaat Praktikum............................................................................ ............                  2
TINJAUAN PUSTAKA
Analisis Sifat Kimia Air.................................................................................                  3
Ph....................................................................................................................                  3
DO (Disolved Oxygen)...................................................................................                  4
Salinitas..........................................................................................................                  6
pH...................................................................................................................                  6
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat.........................................................................................                   8
Alat dan Bahan...............................................................................................                  8
Prosedur Praktikum........................................................................................                  8
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil..............................................................................................................                  10
Pembahasan..................................................................................................                   10
KESIMPULAN DAN SARAN                                                      
Kesimpulan........................................................................................ ..........                   12
Saran.................................................................................................. ..........                   12
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN          

PENDAHULUAN
Latar Belakang
                 Air merupakan asal muasal dari segala macam bentuk kehidupan di planet bumi ini. Bagi manusia kebutuhan akan air ini amat mutlak karena sebenarnya zat pembentuk tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air yang jumlahnya sekitar 65% dari bagian tubuh. Sehingga untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya manusia berupaya mengadakan air yang cukup bagi dirinya. Semakin maju tingkat kebudayaan masyarakat maka penggunaan air makin meningkat. Diketahui bahwa volume total air di bumi adalah sekitar 1,4 milyar km3 yang 97,4% adalah air laut. Sisanya 2,6% adalah berupa air tawar. Dari jumlah tersebut hanya 0,14% dari total jumlah air di bumi yang dengan segera dapat dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya (Hendrawan, 2005).
Air adalah sumber daya alam yang sangat vital, yang mutlak diperlukan bagi hidup dan kehidupan manusia. Dari waktu ke waktu tingkat pemanfaatan air semakin bertambah. Meningkatnya pemanfaatan sumber daya air ini bukan hanya disebabkan oleh tingginya kebutuhan akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi tapi juga oleh beragamnya jenis pemanfaatan sumber daya air. Sementara, air yang tersedia di alam yang secara potensial dapat dimanfaatkan manusia tetap tidak bertambah jumlahnya (Matahelumual, 2007).
            Air minum adalah air yang diperlukan untuk keperluan hidup rumah tangga, meliputi air untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan membersihkan rumah. Agar air minum tidak mengganggu kesehatan manusia harus memenuhi persyaratan fisika, kimia dan bakteriologis yang ditentukan oleh Dinas Kesehatan. Persyaratan fisika adalah persyaratan air yang dapat dilihat, dirasa maupun dibau. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang persyaratan air bersih dan air minum mencantumkan bahwa air minum harus tidak berbau, jernih, tidak berwarna, tidak berasa dan perbedaan suhu air dengan suhu ruang tidak boleh lebih dari 3 derajat.  Persyaratan kimia meliputi kadar atau kandungan zat kimia dalam air (Patty, 2014).
                Pemanfaatan air terutama air tanah yang terus meningkat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap air tanah itu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya, diantaranya berkurangnya kuantitas dan kualitas air tanah, penyusupan air laut dan amblesan tanah. Menurunnya kuantitas dan kualitas air tanah tersebut akan memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Agar pemanfaatan air tanah dapat optimal tanpa menimbulkan dampak negatif, maka dalam pelaksanaan kegiatan tersebut diperlukan panduan perencanaan pendayagunaan air tanah sebagai acuan dalam perencanaan pendayagunaan air tanah yang berwawasan lingkungan yang meliputi kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan air tanah      (Hendrawan, 2015).                  
Air tawar bersih untuk air minum semakin langka di perkotaan. Air tanah sudah tidak aman dijadikan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun air permukaan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa air minum dalam kemasan (AMDK) yang disebut-sebut menggunakan air pegunungan banyak dikonsumsi. Namun, harga AMDK dari berbagai merek yang terus meningkat membuat konsumen mencari alternatif baru yang murah. Air minum isi ulang (AMIU) menjadi pilihan yang lain. Keberadaan air minum isi ulang terus meningkat sejalan dengan dinamika keperluan masyarakat terhadap air minum yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi (Kusumaningtyas dkk., 2014).
Tujuan Praktikum
            Tujuan dari praktikum kualitas air ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui metode analisis sifat kimia air.
2.    Untuk mengetahui pengukuran DO pada sampel aqua dengan metode Winkler.
3.    Untuk mengetahui pengukuran salinitas dengan refraktometer.
Manfaat Praktikum
Praktikum kualitas air ini dapat bermanfaat sebagai sumber informasi terkait pengertian kualitas air, sifat kimia dan fisika yang terdapat di perairan serta sebagai salah satu syarat untuk mengikuti praktikum kualias air yang berikutnya.

TINJAUAN PUSTAKA
Analisis Sifat Kimia Air
            Sifat Kimia baik air laut, air hujan ,maupun air tanah/air tawar mengandung mineral. Macam-macam mineral yang terkandung dalam air tawar bervariasi tergantung struktur tanah dimana air itu diambil. Sebagai contoh mineral yang terkandung dalam air itu bukan melalui suatu reaksi kimia melainkan terlarut dari suatu subtansi misalnya dari batu andesit (dari batu vulkanis). Sifat kimia yang lain yaitu konduktivitas listrik pada air paling seikit 1000 kali lebih besar daripada cairan non metalik pada suhu ruangan (Patty, 2014).
            Aktivasi kimia bertujuan untuk menempelkan ion-ion aktif pada karbon, sehingga karbon akan memiliki kemampuan untuk mengikat molekul-molekul gas dalam udara atau partikel polutan dalam larutan. Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan aktivator antara lain adalah hidroksida logam alkali, garam-garam karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya ZnCl2, asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan H3PO4 (Meilita Tryana dan Tuti Sarma Sinaga, 2003). Selain bahan-bahan kimia di atas, kaporit/kalsium hipoklorit (Ca(OCl2)2) juga dapat digunakan sebagai bahan pengaktif (Salmin, 2005).
pH
Derajat keasaman (pH) mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan tumbuhan dan hewan perairan sehingga dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menilai kondisi suatu perairan sebagai lingkungan tempat hidup. Nilai pH dapat menunjukkan kualitas perairan sebagai lingkungan hidup, air yang agak basa dapat mendorong proses pembongkaran bahan organik yang ada dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diasimilasi oleh tumbuhan dan fitoplankton (Akrimi dan Subroto, 2002).
Jika dalam suatu perairan terdapat kandungan bahan organik yang tinggi, maka bahan organik tersebut harus diuraikan, untuk ini diperlukan oksigen. Dalam keadaan ada oksigen akan dihasilkan karbondioksida, uap air dan nitrat. Dalam keadaan tidak ada oksigen akan jika dalam suatu perairan terdapat bahan organik yang tinggi, maka hasil dekomposisi bahan organik tersebut diantaranya karbondioksida. Di dalam air karbondioksida ini akan membentuk asam karbonat. Keadaan ini juga bisa terjadi jika 1% dari karbondioksida bereaksi dengan air  sehingga membentuk asam karbonat. Pada pembentukan asam karbonat tersebut akan dihasilkan ion hidrogen yang mengakibatkan pH perairan menurun (Farista, 2000).
Pengukuran pH dapat menggunakan pH meter, kertas lakmus, dan cara calorimeter. Pengukuran pH menggunakan pH meter memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan dengan kertas lakmus dan cara calorimeter Penggunaan pH meter atau mengukur ion spesifik untuk mengukur konsentrasi ion hidrogen atau suatu ion yang lain dalam larutan, jelas merupakan contoh potensiometri langsung pH Meter adalah sebuah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH (kadar keasaman atau alkalinitas) dari suatu larutan. pH meter yang biasa terdiri dari pengukuran probe pH (elektroda gelas) yang terhubung ke pengukuran pembacaan yang mengukur dan menampilkan pH yang terukur. Elektroda kaca (gelas) merupakan elektroda indikator yang peka akan ion hidrogen yang paling meluas penggunaanya, dan penggunaannya bergantung pada fakta bahwa bila suatu selaput kaca dibenamkan dalam suatu larutan, terjadi suatu potensial yang merupakan fungsi linier dari konsentrasi ion hidrogen larutan itu  (Akrimi dan Subroto, 2002).
DO (Disolved Oxygen)
Oksigen adalah unsur vital yang di perlukan oleh semua organisme untuk respirasi dan sebagai zat pembakar dalm proses metabolisme. Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara, dan dari proses fotosintesis. Selanjutnya daur kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dari semua organisme (Agustiningsih, 2014).
DO atau Dissolved Oxygen berasal dari hasil fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut umumnya berasal dari difusi udara melalui  permukaan air, aliran air masuk, air hujan, dan hasil dari fotosintesis plankton atau tumbuhan air. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Kadar oksigen terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah yang masuk ke badan air. Peningkatan suhu sebesar 1°C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%. Kandungan oksigen terlaut minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun. Kandungan oksigen terlaut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Suharso, 2011).
Oksigen masuk dalam air payau melalui difusi langsung dari udara, aliran air, termasuk hujan, dan proses fotosintesa tanaman berhijau daun. Kandungan oksigen dapat menurun akibat pernafasan organisme dalam air dan perombakan bahan organik. Cuaca mendung dan tanpa angin dapat menurunkan kandungan oksigen di dalam air. Untuk kehidupan ikan bandeng dengan nyaman diperlukan kadar oksigen minimum 3 mg per liter. Oksigen terlarut di dalam air (Dissolved Oxygen = DO) (Simanjuntak, 2007).
Oksigen adalah salah satu unsur kimia yang sangat penting sebagai penunjang utama kehidupan berbagai organisme. Oksigen dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk proses respirasi dan menguraikan zat organik menjadi zat anorganik oleh mikroorganisme. Oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi udara dan hasil fotosintesis organisme berklorofil yang hidup dalam suatu perairan dan dibutuhkan oleh organisme untuk mengoksidasi zat hara yang masuk ke dalam tubuhnya. Banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi dan penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme dinyatakan dengan Apparent Oxygen Utilization (AOU). Dalam suatu perairan yang masih alami, nilai AOU umumnya positip. Namun untuk perairan yang banyak mengandung zat-zat organik, nilai AOU menjadi negatip yang berarti jumlah oksigen yang dibutuhkan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah oksigen yang tersedia (Agustira dkk, 2013).
Karakteristik kimiawi, oksigen terlarut memegang peranan sangat penting dalam perairan dalam fungsinya sebagai salah satu yang dibutuhkan oleh organisme perairan. Salah satu yang memengaruhi kadar oksigen terlarut di perairan adalah suhu. Oksigen terlarut juga menentukan kuantitas organisme suatu perairan. Selain itu oksigen terlarut juga dipengaruhi faktor lain seperti tekanan uap air dan salinitas. Oksigen larut di kolom air dengan berbagai reaksi dan proses-proses kimia yang berlangsung di perairan, namun fluktuasi suhu akan menimbulkan perubahan konsentrasi oksigen terlarut di perairan (Purba dan Khan, 2010).
Salinitas
Salinitas air adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat didalam perairan. Pengertian salinitas air yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Hal ini dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi. Pengertian salinitas air yang lainnya adalah jumlah segala macam garam yang terdapat dalam 1000 gr air (Hendrawan, 2015).
Salinitas atau kadar garam adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat di perairan dan menggambarkan padatan total di air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, bromida dan iodida dikonversi menjadi klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi. Salinitas ini dinyatakan dalam satuan gram/kg air atau permil (0/00). Nilai salinitas sangat menentukan jenis perairan tersebut, di alam dikelompokkan menjadi 3 yaitu perairan tawar, salinitas <0,50/00, perairan payau, salinitas >0,50/00 – 300/00, perairan laut, salinitas >300/00 (Kusumatyas dkk., 2014).
Salah satu besaran dasar dalam bidang ilmu kelautan adalah salinitas air laut. Salinitas seringkali diartikan sebagai kadar garam dari air laut, walaupun hal tersebut tidak tepat karena sebenarnya ada perbeda-an antara keduanya. Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh penting pada konsumsi pakan, metabolisme, sintasan, dan pertumbuhan organisme akuatik (Wijaya, 2009).
Pada perairan payau dapat dikelompokkan lagi berdasarkan kisaran salinitas yang ada yaitu  Oligohalin, salinitas 0,50/00 – 3,00/00, Mesohalin, salinitas >3,00/00 – 160/00, Polyhalin, salinitas >16,00/00 – 300/00. Perubahan salinitas bisa terjadi sewaktu-waktu. Ketika hujan lebat air tawar masuk ke dalam tambak. Keadaan ini dapat menyebabkan penurunan salinitas. Peningkatan salinitas terjadi dikala musim kemarau, pada saat penguapan air tinggi dan pergantian air terbatas (Salmin, 2015).
Salinitas air yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Hal ini dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Sinambela dan Sipayung, 2015).
Salah satu besaran dasar dalam bidang ilmu kelautan adalah salinitas air laut. Salinitas seringkali diartikan sebagai kadar garam dari air laut, walaupun hal tersebut tidak tepat karena sebenarnya ada perbeda-an antara keduanya. Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh penting pada konsumsi pakan, metabolisme, sintasan, dan pertumbuhan organisme akuatik (Salmin, 2005).
Salinitas air yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Hal ini dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Simanjuntak, 2009).
Salah satu besaran dasar dalam bidang ilmu kelautan adalah salinitas air laut. Salinitas seringkali diartikan sebagai kadar garam dari air laut, walaupun hal tersebut tidak tepat karena sebenarnya ada perbeda-an antara keduanya. Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh penting pada konsumsi pakan, metabolisme, sintasan, dan pertumbuhan organisme akuatik (Salmin, 2005).
Salinitas air yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Hal ini dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Simanjuntak, 2009).


METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat                                               
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 14 November 2016 pada pukul 08.00 WIB di Laboratorium Terpadu Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah handrefraktrometer untuk mengukur salinitas, erlenmeyer sebagai media titrasi, pipet tetes untuk meneteskan cairan.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu air clean-q sebagai air sampel. Sedangkan untuk bahan titrasi metode winkler digunakan MnSO4, KOH-KI, H2SO4, Na2S2O3, aquadest dan Amilum.
Metode Praktikum
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengukur DO air kolam dengan metode Winkler
a.       Metode pengukuran DO degan metode winkler dapat diliat pada bagan berikut ini :
b.      Rumus menghitung kadar DO dengan menggunakan titrasi winkler ialah sebagai berikut :

Keterangan  :
DO                   : Oksigen Terlarut (mg/l)
Ml Titran          : Volume titrasi Na2S2O3 (ml)
N Titran           : N titrasi Na2S2O3 (0,0125 ml)
V Sampel         : Volume air sampel yang dititrasikan

2.      Mengukur Salinitas dengan menggunakan refraktometer
·         Diambil air sampel menggunakan pipet tetes
·         Diteteskan air sampel di atas refraktometer sebanyak 1 tetes
·         Dilihat nilai salinitas di lubang refraktometer tersebut
·         Dicatat hasil pengamatan di buku catatan

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Hasil yang diperoleh dari praktikum yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil perhitungan DO dan Salinitas
Parameter
Satuan
Sampel
Aqua
Amoz
Clean Q
Oxy Water
Air Payau
DO
mg/l
4,65
3,92
3,16
9,65
-
Salinitas
0/00
0
0
0
0
3,3

Perhitungan DO
DO = N Na2S2O3 x ml titran Na2S2O3 x 8 x 1000
                            Volume Sampel Air
DO = 0,0125 x 9,65 x 8 x 1000
                        100
DO = 965
          100
DO = 9,65 mg/l
Pembahasan 
            Dari hasil praktikum diketahui bahwa nilai DO yang tertinggi adalah sampel clean-q yaitu sebanyak 4,65 mg/l. Semakin bayak DO maka kualitas air akan semakin baik. Hal ini sesuai dengan Suharso (2011), yang menyatakan bahwa kandungan oksigen terlaut minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Kadar oksigen terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah yang masuk ke badan air. Peningkatan suhu sebesar 1°C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%.
            DO atau Dissolved Oxygen berasal dari hasil fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut umumnya berasal dari difusi udara melalui  permukaan air, aliran air masuk, air hujan, dan hasil dari fotosintesis plankton atau tumbuhan air. Hal ini sesuai dengan Simanjuntak (2007), yang menyatakan bahwa semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Kadar oksigen terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah yang masuk ke badan air. Peningkatan suhu sebesar 1°C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%.
Dari hasil praktikum salinitas air minum clean-q adalah 0. Salinitas atau kadar garam adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat di perairan dan menggambarkan padatan total di air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, bromida dan iodida dikonversi menjadi klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi. Hal ini sesuai dengan Patty (2013), yang menyatakan bahwa salinitas ini dinyatakan dalam satuan gram/kg air atau permil (0/00). Nilai salinitas sangat menentukan jenis perairan tersebut, di alam dikelompokkan menjadi 3 yaitu perairan tawar, salinitas <0,50/00, perairan payau, salinitas >0,50/00 – 300/00, perairan laut, salinitas >300/00.
Sumber oksigen terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat diatmosfer (sekitar 35%) dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton.Hal ini sesuai dengan Akrimi dan Subroto (2002), yang menyatakan bahwa dengan kadar oksigen yang terlarut dalam perairan alami  bervariasi tergantung dari suhu, tekanan parsial oksigen dalam atmosfer, dan turbulensi  air. Semakin besar suhu dan ketinggian (altitude) serta semakin kecil tekanan atmosfer.
Oksigen terlarut dalam air sangat penting untuk menunjang pernafasan dan  merupakan komponen utama dalam metabolisme perairan. Oksigen mempunyai pengaruh  yang menentukan dalam siklus nitrogen yang membedakan proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Hal ini sesuai dengan Hendrawan (2005), yang menyatakan bahwa pada umumnya oksigen terlarut memiliki distribusi vertikal yang menurun dengan meningkatnya suatu kadar oksigen kedalaman dan sebaliknya.




KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.        Metode analisis sifat kimia air yang dilakukan dalam praktikum ini adalah dengan metode Winkler, yaitu untuk mengukur DO air clean-q.
2.        Pengukuran DO dengan menggunakan metode Winkler dilakukan dengan melakukan titrasi sebanyak dua kali, lalu dilakukan perhitungan DO dengan menggunakan rumus.
3.        Pengukuran salinitas menggunakan refraktometer dilakukan dengan meneteskan air sampel ke refraktometer lalu dilihat nilai salinitas dengan cara melihat lubang angka/nilai pada refraktometer.
Saran
Saran untuk praktikum ini adalah sebaiknya praktikan lebih memahami materi yang akan disampaikan sebelum memulai praktikum agar pelaksanaannya berjalan dengan lancar.


DAFTAR PUSTAKA
Agustiningsih, D., S. B. Sasongko dan Sudarno. 2012. Analisis Kualitas Air dan Strategi Pengendalian Pencemaran Air Sungai Blukar Kabupaten Kendal. Jurnal Presipitasi. 9 (2). ISSN 1907-187X.
Agustira, R., K. S. Lubis dan Jamilah. 2013. Kajian Karakteristik Kimia Air, Fisika Air dan Debit Sungai Pada Kawasan DAS Padang Akibat Pembuangan Limbah Tapioka. Jurnal Online Agroekoteknologi. 1 (3) : 615-625. ISSN : 2337-6597.

Akrimi dan G. Subroto. 2002. Teknik Pengamatan Kualitas Air dan Plankton di Reservat Danau Arang-arang Jambi. Buletin Teknik Pertanian. Palembang.

Farista, B. 2000. Kualitas Air Sumur Gali di Wilayah Kotamadya Mataram Propinsi Nusa Tenggara Barat [Tesis]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hendrawan, D. 2005. Kualitas Air Sungai dan Situ di DKI Jakarta, Jakarta Barat.

Kusumaningtyas, M. A., R. Bramawanto, A. Daulat dan W. S. Pranowo. 2014. Kualitas Perairan Natuna Pada Musim Transisi. Depik. 3 (1): 10-20. ISSN 2089-7790.

Matahelumual, B. C. 2007. Penentuan Status Mutu Air dengan Sistem STORET di Kecamatan Bantar Gebang. Pusat Lingkungan Geologi. Bandung.  Vol. 2 No. 2 Juni 2007: 113-118.

Patty, S. I. 2013. Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen Terlarut di Perairan Kema Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax. 1 (3): 148-157. ISSN: 2302-3589.

Purba, N. P dan A. M. A. Khan. 2010. Karakteristik Fisika-Kimia Perairan Pantai Dumai pada Musim Peralihan. Jurnal Akuatika. 1 (1) : 69-83. ISSN : 0853-2523.

Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan. Bidang Dinamika Laut. Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta.

Simanjuntak, M. 2007. Oksigen Terlarut dan Apparent Oxygen Utilization di Perairan Teluk Klabat, Pulau Bangka. Jurnal Ilmu Kelautan. 12 (2) : 59-66.

Sinambela, M dan M. Sipayung. 2015. Makrozoobentos dengan Parameter Fisika dan Kimia di Perairan Sungai Babura Kabupaten Deli Serdang. Universitas Negeri Medan, Medan.

Suharso, J. 2011. Pengaruh Pengisian Air Tanah Buatan melalui Waduk Resapan terhadap Kualitas Air Tanah Dangkal [Skripsi]. Universitas Indonesia, Depok.

Wijaya, H. K. 2009. Komunitas Perifiton dan Fitoplankton serta Parameter Fisika-Kimia Perairan Sebagai Penentu Kualitas Air Di Bagian Hulu Sungai Cisadane, Jawa Barat [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar