Rabu, 14 Juni 2017

MAKAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)

MAKAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN GURAMI
(Osphronemus gourami)

Oleh :

Reni Zulika Sinaga
130302032






                                          

  



MATA KULIAH BIOLOGI PERIKANAN
              PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2017


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan laporan Fisiologi Hewan Air yang berjudul “Makanan dan Kebiasaa Makan Ikan Gurami (Osphronemus gourami)”.  Laporan ini merupakan salah satu syarat masuk untuk praktikal Laboratorium Biologi Perikanan.
            Pada  kesempatan  ini  penulis  mengucapkan  terimakasih  kepada  Ibu Dr. Ani Suryanti, S.Pi, M.Si selaku dosen Biologi Perikanan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Demikianlah makalah ini penulis selesaikan. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pihai-pihak yang membutuhkan.



                                                            Medan,   Juni  2017
                                     Penulis



DAFTAR ISI
                                                                                                                      Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................                i
DAFTAR ISI.............................................................................................               ii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................               iii
PENDAHULUAN
Latar Belakang.................................................................................               1
Tujuan Penulisan..............................................................................               2
Manfaat Penulisan............................................................................               2
TINJAUAN PUSTAKA     
            Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)................................................              3
            Kebiasaan Makan Ikan......................................................................              4
            Makanan Ikan..................................................................................              6
KESIMPULAN DAN SARAN
            Kesimpulan ....................................................................................             11
            Saran..............................................................................................             11
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ikan sebagai hewan air memiliki beberapa fisiologi yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Misalnya sebagai hewan hidup di air baik itu di perairan tawar maupun di perairan laut menyebabkan ikan harus dapat mengetahui kekuatan arah arus, karenanya ikan dilengkapi dengan organ yang dikenal dengan linnea lateralis. Organ ini tidak ditemukan pada hewan darat. Contoh lain perbedaan konsentrasi antara medium tempat hidup dan konsentrasi cairan tubuh memaksa ikan melakukan osmoregulasi untuk mempertahankan konsentrasi cairan tubuhnya akibat difusi dan osmose (Fujaya, 2002).
Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis. Memiliki ciri khas pada tulang belakang, dan siripnya, serta bergantung pada air sebagai medium untuk kehidupan. Ikan memiliki keanekaragaman bentuk, ukuran, habitat, serta distribusi jenis ikan berdasarkan perbedaan ruang dan waktu sehingga membutuhkan pengetahuan tentang pengelompokan atau pengklasifikasian ikan pada umumnya bentuk tubuh ikan berkaitan dengan suatu kategori, namun terdapat pula jenis ikan yang memliki bentuk kombinasi. Ikan memiliki kemampuan didalam air untuk bergerak menggunakan siripnya, serta bergantung pada air untuk kehidupannya, ikan memiliki kemampuan didalam air untuk bergerak deengan menggunakan siripnya (Widayati dkk, 2013).
 Ikan gurami merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke seluruh perairan Asia Tenggara dan Cina. Masyarakat Indonesia sudah lama mengenal gurami, rasa dagingnya yang gurih dan lezat sangat digemari masyarakat. Gurami termasuk salah satu dari 12 komoditas untuk pemenuhan gizi masyarakat.Gurami banyak dikembangkan oleh para petani, hal ini dikarenakan permintaan pasar yang cukup tinggi dan pemeliharaannya yang relatif mudah. Namun salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi ini memiliki pertumbuhan yang lambat tetapi dapat diatasi dengan pemberian pakan berkualitas dalam jumlah yang cukup (Lucas dkk, 2015).
Ikan gurame memiliki tubuh agak panjang, tinggi, dan pipih ke samping. Ukuran mulutnya kecil, miring, dan dapat disembullkan. Ikan gurame memiliki garis lateral tunggal, lengkap, dan tidak terputus. Sisiknya stenoid (tidak membulat secara penuh) dan berukuran besar. Ikan ini memiliki gigi pada rahang bawah. Gurame umumnya hidup pada perairan tawar, namun ditemukan juga gurame yang hidup di perairan payau. Ikan gurame dilengkapi dengan alat pernafasan tambahan berupa labirin yang terletak di dalam rongga insang. Ikan gurame dapat menghirup oksigen langsung dari udara pada perairan yang miskin oksigen. Gurame tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah, suhu optimal untuk ikan gurame berkisar antara 28-32 oC. Ikan gurame lebih menyukai perairan yang jernih, dan tenang. Cara pergerakan ikan gurame dalam kolom air adalah vertikal (naik-turun) sehingga lebih menyukai perairan yang agak dalam (Aini, 2008).
Proses metabolisme ikan meningkat jika suhu naik hingga dibawah batas yang mematikan. Berdasarkan hokum van’t hoff, kenaikan suhu sebesar 100 C akan menyebabkan kecepatan reaksi metabolism meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan kondisi normal. Kebutuhan protein pada ikan untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimum sangat dipengaruhi oleh suhu (Kantun, 2012).
Pencernaan secara fisik dan mekanik dimulai di bagian rongga mulut yaitu
dengan berperannya gigi pada proses pemotongan dan penggerusan makanan. Pencernaan secara mekanik ini juga berlangsung di segmen lambung dan usus yaitu melalui gerakan-gerakan (kontraksi) otot pada segmen tersebut. Pencernaan secara mekanik di segmen lambung dan usus terjadi lebih efektif oleh karena adanya peran cairan digestif. Pada ikan, pencernaan secara kimiawi dimulai di bagian lambung, hal ini dikarenakan cairan digestif yang berperan dalam proses pencernaan secara kimiawi mulai dihasilkan di segmen tersebut yaitu disekresikan oleh kelenjar lambung. Pencernaan ini selanjutnya disempurnakan di segmen usus. Cairan digestif yang berperan pada proses pencernaan di segmen usus berasal dari hati, pankreas, dan dinding usus itu sendiri. Kombinasi antara aksi fisik dan kimiawi inilah yang menyebabkan perubahan makanan dari yang asalnya bersifat komplek menjadi senyawa sederhana atau yang asalanya berpartikel makro menjadi partikel mikro (Kusrini dkk, 2007).
Makanan alami ikan terdiri atas berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di perairan. Ketika masih berbentuk benih, makanan yang disukainya berupa zooplankton (plankton hewani), seperti Rotifera , Moina, atau Daphnia . Selain itu, benih ikan nila juga memakan alga atau lumut yang menempel di bebatuan yang ada di habitatnya. Saat di budidayakan, nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam. Jika telah mencapai ukuran dewasa, ikan ini bisa diberi berbagai pakan tambahan seperti pellet (Nuraeni, 2013).
Makanan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu organisme karena dapat menentukan luas penyebaran suatu spesies serta dapat mengontrol besarnya suatu populasi. Suatu organisme dapat hidup tumbuh dan berkembang karena adanya energi yang berasal dari makanan yang. Makanan yang terdapat pada lambung dikelompokkan sebagai makanan utama serta makanan tambahan. Dengan mengetahui makanan suatu jenis ikan maka dapat ditentukan kedudukan ikan itu apakah sebagai predator atau competitor (Astuti, 2011).
Kebiasaan makanan ikan dipelajari untuk menentukan gizi alamiah ikan tersebut. Pengetahuan tentang kebiasaan makanan ikan dapat digunakan untuk melihat hubungan ekologi di antara organisme di perairan tempat mereka berada, misalnya bentuk pemangsaan, persaingan, dan rantai makanan. Jadi, makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi keberadaan populasi           (Irawati, 2011).
Tujuan Praktikum
            Tujuan dari penulisan ini ini adalah sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui jenis  makanan pada  ikan gurami (Osphronemus gourami).
2.         Untuk mengetahui kebiasaan makan ikan gurami (Osphronemus gourami).
3.         Untuk mengetahui metode pengukuran jenis makanan dengan metode volumetrik dan gravimetrik pada ikan.
Manfaat Praktikum
            Manfaat dari praktikum ini yaitu sebagai syarat dalam mengikuti praktikal test praktikum Biologi Perikanan dan sebagai sumber informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
Gurame merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merah sawo dan bagian perut berwarna kekuning-kuningan atau keperak-perakan. Ikan gurami merupakan keluarga Anabantidae, keturunan helostoma dan bangsa labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke Malaysia, Thailand, Ceylon, dan Australia. Pertumbuhan ikan gurami agak lambatdibanding ikan air tawar jenis lain. Di Indonesia, orang Jawa menyebutkan Gurami, Guramih, orang Sumatera ikan Kalau, Kala, Kalui, sedangkan di Kalimantan disebut Kalui. Orang Inggris menyebutnya ‘Giant Gouramy’, karena ukurannya yang besar sampai mencapai berat 5 kg (Rosadi, 2012).
Ikan gurame memiliki tubuh agak panjang, tinggi, dan pipih ke samping. Ukuran mulutnya kecil, miring, dan dapat disembullkan. Ikan gurame memiliki garis lateral tunggal, lengkap, dan tidak terputus. Sisiknya stenoid (tidak membulat secara penuh) dan berukuran besar. Ikan ini memiliki gigi pada rahang bawah. Gurame umumnya hidup pada perairan tawar, namun ditemukan juga gurame yang hidup di perairan payau. Ikan gurame dilengkapi dengan alat pernafasan tambahan berupa labirin yang terletak di dalam rongga insang. Ikan gurame dapat menghirup oksigen langsung dari udara pada perairan yang miskin oksigen. Gurame tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah, suhu optimal untuk ikan gurame berkisar antara 28-32 oC. Ikan gurame lebih menyukai perairan yang jernih, dan tenang. Cara pergerakan ikan gurame dalam kolom air adalah vertikal (naik-turun) sehingga lebih menyukai perairan yang agak dalam         (Aini, 2008).
Ciri –ciri ikan ini mempunyai  bentuk badan panjang, lebar atau pipih ke samping, badan tertutup sisik–sisik  yang besar tampak kasar dan kuat. Ikan gurami dapat tumbuh dan berkembang di  perairan tawar pada ketinggian antara 0– 800 meter dari permukaan laut. Ikan ini menyukai perairan yang dalam, jernih dan tenang. Ikan gurami dapat tumbuh baik pada kondisi air yang mempunyai suhu 24–280 C dan pH 6,5–7,8. Ikan gurami termasuk hewan omnivora (pemakan segala) dari larva sampai benih berumur 4 bulan (Darini, 2010).
Pakan Ikan
Pakan merupakan salah satu faktor pembatas bagi organisme yang dibudidayakan. Sebagian besar stadia awal larva ikan yang memerlukan pakan alami fitoplankton atau zooplankton. Fitoplankton sangat dibutuhkan dalam kegiatan budidaya yang bersifat komersial, seperti pada jenis ikan (larva dan atau dewasa), bivalvia dan moluska (larva, juvenil dan dewasa). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pakan alami adalah ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, mudah dicerna, tidak beracun, mudah dikultur secara massal dan mengandung nutrisi tinggi. Ikan membutuhkan pakan yang cukup, baik dari segi kuantitas maupun kualitas untuk keperluan perkembangan dan keberhasilan hidupnya. Besarnya populasi ikan dalam suatu perairan antara lain juga ditentukan oleh pakan yang tersedia. Pakan yang dimakan oleh ikan akan mempengaruhi pertumbuhannya, kematangan individu serta keberhasilan hidupnya. Ketersediaan pakan dalam perairan selain dipengaruhi oleh kondisi biotik juga ditentukan oleh kondisi abiotik seperti suhu, cahaya, ruang dan luas permukaan pada perairan tersebut (Dani dkk, 2005).
            Ikan membutuhkan pakan sejak mulai hidup dari ukuran larva (burayak), dewasa sampai ukuran induk. Fungsi pakan adalah untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Pakan yang dimakan oleh ikan pertama-tama digunakan untuk kelangsungan hidup dan apabila ada kelebihannya akan dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Jadi bila menghendaki pertumbuhan ikan yang baik, maka harus diberi sejumlah pakan yang melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya (Murjani, 2009).
Pelet merupakan pakan buatan yang dipadatkan, dikompakkan melalui proses mekanik. Pelet dicetak dalam bentuk gumpalan dan silindier kecil yang berbeda diameter, panjang, dan tingkat keuatannya. Jenis pakan buatan bentuk pelet ada dua macam yaitu pelet terapung atau melayang dan pelet tenggelam. Pelet terapung atau melayang diberikan untuk ikan-ikan yang hidup di permukaan air sedangkan pelet tenggelam diberikan untuk ikan-ikan yang hidup di dasar perairan (Subandiyah dkk, 2003).
            Jentik nyamuk terdiri dari kepala, toraks, dan abdomen, serta ada corong udara dengan pekten dan sekelompok bulu-bulu. Sepanjang hidupnya, jentik kebanyakan berdiam di permukaan air walaupun mereka akan berenang ke dasar kontainer jika terganggu atau sedang mencari makanan. Pada saat istirahat, jentik membentuk sudut dengan permukaan air (Subekti dkk, 2011).
Cacing sutera (Tubifex sp.) merupakan pakan alami yang paling disukai oleh ikan air tawar. Cacing (Tubifex sp.) sangat baik bagi pertumbuhan ikan air tawar karena kandungan proteinnya tinggi. Pakan buatan adalah makanan ikan yang dibuat dari campuran bahan-bahan alami dan atau bahan olahan yang selanjutnya akan dilakukan proses pengolahan serta dibuat dalam bentuk tertentu sehingga tercipta daya tarik (merangsang) ikan untuk memakannya dengan mudah dan lahap, salah satu contoh pakan buatan yaitu pelet baik pelet tenggelam ataupun pelet terapung (Aggraeni dan Nurlita, 2013).
Kebiasaan Makan Ikan
Makanan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu organisme karena dapat menentukan luas penyebaran suatu spesies serta dapat mengontrol besarnya suatu populasi. Suatu organisme dapat hidup tumbuh dan berkembang karena adanya energi yang berasal dari makanan yang dimakan. Makanan yang terdapat pada lambung dikelompokkan sebagai makanan utama serta makanan tambahan. Dengan mengetahui makanan suatu jenis ikan maka dapat ditentukan kedudukan ikan itu apakah sebagai predator atau competitor (Astuti, 2011).
Kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara makan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan lebih lanjut, bagaimana cara ikan memperoleh makanannya. Faktor-faktor yang menentukan suatu jenis ikan akan memakan suatu jenis organisme adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera ikan terhadap makanan.Kebiasaan makanan ikan dipelajari untuk menentukan gizi alamiah ikan tersebut. Pengetahuan tentang kebiasaan makanan ikan dapat digunakan untuk melihat hubungan ekologi di antara organisme di perairan tempat mereka berada, misalnya bentuk pemangsaan, persaingan, dan rantai makanan. Jadi, makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi keberadaan populasi (Irawati, 2011).
Cara ikan mengambil makanan dari alam lingkungan sangat bervariasi yaitu tergantung pada ukuran, umur ikan, spesies ikan dan sipat ikannya. Dalam upaya mendapatkan dan memakan makanannya sangat dipengaruhi oleh posisi keberadaan mangsa yang akan dimakan, aktivitas gerak dari mangsa, bentuk makanan, ukuran makanan dan warna dari makanan yang akan dimakan. Ikan akan aktif bergerak dengan bantuan dari semua sirip yang dimilikinya, tetapi apabila kesehatan ikan atau organnya berupa sirip ini terganggu ini akan mempengaruhi pergerakan dari ikan-ikan tersebut (Denny, 2012).
Berdasarkan cara makan ikan dapat kita bedakan menjadi 5 golongan yaitu pemangsa (Predator), penghisap (Sucker), penggerogot (Grazer), parasit dan penyaring (Strainer). Beberapa larva ikan termasuk kedalam ikan yang memiliki cara makandengan tipe penghisap atau sucker, ikan penghisap (sucker) adalah ikan-ikan yang cara mengambil makanannya dengan jalan menghisap lumpur atau pasir di dasar perairan akan tetapi sebagian dari ikan penghisap ini ada yang memiliki kemampuan untuk memisahkan bahan makanan dari yang bukan bahan makanan maka melimpahnya fitoplankton di kolam pemeliharaan larva ikan memudahkan larva ikan untuk mengkonsumsinya dengan cara menghisapnya (Widiana dkk, 2013).
Analisis kebiasaan makanan dilakukan dengan cara membedah ikan contoh dan mengambil saluran pencernaan (lambung dan usus), kemudian diawetkan dalam larutan formalin 4% untuk selanjutnya dianalisis (identifikasi) jenis makanannya Semua jenis organisme yang terdapat dalam alat pencernaan dicatat. Identifikasi jenis organisme yang ditemukan pada saluran pencernaan dapat digunakan untuk menentukan golongan ikan dengan akurat (Astuti, 2011).
Metode volumetrik dilakukan dengan cara mengukur volume isi alatpencernaan tiap individu. Kemudian keringkan dengan menggunakan kertassaring atau tisu. Memisahkan masing-masing organisme yang sejenis dan ukurvolumenya dengan dikeringkan terlebih dahulu. Jenis makanan yang tidak dapatditentukan dimasukkan ke dalam kelompok makanan yang tidak teridentifikasi. Volume organisme sejenis dibandingkan dengan volume total isi pencernaanmakanan dan dinyatakan dalam persen. Volume total keseluruhan jenis makananadalah 100 % (Sari, 2008).
Pembahasan
Ikan gurami akan mengkonsumsi pakan yang sesuai dengan kabutuhannya untuk melakukan proses metabolisme. Pakan yang dikonsumsi oleh ikan dapat mempengaruhi pertumbuhan karena pakan yang masuk mengandung protein dan karbohidrat.  Hal ini sesuai dengan Murjani (2009), yang menyatakan bahwa ikan membutuhkan pakan sejak mulai hidup dari ukuran larva (burayak), dewasa sampai ukuran induk. Fungsi pakan adalah untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Pakan yang dimakan oleh ikan pertama-tama digunakan untuk kelangsungan hidup dan apabila ada kelebihannya akan dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Jadi bila menghendaki pertumbuhan ikan yang baik, maka harus diberi sejumlah pakan yang melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya.
Ikan gurami termasuk jenis ikan herbivora karena memiliki panjang saluran usus atau saluran pencernaan yang panjangnya dua kali lipat dari panjang tubuhnya. Hal ini sesuai dengan Asyari dan Fatah (2011) yang menyatakan bahwa semua saluran pencernaan ikan telah disesuaikan dengan makanan yang dikonsumsi oleh ikan tersebut, agar proses mencerna makanan dapat berlangsung optimum. Ikan yang bersifat herbivora memiliki saluran pencernaan yang lebih panjang dibandingkan ikan omnivora dan karnívora karena jenis makanan yang dimakan seperti tumbuh-tumbuhan dan lainnya lebih susah hancur sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencernanya. Pada ikan vegetaris (herbivora) saluran pencernaan dapat tiga kali panjang tubuhnya.
Organ pencernaan pada ikan gurami dimulai mulut yang berfungsi sebagai tempat masuknya makanan, kerongkongan, lambung, usus dan berakhir di anus. Usus berfungsi sebagai alat pencernaan dan anus sebagai tempat pengeluaran sisa-sisa makanan. Hal ini sesuai dengan wahyuningsih dkk, (2013) yang menyatakan bahwa secara umum organ pencernaan yang terdiri atas mulut, rongga mulut, tekak, kerongkongan, lambung, pylorus, usus dan anus. Mulut berfungsi untuk mengambil makanan yang biasanya di telan bulat-bulat tanpa ada perubahan, tekak terletak anatara mulut bagian belakan dan insang bagian belakang.
Ikan gurami mempunyai kebiasaan makan dengan melakukan penggerogotann pada makananya. Ukuran mulut ikan gurami tergolong kecil dan mempunyai gigi-gigi yang kacil. Hal ini sesuai dengan Widiana dkk, (2013) yang menyatakan bahwa berdasarkan cara makan ikan dapat kita bedakan menjadi 5 golongan yaitu pemangsa (Predator), penghisap (Sucker), penggerogot (Grazer), parasit dan penyaring (Strainer). Beberapa larva ikan termasuk kedalam ikan yang memiliki cara makan dengan tipe penghisap atau sucker, ikan penghisap (sucker) adalah ikan-ikan yang cara mengambil makanannya dengan jalan menghisap lumpur atau pasir di dasar perairan akan tetapi sebagian dari ikan penghisap ini ada yang memiliki kemampuan untuk memisahkan bahan makanan dari yang bukan bahan makanan maka melimpahnya fitoplankton di kolam pemeliharaan larva ikan memudahkan larva ikan untuk mengkonsumsinya dengan cara menghisapnya.
Pengamatan kebiasaan makan ikan dapat dilihat dengan membedah ikan, lalu diambil saluran pencernaannya atau usus, kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi lihat volume usus, lalu kerik bagian dalam usus dan masukkan kembali kedalam tabung reaksi yang sudah berisi air. Hal ini sesuai dengan Astuti (2011), yang menyatakan bahwa analisis kebiasaan makanan dilakukan dengan cara membedah ikan contoh dan mengambil saluran pencernaan (lambung dan usus), untuk selanjutnya dianalisis (identifikasi) jenis makanannya Semua jenis organisme yang terdapat dalam alat pencernaan dicatat. Identifikasi jenis organisme yang ditemukan pada saluran pencernaan dapat digunakan untuk menentukan golongan ikan dengan akurat.
Dalam pengukuran volume isi pencernaan ikan gurami dapat dilakukan dengan menggunakan metode volumetrik. Dilakukan dengan mengkerik isi usus ikan gurami lalu dihitung selisih volume usus dengan yang belum dikerik dalam tabung reaksi, yaitu didapat ikan 1 = 57%, ikan 2 =  100% dan ikan 3 = 33%. Hal ini Sari (2008), yang menyatakan bahwa metode volumetrik dilakukan dengan cara mengukur volume isi alat pencernaan tiap individu. Kemudian keringkan dengan menggunakan kertas saring atau tisu. Memisahkan masing-masing organisme yang sejenis dan ukur volumenya dengan dikeringkan terlebih dahulu. Jenis makanan yang tidak dapat ditentukan dimasukkan ke dalam kelompok makanan yang tidak teridentifikasi. Volume organisme sejenis dibandingkan dengan volume total isi pencernaan makanan dan dinyatakan dalam persen. Volume total keseluruhan jenis makanan adalah 100 %.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
       Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.        Ikan gurami memakan tanaman air dan fitoplankton.  
2.        Ikan gurami termasuk jenis ikan herbivora yaitu pemakan tumbuhan. Karena itu, ikan gurami mempunyai panjang usus dua kali lipat dari tubuhnya.
3.        Metode volumetrik dihitung dengan menghitung volume organisme sejenis dibandingkan dengan volume total isi pencernaan makanan dan dinyatakan dalam persen. Volume total keseluruhan jenis makanan adalah 100 %. Sedangkan metode gravimetrik dihitung dengan mengitung berat suatu jenis makanan dibanding dengan berat total jenis makanan dan dinyatakan dalam persen.
Saran
            Saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah hendaknya alat lebih dilengkapi lagi dan dalam melakukan suatu pembedahan perlu dilakukan secara hati-hati agar bagian yang akan diamati tidak rusak dan dalam pengamatannya berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA
Aini, Y. 2008. Kinerja Pertumbuhan Ikan Gurame Pada Media Bersalinitas 3 Ppt Dengan Paparan Medan Listrik. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Astuti, E., Abduljabarsyah., Irawati. 2011. Studi Aspek Kebiasaan Makanan Ikan Nomei yang Tertangkap di Perairan Juata Laut Tarakan. Universitas Borneo, Tarakan..

Fujaya. Y. 2002. Fisiologi Hewan Ikan. Depertemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Irawati. 2011. Kebiasaan Makanan Ikan Merah (Lutjanus boutton)di Perairan Pallameang, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kantun, W. 2012. Temperatur dan reproduksi. Sekolah Tinggi Infomasi dan Teknologi Balik Dewa, Indonesia.

Kusrini, E., Nurul, H., K., Adi, S. Dan Marlina, A. 2010. Anatomi Organ Pencernaan Ikan Nila Merah Oreochromis Sp. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Lucas, W. G. F., O. J. Kalesaran, dan C. Lumenta. 2015.  Pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva gurami (Osphronemus gouramy) dengan pemberian beberapa jenis pakan. Jurnal Budidaya Perairan. 3 (2) : 19-28.

Nurani, F. R., Novi, R. S., Bountyfa., Yessy, N. 2010. Pengaruh Penambahan Perasan Kunyit (Curcuma longa) pada Pakan terhadap Daya Cerna dan Pertumbuhan Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy). Universitas Airlangga, Surabaya.

Rosadi, D. 2012. Pola Keruangan Budidaya Kolam Ikan Gurami di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. [Skripsi]. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, Depok.

Sari, F. W. 2008. Studi Kebiasaan Makanan Ikan Layur(Superfamili Trichiuroidea) di PerairanPalabuhanratu, Kabupaten Sukabumi,Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Subandiyah, S., R. Hinawati, S. Rohmy, dan Atmaja. 2010. Pemeliharaan Larva Ikan Hias Pelangi Asal Danau Kurumoi Umur 7 Hari dengan Pakan Alami. Seminar Nasional Biologi.


Widiana, A., A. Kusumorini, S. Handayani. 2013. Potensi Fitoplankton Sebagai Sumber Daya Pakan pada Pemeliharaan Larva Ikan Mas (Cyprinus Carpio) di BBPBAT Sukabumi. Jurnal Biologi. 6 (2).

Widayati, D. E., Aunurrohim dan N. Abdulgani. 2013. Studi Hispatologi Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) pada Konsentrasi Sublethal Air Lumpur Sidoarjo. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.







2 komentar: