Sabtu, 19 November 2016

JENIS AVERTEBRATA AIR KEONG TEROMPET (Melanoides tuberculotus)

Description: Description: Description: C:\Users\Jeni Ariyanti\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\logo usu untuk semua png (1).pngLaporan Laboratorium Avertebrata Air
JENIS AVERTEBRATA AIR
KEONG TEROMPET (Melanoides tuberculotus)
Oleh:
Kelompok XI/A
Muhammad Zubeir Rangkuti          150302020
Reni Zulika Sinaga                          150302032
Eddie Satria Hartono                       150302072










LABORATORIUM AVERTEBRATA AIR
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
                                                               2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, serta taufik dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “Jenis Avertebrata Air Tawar Keong Terompet (Melanoides tuberculatus)”. Laporan ini menjelaskan tentang jenis – jenis, morfologi, serta cara makan dari jenis avertebrata air tawar keong terompet (Melanoides tuberculatus).
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Avertebrata Air yaitu Ibu Dr. Eri Yusni M.Sc, Ibu Ipanna Susetya S.kel, M.Si dan Ibu Amanatul Fadhila juga kepada seluruh Asisten Laboratorium Avertebrata yang telah membimbing penyusun dalam menyelesaikan laporan ini.
Penyusun menyadari bahwa di dalam laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih.



Medan,    Oktober 2016




Penyusun        








PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perairan umum daratan Indonesia biasanya ditaksir seluas 13,85 juta hektar, terdiri atas 12,0 juta hektar sungai dan paparan banjiran, 1,8 juta hektar danau alam dan 0,05 juta hektar waduk Indonesia memiliki sekitar 5.590 sungai utama dengan panjang total mencapai 94.573 km dan sekitar 65.017 anak sungai. Luas perairan umum daratan tersebut 65 %  berada di Kalimantan, 23 % di Sumatera, 7,8 % di Papua, 3,5 % di Sulawesi dan 0,7 % di Jawa, Bali dan Nusa tenggara (Azrita, 2013).
Indonesia terletak di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia ini terlihat dari berbagai macam ekosistem yang ada di Indonesia, seperti: ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air laut, ekosistem savanna, dan lain - lain. Masing - masing ekosistem ini memiliki keaneragaman hayati tersendiri (Ridwan, 2012).
     Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17.504 pulau dengan panjang garis pantai 81.000 km dengan luas perairan laut sekitar 5,8 juta km2 (75% dari wilayah Indonesia), membentang pada garis khatulistiwa, menyebabkan Indonesia mempunyai sumberdaya hayati yang sangat kaya dan beragam baik untuk wilayah darat maupun laut, sehingga dikenal sebagai negara  mega biodiversity. Kekayaan hayati tersebut perlu dimanfaatkan sebaik - baiknya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia (Karnila, 2011).
Hewan avertebrata air adalah hewan air yang tidak memiliki tulang belakang dan susunan pencernaanya terletak dibawah saluran pencernaan. Avertebrata dibedakan menjadi enam filum antara lain : porifera yaitu hewan yang permukaan tubuhnya berpori - pori halus sebagai tempat masuknya air, coelenterate yaitu hewan yang memiliki tubuh berongga dengan mulut terletak dibagian atas yang dikelilingi oleh tentakel, vermes yaitu memiliki bentuk tubuh memanjang yang pipih, gilig, atau beruas - ruas, mollusca yaitu hewan yang memiliki tubuh lunak yang dapat menyekresikan lendir (Damayanti, 2010).
Mollusca disebut juga binatang lunak. Tubuhnya lunak tanpa rangka dan berlendir, bilateral simetris. Tubuhnya terbungkus dalam cangkang berkapur, tubuh diselubungi mantel. Mollusca ada yang bercangkang dan ada yang tidak. Tubuh terdiri dari kaki, massa visceral dan mantel. Molusca dibagi menjadi 7 kelas yaitu : Aplacophora, Monoplacophora, Polyplacophora, Scaphopoda, Gastropoda, Cephalopoda, dan Pelecypoda. Molusca berperan sebagai sumber protein hewani yang dapat dikonsumsi dan beberapa spesies dapat menghasilkan mutiara yang memiliki nilai ekonomis tinggi (Hastuti, 2015).
Keanekaragaman hayati merupakan varasi atau perbedaan bentuk-bentuk makhluk hidup, meliputi perbedaan pada tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, materi genetik yang di kandungnya, serta bentuk - bentuk ekosistem tempat hidup suatu makhluk hidup. Keanekaragaman hayati disebut juga “Biodiversitas”. Keanekaragaman atau keberagaman dari makhluk hidup dapat terjadi karena akibat adanya perbedaan warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur, penampilan dan sifat-sifat lainnya (Wardianto, 2004).
            Hewan avertebrata air adalah hewan air yang tidak memiliki tulang belakang dan susunan pencernaanya terletak dibawah saluran pencernaan. Avertebrata dibedakan menjadi enam filum antara lain : porifera yaitu hewan yang permukaan tubuhnya berpori - pori halus sebagai tempat masuknya air, coelenterate yaitu hewan yang memiliki tubuh berongga dengan mulut terletak dibagian atas yang dikelilingi oleh tentakel, vermes yaitu memiliki bentuk tubuh memanjang yang pipih, gilig, atau beruas - ruas, mollusca yaitu hewan yang memiliki tubuh lunak yang dapat menyekresikan lendir (Damayanti, 2010).
Mollusca disebut juga binatang lunak. Tubuhnya lunak tanpa rangka dan berlendir, bilateral simetris. Tubuhnya terbungkus dalam cangkang berkapur, tubuh diselubungi mantel. Mollusca ada yang bercangkang dan ada yang tidak. Tubuh terdiri dari kaki, massa visceral dan mantel. Molusca dibagi menjadi 7 kelas yaitu : Aplacophora, Monoplacophora, Polyplacophora, Scaphopoda, Gastropoda, Cephalopoda, dan Pelecypoda. Molusca berperan sebagai sumber protein hewani yang dapat dikonsumsi dan beberapa spesies dapat menghasilkan mutiara yang memiliki nilai ekonomis tinggi (Hastuti, 2015).
Gastropoda adalah salah satu kelas dari moluska yang diketahui berasosiasi dengan ekosistem lamun. Komunitas gastropoda merupakan komponen yang penting dalam rantai makanan di padang lamun, di mana gastropoda merupakan hewan dasar pemakan detritus (detritus feeder). Gastropoda merupakan anggota moluska yang sebagian besar bercangkang. Cangkang berasal dari materi organik dan anorganik, didominasi oleh kalsium karbonat (CaCO3). Selain sebagai salah satu komponen yang penting dalam rantai makanan, beberapa jenis gastropoda juga merupakan keong yang bernilai ekonomis tinggi karena cangkangnya diambil sebagai bahan untuk perhiasan dan cenderamata seperti beberapa jenis keong dari suku Strombidae, Cypraeidae, Olividae, Conidae, Trochidae dan Tonnidae (Saripantung dkk., 2013).
Tujuan Praktikum
      Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui morfologi keong terompet (Melanoides tuberculatus).
2.      Untuk mengetahui cara makan dari keong terompet (Melanoides tuberculatus).
3.      Untuk mengetahui habitat dari keong terompet (Melanoides tuberculatus).
Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini adalah sebagai informasi mengetahui tentang jenis avertebrata air tawar keong terompet (Melanoides tuberculatus) dan juga sebagai salah satu syarat masuk untuk mengikuti  praktikum selanjutnya.

TINJAUAN PUSTAKA
Jenis Keong Terompet (Melanoides tuberculatus)
Moluska merupakan kelompok invertebrata terbesar kedua yang sebagian besar anggotanya hidup di wilayah perairan. Keanekaragamannya mencapai lebih dari 50.000 spesies. Moluska memiliki nilai penting bagi manusia yaitu sebagai bahan perhiasan dan bahan makanan. Selain itu, keberadaan, kepadatan dan kemelimpahan Moluska di suatu daerah dapat digunakan sebagai acuan penilaian kualitas ekologi di daerah tersebut (Istiqlal, dkk., 2014).
 Moluska terutama dari kelas bivalvia merupakan hewan lunak yang mempunyai cangkang, dapat hidup di darat, sungai, laut, ataupun pada daerah estuari (daerah peralihan antara daratan dan lautan). Tercatat ada sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja yaitu pulau Seram, Maluku. Jumlahnya tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang, akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup dalam tanah, sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan (Kustiarini, 2011).
 Sebagian besar Moluska hidup di wilayah perairan laut. Populasi Moluska di wilayah perairan dapat dipengaruhi oleh kegiatan manusia seperti rekreasi, memancing, eksplorasi dan pengambilan hewan - hewan untuk koleksi pribadi. Suatu penelitian di kawasan perairan dengan sedikit aktifitas manusia menunjukkan jumlah Moluska yang sangat berlimpah. Keberadaan manusia berpengaruh terhadap menurunnya kepadatan populasi Moluska di wilayah perairan dari waktu ke waktu (Istiqlal, dkk., 2013).
Hewan moluska termasuk avertebrata yang bertubuh lunak, tidak bersekmen dan pada umumnya bahagian tubuhnya yang lunak dilindungi oleh cangkang yang terbuat dari bahan  karbonat. Phylum moluska merupakan salah satu group invertebrata yang paling banyak jenisnya dibanding dengan group - group organisme lainnya. Beberapa hewan moluska yang digemari masyarakat di Riau meliputi jenis siput - siputan seperti Strombus, Littorina,Telescopium, Cerithids (Gastropoda) ; kerang darah, kerang bulu, Tapes, dan Lokan (bivalva); dan cumi-cumi dan gurita (Cephalopoda). Siput Strombuscanarium adalah salah satu spsies yang paling diminati setelah Anadara.Spesies ini tergolong ke dalam kelas gastropda, family Strombaceae. Siput ini bersifat herbivor yang makanannya terdiri dari tumbuhan alga, plankton, detritus dan lamun. Siput S. canarium banyak terdapat di perairan pantai dengan dasar pasir dan lumpur. dikenal siput ini dengan nama siput gonggong dan sangat popular sebagai bahan makanan dari laut. Sayangnya populasi siput ini di alam sudah mulai menurun. Hal ini antara lain disebabkan semakin meningkatnya aktivitas manusia di wilayah pesisir maupun di laut, misalnya aktivitas reklamasi, industri, dan penangkapan berlebihan (Nuha, 2015).
Siput merupakan nama umum yang diberikan pada anggota moluska dari kelas gastropoda. Gastropoda merupakan kelas terbesar dalam filum Molluska dengan sekitar 77.000 jenis yang teridentifikasi. Sejauh ini studi tentang interaksi maupun keberadaan siput gastropoda di mangrove, terumbu karang maupun lamun sebagai tiga ekosistem utama di lingkungan laut telah banyak dilakukan. Sementara studi yang menyangkut moluska pada alga makro masih kurang                                 (Rau, dkk., 2013).
Keragaman biota lain adalah Kelompok moluska seperti: Melanoides sentaniensis, Melanoides tuberkulata, Melanoides granifera, Melanoides copalis, Melanoides canalis, Thiara scabra, Metilus sp. Belamiya sp., dan Pomacea canaliculata. Beberapa diantaranya bernilai ekonomi sebagai sumber pendapatan keluarga, yang diketahui pula sebagai sumber protein nomor dua setelah ikan bagi masyarakat sekitar danau. Di Indonesia tercatat ada 15 jenis keong tutut.Lima jenis yang dilaporkan Sarasin, yakni yang disebutnya Vivipara costata, V. persculpta, V. crassibucca, V. lutulenta, V. rudipellis, empat jenis terakhir merupakan jenis baru yang dideskripsi.ada 8 jenis yang disebutnya sebagai Bellamya decipiens decipiens, B. decipiens aruana, B. kowiayiensis, B. wisseli, B. tricostata tricostata, B. tricostata elegans, B. tricostata multifuniculata, B. Fragilis (Surbakti, 2011).
Di daerah mangrove terdapat biota akuatik yang hidup berasosiasi dengan mangrove antara lain moluska, krustasea dan ikan. Moluska sangat banyak ditemukan pada daerah mangrove di Indonesia. Jenis-jenis moluska ini ada yang menempati akar dan ada juga yang mendiami batang mangrove antara lain famili Littorinidae dan yang menempati daerah lumpur di dasar akar antara lain famili Ellobiidae dan Pottamidae. Terdapat 11 spesies dari 8 famili yaitu, Littoraria scabra, Nerita planospira, Chicoreus capucinus, Nerita undata, Chrithidea cingulata, Terebralia sulcata, Telecopiun telescopium, Polymesoda expansa, Isognomon ephippium, Saccostrea cucculata, Anomalocardia squamosal (Rau, dkk., 2013).
Siput merupakan salah atu komoditi perikanan, namun dalam hal pemanfaatannya siput  masih sedikit dilakukan. Hanya sebagian kecil dari masyarakat yang memanfaatkan siput ini sebagai salah satu bahan pangan penghasil protein hewani. Kegiatan tersebut semakin langka, diduga karena permintaan siput tidak banyak bergeser kepermintaan kerang - kerangan dari laut. Siput terompet dikenal dengan hewan yang memiliki cangkang yang keras yang berbentuk terompet, sebagaian masyarakat pesisir Riau mengenalnya dengan sebutan siput terompet jantan atau siput jantan yang artinya siput tersebut memiliki cangkang berbentuk terompet dan runcing dibagian ekor, sedangkan yang betina cangkangnya berbentuk bulat ukurannya seperti kelereng, untuk penelitian ini yang digunakan adalah siput jantan sebagai sampel (Sumarto, dkk., 2011).
Faktor penentu kelangsungan hidup suatu biota diantaranya adalah kemampuan adaptasi suatu spesies terhadap suatu lingkungan tertentu, disamping  kemampuan reproduksi yang tinggi dan tidak adanya predator. Keong  M. tuberculata  memiliki tingkat reproduksi yang tinggi dan bersifat partenogenesis, yaitu apabila ada satu saja individu dewasa terisolir, maka individu tersebut akan dapat membentuk koloni yang baru. Faktor inilah yang membuat  M. tuberculata  umumnya mempunyai populasi yang melimpah dan dengan kerapatan. Tiga spesies kerang yang dijumpai di situ - situ DAS Ciliwung Cisadane yang tinggi di suatu habitat perairan tawar. Sementara itu, keong Mas  P. canaliculata betina dapat bertelur sedikitnya  tiga  kali dalam seminggu sepanjang hidupnya, mampu menghasilkan telur sebanyak 3.000 butir dalam 140 hari (Marwoto dan Isnaningsih, 2014).
Morfologi Keong Terompet (Melanoides tuberculatus)
Morfologis keong terompet mempunyai ukuran cukup kecil dengan panjang 3-5 mm dengan cangkang berbentuk kerucut dan berwarna coklat agak kehitam-hitaman, secara umum didapatkan pada akar-akat rumput atau melekat pada ranting pohon, bersifat amfibi (amphibious) sehingga tidak dapat hidup pada daerah tergenang air atau di daerah kering. Keong terompet mempunyai cangkang yang berbentuk kerucut, permukaan licin berwarna coklat kekuning - kuningan dan agak jernih bila dibersihkan dengan lingkar 6,5 - 7,5 mm dan panjang 5,2 ± 0,6 mm dengan ambilicus yang terbuka, bibir luar melekuk dan bibir dalam menonjol di bawah basis cangkang, pada operculum mengandung zat tanduk dan agak keras. Kelenjar disekitar mata yang disebut eyebrowsberwarna kuning muda sampai kuning cerah. Jika dibandingkan dengan jenis keong yang lain. Keong ini dapat hidup di daerah lembab tidak terlalu banyak air dan tidak terlalu kering            (Hafsah, 2013).
Organisme ini memiliki cangkang yang kuat dan tebal, umumnya pada permukaan ada rib  –  rib atau tonjolan  – tonjolan pada arah axial, canal siphon biasanya pendek dan mencuat. Operculum tipis dan bening. Termasuk herbivor, kebanyakan hidup di pasir pada laut dangkal atau daerah pasang surut. Organisme yang di temukan berukuran antara 5 – 10 cm. Berdasarkan karakteristik tersebut makrorganisme ini termasuk ke dalam Phylum Mollusca, Kelas Gastropoda, Sub Kelas Prosobranchia, Ordo Mesogastropoda, Family Cerithiidae, Genus Pseudovertagus, Spesies Pseudovertagus aluco.  Organisme ini hidup pada habitat yang berlumpur itu dikarenakan pada substrat yang berlumpur terdapat asupan makanannya  (Suci, dkk., 2008).
Cara Makan dan Habitat Keong Terompet (Melanoides tuberculatus)
Di alam beberapa jenis keong selain menjadi sumber pakan hewan lain, juga berperan sebagai pengurai serasah, pemakan detritus, algae dan sebagai perantara kehidupan  berbagai jenis cacing parasit yang juga menyerang manusia. Oleh karena itu, mempelajari keanekaragaman jenis keong air tawar berguna untuk mendukung kegiatan lain seperti memprediksi tingkat pencemaran suatu perairan, menjaga siklus alami dan memberantas penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit atau dalam hal penanggulangan keong hama dan pencegahan meluasnya jenis - jenis keong invasive. Rangkaian gigi keong biasanya dipakai sebagai penanda karakter suatu Suku, biasanya setiap marga memiliki karakter rangkaian gigi yang mirip satu sama lain. Perbedaan yang mencolok pada gigi tengah erat kaitannya dengan substrat tempat hidupnya. Bila gigi tengahnya lebar biasanya keong menyukai substrat keras seperti batu dan kayu, sebaliknya, bila gigi tengah sempit maka substrat yang disukai adalah pasir berlumpur (Marwoto, dkk., 2012).
Keong air tawar umumnya dijumpai di berbagai tipe habitat seperti  sungai, rawa, danau, kolam yang berair tenang atau berair deras, pada perairan dangkal atau dalam (> 10 m). Umumnya bersifat herbivore, namun beberapa juga karnivor, sebagian besar adalah pemakan detritus, lumut dan aneka ganggang.  Beberapa jenis keong air tawar juga biasa dimakan, yakni keong tutut (Filopaludina spp.), keong gondang (Pila spp.) dan keong mas (Pomacea canaliculata), atau dikumpulkan sebagai pakan ternak itik dan lele. Keong umumnya menyukai daerah yang terlindung. Habitat yang umum adalah sungai, rawa, danau, sawah, kolam, aliran  – aliran irigasi atau selokan, parit dan anak-anak sungai. Beberapa jenis keong telah beradaptasi hingga mampu hidup di perairan dengan aliran air tenang atau deras, kedalaman mulai < 25 cm atau > 8  m. Selain habitat,  substrat tempat keong melekatkan dirinya juga salah satu hal yang penting untuk diketahui dan dipelajari. Berbagai jenis substrat seperti batu, kerikil, pasir, tumbuhan air, akar tumbuhan sangat erat kaitannya dengan perikehidupan keong seperti yang berkaitan dengan jenis pakan, tempat melekatkan telur atau melahirkan anakan – anakannya dan tempat sembunyi dari predator dan cahaya matahari                                                 (Marwoto dan Isnaningsih, 2014).
Sebagian besar Moluska hidup di wilayah perairan laut. Populasi Moluska di wilayah perairan dapat dipengaruhi oleh kegiatan manusia seperti rekreasi, memancing, eksplorasi dan pengambilan hewan-hewan untuk koleksi pribadi. Suatu penelitian di kawasan perairan dengan sedikit aktifitas manusia menunjukkan jumlah Moluska yang sangat berlimpah. Keberadaan manusia berpengaruh terhadap menurunnya kepadatan populasi Moluska di wilayah perairan dari waktu ke waktu (Istiqlal, dkk., 2013).
METODOLOGI
Waktu dan Tempat                                               
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 05 Oktober 2016 pada pukul 15.00 WIB di Laboratorium Terpadu Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah nampan sebagai tempat organisme yang akan diamati, penggaris untuk mengukur panjang keong, pinset untuk mengambil organ dalam keong mas, sarung tangan untuk melindungi tangan, masker untuk penutup mulut dan hidung, kamera untuk mengambiil gambar keong mas dan alat tulis untuk menulis hasil pengataman.
            Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Keong Terompet (Syrinx aruan) sebagai hewan avertebrata air tawar yang diamati, alkohol untuk mengawetkan keong terompet (Syrinx aruan) tissue gulung untuk membersihkan meja dan peralatan.
Prosedur Praktikum
            Prosedur praktikum avertebrata air tawar adalah sebagai berikut :
1.     Alat dan bahan disiapkan diatas meja
2.     Keong terompet diambil dari botol sampel yang telah diawetkan, lalu diletakkan diatas nampan menggunakan pinset.
3.     Panjang luar tubuh keong terompet diukur dengan penggaris. Warna tubuh keong mas diamati.
4.     Hasil pengamatan dicatat dengan alat tulis dan diambil gambarnya dengan kamera.
5.     Organ dalam keong terompet dikeluarkan menggunakan pinset lalu diletakkan diatas nampan.
6.     Organ dalam keong terompet yang telah dikeluarkan diukur panjangnya dengan penggaris. Warna orgam dalam keong mas diamati
7.     Hasil pengamatan organ dalam keong terompet dicatat dengan alat tulis dan diambil gambarnya dengan kamera.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
Klasifikasi Keong Terompet (Melanoides tuberculatus) adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Molluska
Kelas               : Gastropoda
Ordo                : Neotaniglossa
Famili              : Thiraidae
Genus              : Melanoides
Spesies : Melanoides tuberculatus (Marwoto, dkk., 2012).

Hasil Pengamatan
            Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada sampel keong terompet (Melanoides tuberculatus) diketahui keong terompet memiliki cangkang yang keras berwarna hitam kecoklatan terdapat tonjolan – tonjolan di seluruh permukaan cangkang, memiliki panjang cangkang 2,5 cm, lebar cangkang 1 cm, serta memiliki tubuh dalam cangkang bersifat lunak, tidak bersegmen dan berwarna kuning sedikit kehijauan.
Pembahasan
Keong terompet (Melanoides tuberculatus) merupakan bagian dari filum molluska dan termasuk dalam kelas gastropoda. Hal ini sesuai dengan Surbakti (2011) yang menyatakan bahwa keragaman biota lain adalah Kelompok moluska seperti : Melanoides sentaniensis, Melanoides tuberkulata, Melanoides granifera, Melanoides copalis, Melanoides canalis, Thiara scabra, Metilus sp. Belamiya sp., dan Pomacea canaliculata. Beberapa diantaranya bernilai ekonomi sebagai sumber pendapatan keluarga, yang diketahui pula sebagai sumber protein nomor dua setelah ikan bagi masyarakat sekitar danau.
Keong terompet mempunyai ukuran cukup kecil dengan dengan cangkang berbentuk kerucut dan berwarna hitam, cokelat dan sedikit kekuningan, keong terompet dapat ditemukan pada berbatuan, akar akar rumput atau melekat pada ranting pohon. Hal ini sesuai dengan Hafsah (2013) yang menyatakan bahwa morfologis keong terompet mempunyai ukuran cukup kecil dengan panjang 3-5 mm dengan cangkang berbentuk kerucut dan berwarna coklat agak kehitam-hitaman, secara umum didapatkan pada akar-akat rumput atau melekat pada ranting pohon, bersifat amfibi (amphibious) sehingga tidak dapat hidup pada daerah tergenang air atau di daerah kering. Keong terompet mempunyai cangkang yang berbentuk kerucut, permukaan licin berwarna coklat kekuning-kuningan dan agak jernih bila dibersihkan dengan lingkar 6,5 - 7,5 mm dan panjang 5,2 ± 0,6 mm dengan ambilicus yang terbuka, bibir luar melekuk dan bibir dalam menonjol di bawah basis cangkang, pada operculum mengandung zat tanduk dan agak keras.
Keong terompet memiliki fungsi diantaranya dapat menjadi sumber pakan hewan lain, juga berperan sebagai pengurai serasah, pemakan detritus, algae dan sebagai perantara kehidupan  berbagai jenis cacing parasit yang juga menyerang manusia. Hal ini sesuai dengan Marwoto dkk (2012) yang mentakan bahwa di alam, beberapa jenis keong selain menjadi sumber pakan hewan lain, juga berperan sebagai pengurai serasah, pemakan detritus, algae dan sebagai perantara kehidupan  berbagai jenis cacing parasit yang juga menyerang manusia.
Keong air tawar umumnya dijumpai di berbagai tipe habitat seperti  sungai, rawa, danau, kolam yang berair tenang atau berair deras, pada perairan dangkal atau dalam. Hal ini sesuai dengan Marwoto dkk (2012) yang menyatakan bahwa keong air tawar umumnya dijumpai di berbagai tipe habitat seperti  sungai, rawa, danau, kolam yang berair tenang atau berair deras, pada perairan dangkal atau dalam (> 10 m). Umumnya bersifat herbivore, namun beberapa juga karnivore, sebagian besar adalah pemakan detritus, lumut dan aneka ganggang.
 Keong terompet memiliki cangkang luar yang tebal dan keras. Pada permukaan cangkang luar terdapat tonjolan – tonjolan yang mencuat di seluruh permukaan cangkang. Hal ini sesuai dengan Suci dkk (2008) yang menyatakan bahwa organisme keong terompet memiliki cangkang yang kuat dan tebal, umumnya pada permukaan ada rib  –  rib atau tonjolan  – tonjolan pada arah axial, canal siphon biasanya pendek dan mencuat. Operculum tipis dan bening. Termasuk herbivor, kebanyakan hidup di pasir pada laut dangkal atau daerah pasang surut.
Keong terompet mudah ditemukan pada suatu habitat yg lembab atau berair, karena keong ini memiliki kemampuan beradaptasi yang baik sehingga keberadaannya dalam suatu habitat membentu kelompok atau berkoloni. Hal ini sesuai dengan Marwoto dan Isnaningsih (2014) yang menyatakan bahwa faktor penentu kelangsungan hidup suatu biota diantaranya adalah kemampuan adaptasi suatu spesies terhadap suatu lingkungan tertentu, disamping  kemampuan reproduksi yang tinggi dan tidak adanya predator. Keong  M. tuberculata  memiliki tingkat reproduksi yang tinggi dan bersifat partenogenesis, yaitu apabila ada satu saja individu dewasa terisolasi.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
          Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.      Morfologi dari keong terompet (Melanoides tuberculatus) ialah cangkangnya berbentuk cornucopias, ukurannya 1-2 inci, memiliki operculum, berwarna hitam kecoklatan, perkembangbiakan secara seksual, dalam keadaan populasi rendah keong terompet dapat melakukan portogenesis.
2.      Cara makan keong terompet (Melanoides tuberculatus) ialah pada malam hari muncul untuk makan dan menggali substrat untuk dapat memakan detritus. Keong terompet (Melanoides tuberculatus) memakan tanaman dan sisa-sisa tanaman.
3.      Habitat dari keong terompet (Melanoides tuberculatus) ialah hidup di perairan tawar dengan temperatur cuku hangat dengan dasar pasir, tanah lunak, ataupun lumpur, rawa dan danau.

Saran
Saran yang penulis berikan pada praktikum ini yaitu diharapkan kepada praktikan untuk berhati-hati dalam menggunakan peralatan laboratorium serta dapat menguasai prosedur kerja praktikum sebelum praktikum di mulai. Kemudian juga diharapkan agar mematuhi tata tertib laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Azrita. 2013. Parameter Fisika, Kimia dan Biologi Penciri Habitat Ikan Bujuk (Channa lucius, Channidae). Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Bung Hatta, Jakarta.

Damayanti, D. 2010. Buku Saku Biologi dan Kimia. Kaifa, Bandung.

Hafsah. 2013. Karakteristik Habtitat dan Morfologi Siput (Ongocomelania hupens lindoensis) sebagai Hewan Reservoir dalam Penularan Shistosomiasis pada Manusia dan Ternak di Taman Nasional Lore Lindu. Jurnal Manusia dan Lingkungan. V 20 (2) : 144 – 152.

Hamdhani. 2013. Studi Percobaan Pembiakan Zooplankton Jenis Cladocera (Macrothrix sp.) secara Eksitu. Jurnal Ilmu Perikanan Tropis, 18 (2). ISSN : 1402-2006.
Hastuti, D. W. 2015. Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Berbasis Scientific Approach terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X di SMA N 2 Banguntapan T.A 2014/2015. [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Istiqlal, B. A., D. S. Yusnit dan N. M. Suartini. 2013. Distribusi Horizontal Moluska di Kawasan Padang Lamun Pantai Merta Segara Sanur, Denpasar. Jurnal Biologi. Vol. 17 (1) : 10-14. ISSN : 1410-5292.
Karnila, R.  2011. Pemanfaatan Komponen Bioaktif Teripang dalam Bidang Kesehatan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Riau.

Kustiyarini, L. Dan I. Djaja. 2011. Keanekaragaman Bivalvia di Pesisr Pantai Payumb Kelurahan Samkai Distrik Merauke. Papua.

Marwoto, M. R., N. R. Isnaningsih., N. Mujiono., Heryanto., Alfiah dan Riena. 2012. Keong Air Tawar Pulau Jawa (Moluska, Gastropoda).

Marwoto, R. M Dan N. A.S. 2009. Keanekaragaman Keong Air Tawar Marga Filopaludina di Indonesia dan Status Taksonominya (Gastropoda: Viviparidae). Universitas Padjajaran, Jatinagor.
Marwoto, R. M, dan N. R. Isnaningsih. 2014. Tinjauan Keanekaragaman Moluska Air Tawar di Beberapa Situ di DAS ciliwung – Cisadane [Study on the Freshwater Mollusc Diversity of The Small Lakes Along Ciliwung and Cisadane Rivers]. Jurnal Berita Biologi. V 3 (2) : 181 – 189.
Nuha, U. 2015. Keanekaragaman Gastropoda Pada Lingkungan Terendam Rob Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak [Skipsi]. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang.
Rau, A. R., K. J.D dan P. C. P. 2013. Struktur Komunitas Moluska di Vegetasi     Mangrove Desa           Kulu, Kecamatan Wori, Kabupaten                          Minahasa Utara. Vol 2 (1).
Ridwan, M. 2012. Tingkat Keanekaragaman Hayati dan Pemanfaatannya di Indonesia. Jurnal Biology Education, 1 (1) . ISSN : 2302-416X.
Saripantung,  G. L., J. F. W. S. Tamanampo dan G. Manu. 2013.  Struktur Komunitas Gastropoda di Hamparan Lamun Daerah Intertidal Kelurahan Tongkeina Kota Manado. Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(3) Issn: 2302-3589. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Manado.

Suci, W., W. R. Melani dan T. S. Raza’i. 2008. Struktur Komunitas Moluska Bentik Berbasis TDS (Total Dissolved Solid) Padatan Terlarut dan TSS (Total  Suspende Solid) Padatan Tersuspensi di Pesisir Perairan Sungai Kawal Kabupaten Bintan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Sumatro., Desmelati., Dahlia., B. Hasan, dan M. Azwar. 2011. Penentuan Senyawa Bioaktif Ekstra Daging Siput Bakau (Terebralia sulcata) dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Jurnal Berkala Perikanan Terubuk. V 39 (2) : 85 – 96.

Surbakti, S. 2011 Biologi dan Ekologi Thiaridae (Moluska: Gastropoda) di Danau Sentani Papua. Jurusan Biologi. Universitas Cenderawasih, Jayapura Papua. Vol 3 (2). ISSN: 2086-3314.

Wardianto, Y. 2004. Penempelan Musiman Parasit Bopyrid Pada Udang Lumpur, Nihonotrypaea Japonica Dan Efeknya Terhadap Keragaan Reproduktif Betina. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar