JENIS
AVERTEBRATA AIR
KEONG TEROMPET (Melanoides
tuberculotus)
Oleh:
Kelompok
XI/A
Muhammad Zubeir Rangkuti 150302020
Reni Zulika Sinaga 150302032
Eddie Satria Hartono 150302072
LABORATORIUM AVERTEBRATA AIR
PROGRAM STUDI
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis
sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, serta taufik dan
hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “Jenis Avertebrata Air Tawar Keong Terompet
(Melanoides tuberculatus)”. Laporan
ini menjelaskan tentang jenis – jenis, morfologi, serta cara makan dari jenis
avertebrata air tawar keong terompet (Melanoides
tuberculatus).
Penyusun mengucapkan
terima kasih kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Avertebrata Air yaitu
Ibu Dr. Eri Yusni M.Sc, Ibu Ipanna Susetya S.kel, M.Si dan Ibu Amanatul Fadhila
juga kepada seluruh Asisten Laboratorium Avertebrata yang telah membimbing penyusun
dalam menyelesaikan laporan ini.
Penyusun menyadari
bahwa di dalam laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih.
Medan, Oktober 2016
Penyusun
Latar Belakang
Perairan umum daratan Indonesia biasanya
ditaksir seluas 13,85 juta hektar, terdiri atas 12,0 juta hektar sungai dan
paparan banjiran, 1,8 juta hektar danau alam dan 0,05 juta hektar waduk
Indonesia memiliki sekitar 5.590 sungai utama dengan panjang total mencapai
94.573 km dan sekitar 65.017 anak sungai. Luas perairan umum daratan tersebut
65 % berada di Kalimantan, 23 % di
Sumatera, 7,8 % di Papua, 3,5 % di Sulawesi dan 0,7 % di Jawa, Bali dan Nusa
tenggara (Azrita, 2013).
Indonesia terletak di
daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan
dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Tingginya
keanekaragaman hayati di Indonesia ini terlihat dari berbagai macam ekosistem yang
ada di Indonesia, seperti: ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem
padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air
laut, ekosistem savanna, dan lain - lain. Masing - masing ekosistem ini
memiliki keaneragaman hayati tersendiri (Ridwan, 2012).
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar
di dunia yang memiliki 17.504 pulau dengan panjang garis pantai 81.000 km
dengan luas perairan laut sekitar 5,8 juta km2 (75% dari wilayah
Indonesia), membentang pada garis khatulistiwa, menyebabkan Indonesia mempunyai
sumberdaya hayati yang sangat kaya dan beragam baik untuk wilayah darat maupun
laut, sehingga dikenal sebagai negara
mega biodiversity. Kekayaan hayati tersebut perlu dimanfaatkan sebaik - baiknya
untuk kesejahteraan rakyat Indonesia (Karnila, 2011).
Hewan
avertebrata air adalah hewan air yang tidak memiliki tulang belakang dan
susunan pencernaanya terletak dibawah saluran pencernaan. Avertebrata dibedakan
menjadi enam filum antara lain : porifera yaitu hewan yang permukaan tubuhnya
berpori - pori halus sebagai tempat masuknya air, coelenterate yaitu hewan yang
memiliki tubuh berongga dengan mulut terletak dibagian atas yang dikelilingi
oleh tentakel, vermes yaitu memiliki bentuk tubuh memanjang yang pipih, gilig,
atau beruas - ruas, mollusca yaitu hewan yang memiliki tubuh lunak yang dapat
menyekresikan lendir (Damayanti, 2010).
Mollusca disebut juga binatang lunak. Tubuhnya lunak
tanpa rangka dan berlendir, bilateral simetris. Tubuhnya terbungkus dalam
cangkang berkapur, tubuh diselubungi mantel. Mollusca ada yang bercangkang dan
ada yang tidak. Tubuh terdiri dari kaki, massa visceral dan mantel. Molusca
dibagi menjadi 7 kelas yaitu : Aplacophora, Monoplacophora, Polyplacophora,
Scaphopoda, Gastropoda, Cephalopoda, dan Pelecypoda. Molusca berperan sebagai
sumber protein hewani yang dapat dikonsumsi dan beberapa spesies dapat
menghasilkan mutiara yang memiliki nilai ekonomis tinggi (Hastuti, 2015).
Keanekaragaman hayati
merupakan varasi atau perbedaan bentuk-bentuk makhluk hidup, meliputi perbedaan
pada tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, materi genetik yang di kandungnya,
serta bentuk - bentuk ekosistem tempat hidup suatu makhluk hidup. Keanekaragaman
hayati disebut juga “Biodiversitas”. Keanekaragaman atau keberagaman dari
makhluk hidup dapat terjadi karena akibat adanya perbedaan warna, ukuran,
bentuk, jumlah, tekstur, penampilan dan sifat-sifat lainnya (Wardianto, 2004).
Hewan avertebrata air adalah hewan
air yang tidak memiliki tulang belakang dan susunan pencernaanya terletak
dibawah saluran pencernaan. Avertebrata dibedakan menjadi enam filum antara
lain : porifera yaitu hewan yang permukaan tubuhnya berpori - pori halus
sebagai tempat masuknya air, coelenterate yaitu hewan yang memiliki tubuh
berongga dengan mulut terletak dibagian atas yang dikelilingi oleh tentakel,
vermes yaitu memiliki bentuk tubuh memanjang yang pipih, gilig, atau beruas - ruas,
mollusca yaitu hewan yang memiliki tubuh lunak yang dapat menyekresikan lendir
(Damayanti, 2010).
Mollusca disebut juga binatang lunak. Tubuhnya lunak
tanpa rangka dan berlendir, bilateral simetris. Tubuhnya terbungkus dalam
cangkang berkapur, tubuh diselubungi mantel. Mollusca ada yang bercangkang dan
ada yang tidak. Tubuh terdiri dari kaki, massa visceral dan mantel. Molusca
dibagi menjadi 7 kelas yaitu : Aplacophora, Monoplacophora, Polyplacophora,
Scaphopoda, Gastropoda, Cephalopoda, dan Pelecypoda. Molusca berperan sebagai
sumber protein hewani yang dapat dikonsumsi dan beberapa spesies dapat
menghasilkan mutiara yang memiliki nilai ekonomis tinggi (Hastuti, 2015).
Gastropoda adalah salah
satu kelas dari moluska yang diketahui berasosiasi dengan ekosistem lamun.
Komunitas gastropoda merupakan komponen yang penting dalam rantai makanan di
padang lamun, di mana gastropoda merupakan hewan dasar pemakan detritus (detritus
feeder). Gastropoda merupakan anggota moluska yang sebagian besar
bercangkang. Cangkang berasal dari materi organik dan anorganik, didominasi
oleh kalsium karbonat (CaCO3). Selain sebagai salah satu komponen yang penting
dalam rantai makanan, beberapa jenis gastropoda juga merupakan keong yang
bernilai ekonomis tinggi karena cangkangnya diambil sebagai bahan untuk
perhiasan dan cenderamata seperti beberapa jenis keong dari suku Strombidae,
Cypraeidae, Olividae, Conidae, Trochidae dan Tonnidae (Saripantung dkk., 2013).
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari
praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk
mengetahui morfologi keong terompet (Melanoides
tuberculatus).
2. Untuk
mengetahui cara makan dari keong terompet (Melanoides
tuberculatus).
3. Untuk
mengetahui habitat dari keong terompet (Melanoides
tuberculatus).
Manfaat Praktikum
Manfaat dari
praktikum ini adalah sebagai informasi mengetahui tentang jenis avertebrata air
tawar keong terompet (Melanoides
tuberculatus) dan juga sebagai salah satu syarat masuk untuk mengikuti praktikum selanjutnya.
TINJAUAN
PUSTAKA
Jenis Keong Terompet (Melanoides
tuberculatus)
Moluska merupakan
kelompok invertebrata terbesar kedua yang sebagian besar anggotanya hidup di wilayah
perairan. Keanekaragamannya mencapai lebih dari 50.000 spesies. Moluska
memiliki nilai penting bagi manusia yaitu sebagai bahan perhiasan dan bahan
makanan. Selain itu, keberadaan, kepadatan dan kemelimpahan Moluska di suatu
daerah dapat digunakan sebagai acuan penilaian kualitas ekologi di daerah tersebut
(Istiqlal, dkk., 2014).
Moluska terutama dari kelas
bivalvia merupakan hewan lunak yang mempunyai cangkang, dapat hidup di darat,
sungai, laut, ataupun pada daerah estuari (daerah peralihan antara daratan dan
lautan). Tercatat ada sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja
yaitu pulau Seram, Maluku. Jumlahnya tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya
terdapat pada karang, akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove.
Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup dalam tanah,
sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup
menempel pada tumbuh-tumbuhan (Kustiarini, 2011).
Sebagian
besar Moluska hidup di wilayah perairan laut. Populasi Moluska di wilayah
perairan dapat dipengaruhi oleh kegiatan manusia seperti rekreasi, memancing,
eksplorasi dan pengambilan hewan - hewan untuk koleksi pribadi. Suatu
penelitian di kawasan perairan dengan sedikit aktifitas manusia menunjukkan
jumlah Moluska yang sangat berlimpah. Keberadaan manusia berpengaruh terhadap
menurunnya kepadatan populasi Moluska di wilayah perairan dari waktu ke waktu
(Istiqlal, dkk., 2013).
Hewan moluska termasuk avertebrata yang bertubuh
lunak, tidak bersekmen dan pada umumnya bahagian tubuhnya yang lunak dilindungi
oleh cangkang yang terbuat dari bahan
karbonat. Phylum moluska merupakan salah satu group invertebrata yang
paling banyak jenisnya dibanding dengan group - group organisme lainnya. Beberapa
hewan moluska yang digemari masyarakat di Riau meliputi jenis siput - siputan
seperti Strombus, Littorina,Telescopium, Cerithids (Gastropoda) ; kerang
darah, kerang bulu, Tapes, dan Lokan (bivalva); dan cumi-cumi dan gurita
(Cephalopoda). Siput Strombuscanarium adalah salah satu spsies yang
paling diminati setelah Anadara.Spesies ini tergolong ke dalam kelas
gastropda, family Strombaceae. Siput ini bersifat herbivor yang makanannya
terdiri dari tumbuhan alga, plankton, detritus dan lamun. Siput S. canarium banyak
terdapat di perairan pantai dengan dasar pasir dan lumpur. dikenal siput ini
dengan nama siput gonggong dan sangat popular sebagai bahan makanan dari
laut. Sayangnya populasi siput ini di alam sudah mulai menurun. Hal ini antara
lain disebabkan semakin meningkatnya aktivitas manusia di wilayah pesisir
maupun di laut, misalnya aktivitas reklamasi, industri, dan penangkapan
berlebihan (Nuha, 2015).
Siput merupakan nama umum yang diberikan pada
anggota moluska dari kelas gastropoda. Gastropoda merupakan kelas terbesar
dalam filum Molluska dengan sekitar 77.000 jenis yang teridentifikasi. Sejauh
ini studi tentang interaksi maupun keberadaan siput gastropoda di mangrove,
terumbu karang maupun lamun sebagai tiga ekosistem utama di lingkungan laut
telah banyak dilakukan. Sementara studi yang menyangkut moluska pada alga makro
masih kurang (Rau, dkk., 2013).
Keragaman biota lain
adalah Kelompok moluska seperti: Melanoides sentaniensis, Melanoides
tuberkulata, Melanoides granifera, Melanoides copalis, Melanoides canalis,
Thiara scabra, Metilus sp. Belamiya sp., dan Pomacea canaliculata. Beberapa
diantaranya bernilai ekonomi sebagai sumber pendapatan keluarga, yang diketahui
pula sebagai sumber protein nomor dua setelah ikan bagi masyarakat sekitar
danau. Di Indonesia tercatat ada 15 jenis keong tutut.Lima jenis yang
dilaporkan Sarasin, yakni yang disebutnya Vivipara costata, V. persculpta,
V. crassibucca, V. lutulenta, V. rudipellis, empat jenis terakhir merupakan
jenis baru yang dideskripsi.ada 8 jenis yang disebutnya sebagai Bellamya
decipiens decipiens, B. decipiens aruana, B. kowiayiensis, B.
wisseli, B. tricostata tricostata, B. tricostata elegans, B.
tricostata multifuniculata, B. Fragilis (Surbakti, 2011).
Di daerah mangrove
terdapat biota akuatik yang hidup berasosiasi dengan mangrove antara lain
moluska, krustasea dan ikan. Moluska sangat banyak ditemukan pada daerah
mangrove di Indonesia. Jenis-jenis moluska ini ada yang menempati akar dan ada
juga yang mendiami batang mangrove antara lain famili Littorinidae dan yang
menempati daerah lumpur di dasar akar antara lain famili Ellobiidae dan
Pottamidae. Terdapat 11 spesies dari 8 famili yaitu, Littoraria scabra, Nerita
planospira, Chicoreus capucinus, Nerita undata, Chrithidea cingulata,
Terebralia sulcata, Telecopiun telescopium, Polymesoda expansa, Isognomon
ephippium, Saccostrea cucculata, Anomalocardia squamosal (Rau, dkk., 2013).
Siput merupakan salah
atu komoditi perikanan, namun dalam hal pemanfaatannya siput masih sedikit dilakukan. Hanya sebagian kecil
dari masyarakat yang memanfaatkan siput ini sebagai salah satu bahan pangan
penghasil protein hewani. Kegiatan tersebut semakin langka, diduga karena
permintaan siput tidak banyak bergeser kepermintaan kerang - kerangan dari
laut. Siput terompet dikenal dengan hewan yang memiliki cangkang yang keras
yang berbentuk terompet, sebagaian masyarakat pesisir Riau mengenalnya dengan
sebutan siput terompet jantan atau siput jantan yang artinya siput tersebut
memiliki cangkang berbentuk terompet dan runcing dibagian ekor, sedangkan yang
betina cangkangnya berbentuk bulat ukurannya seperti kelereng, untuk penelitian
ini yang digunakan adalah siput jantan sebagai sampel (Sumarto, dkk., 2011).
Faktor penentu
kelangsungan hidup suatu biota diantaranya adalah kemampuan adaptasi suatu
spesies terhadap suatu lingkungan tertentu, disamping kemampuan reproduksi yang tinggi dan tidak
adanya predator. Keong M. tuberculata memiliki tingkat reproduksi yang tinggi dan
bersifat partenogenesis, yaitu apabila ada satu saja individu dewasa terisolir,
maka individu tersebut akan dapat membentuk koloni yang baru. Faktor inilah
yang membuat M. tuberculata umumnya mempunyai populasi yang melimpah dan
dengan kerapatan. Tiga spesies kerang yang dijumpai di situ - situ DAS Ciliwung
Cisadane yang tinggi di suatu habitat perairan tawar. Sementara itu, keong
Mas P. canaliculata betina dapat
bertelur sedikitnya tiga kali dalam seminggu sepanjang hidupnya, mampu
menghasilkan telur sebanyak 3.000 butir dalam 140 hari (Marwoto dan Isnaningsih, 2014).
Morfologi Keong
Terompet (Melanoides tuberculatus)
Morfologis keong
terompet mempunyai ukuran cukup kecil dengan panjang 3-5 mm dengan cangkang
berbentuk kerucut dan berwarna coklat agak kehitam-hitaman, secara umum
didapatkan pada akar-akat rumput atau melekat pada ranting pohon, bersifat
amfibi (amphibious) sehingga tidak dapat hidup pada daerah tergenang air atau
di daerah kering. Keong terompet mempunyai cangkang yang berbentuk kerucut,
permukaan licin berwarna coklat kekuning - kuningan dan agak jernih bila
dibersihkan dengan lingkar 6,5 - 7,5 mm dan panjang 5,2 ± 0,6 mm dengan
ambilicus yang terbuka, bibir luar melekuk dan bibir dalam menonjol di bawah
basis cangkang, pada operculum mengandung zat tanduk dan agak keras. Kelenjar
disekitar mata yang disebut eyebrowsberwarna kuning muda sampai kuning cerah.
Jika dibandingkan dengan jenis keong yang lain. Keong ini dapat hidup di daerah
lembab tidak terlalu banyak air dan tidak terlalu kering (Hafsah,
2013).
Organisme
ini memiliki cangkang yang kuat dan tebal, umumnya pada permukaan ada rib – rib
atau tonjolan – tonjolan pada arah
axial, canal siphon biasanya pendek dan mencuat. Operculum tipis dan bening.
Termasuk herbivor, kebanyakan hidup di pasir pada laut dangkal atau daerah
pasang surut. Organisme yang di temukan berukuran antara 5 – 10 cm. Berdasarkan
karakteristik tersebut makrorganisme ini termasuk ke dalam Phylum Mollusca,
Kelas Gastropoda, Sub Kelas Prosobranchia, Ordo Mesogastropoda, Family
Cerithiidae, Genus Pseudovertagus, Spesies Pseudovertagus aluco. Organisme ini hidup pada habitat yang
berlumpur itu dikarenakan pada substrat yang berlumpur terdapat asupan makanannya (Suci, dkk., 2008).
Cara
Makan dan Habitat Keong Terompet (Melanoides
tuberculatus)
Di alam beberapa jenis
keong selain menjadi sumber pakan hewan lain, juga berperan sebagai pengurai
serasah, pemakan detritus, algae dan sebagai perantara kehidupan berbagai jenis cacing parasit yang juga
menyerang manusia. Oleh karena itu, mempelajari keanekaragaman jenis keong air
tawar berguna untuk mendukung kegiatan lain seperti memprediksi tingkat
pencemaran suatu perairan, menjaga siklus alami dan memberantas penyakit yang
disebabkan oleh cacing parasit atau dalam hal penanggulangan keong hama dan
pencegahan meluasnya jenis - jenis keong invasive. Rangkaian gigi keong
biasanya dipakai sebagai penanda karakter suatu Suku, biasanya setiap marga
memiliki karakter rangkaian gigi yang mirip satu sama lain. Perbedaan yang
mencolok pada gigi tengah erat kaitannya dengan substrat tempat hidupnya. Bila
gigi tengahnya lebar biasanya keong menyukai substrat keras seperti batu dan
kayu, sebaliknya, bila gigi tengah sempit maka substrat yang disukai adalah
pasir berlumpur (Marwoto, dkk., 2012).
Keong air tawar umumnya
dijumpai di berbagai tipe habitat seperti
sungai, rawa, danau, kolam yang berair tenang atau berair deras, pada
perairan dangkal atau dalam (> 10 m). Umumnya bersifat herbivore, namun
beberapa juga karnivor, sebagian besar adalah pemakan detritus, lumut dan aneka
ganggang. Beberapa jenis keong air tawar
juga biasa dimakan, yakni keong tutut (Filopaludina spp.), keong gondang (Pila
spp.) dan keong mas (Pomacea canaliculata), atau dikumpulkan sebagai pakan
ternak itik dan lele. Keong umumnya menyukai daerah yang terlindung. Habitat
yang umum adalah sungai, rawa, danau, sawah, kolam, aliran – aliran irigasi atau selokan, parit dan
anak-anak sungai. Beberapa jenis keong telah beradaptasi hingga mampu hidup di
perairan dengan aliran air tenang atau deras, kedalaman mulai < 25 cm atau
> 8 m. Selain habitat, substrat tempat keong melekatkan dirinya juga
salah satu hal yang penting untuk diketahui dan dipelajari. Berbagai jenis
substrat seperti batu, kerikil, pasir, tumbuhan air, akar tumbuhan sangat erat
kaitannya dengan perikehidupan keong seperti yang berkaitan dengan jenis pakan,
tempat melekatkan telur atau melahirkan anakan – anakannya dan tempat sembunyi
dari predator dan cahaya matahari
(Marwoto dan Isnaningsih, 2014).
Sebagian
besar Moluska hidup di wilayah perairan laut. Populasi Moluska di wilayah
perairan dapat dipengaruhi oleh kegiatan manusia seperti rekreasi, memancing,
eksplorasi dan pengambilan hewan-hewan untuk koleksi pribadi. Suatu penelitian
di kawasan perairan dengan sedikit aktifitas manusia menunjukkan jumlah Moluska
yang sangat berlimpah. Keberadaan manusia berpengaruh terhadap menurunnya
kepadatan populasi Moluska di wilayah perairan dari waktu ke waktu (Istiqlal,
dkk., 2013).
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
Rabu tanggal 05 Oktober 2016 pada pukul 15.00 WIB di Laboratorium Terpadu
Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum
ini adalah nampan sebagai tempat organisme yang akan diamati, penggaris untuk
mengukur panjang keong, pinset untuk mengambil organ dalam keong mas, sarung
tangan untuk melindungi tangan, masker untuk penutup mulut dan hidung, kamera
untuk mengambiil gambar keong mas dan alat tulis untuk menulis hasil
pengataman.
Bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah Keong Terompet (Syrinx aruan)
sebagai hewan avertebrata air tawar yang diamati, alkohol untuk mengawetkan
keong terompet (Syrinx aruan) tissue
gulung untuk membersihkan meja dan peralatan.
Prosedur
Praktikum
Prosedur
praktikum avertebrata air tawar adalah sebagai berikut :
1. Alat
dan bahan disiapkan diatas meja
2. Keong
terompet diambil dari botol sampel yang telah diawetkan, lalu diletakkan diatas
nampan menggunakan pinset.
3. Panjang
luar tubuh keong terompet diukur dengan penggaris. Warna tubuh keong mas
diamati.
4. Hasil
pengamatan dicatat dengan alat tulis dan diambil gambarnya dengan kamera.
5. Organ
dalam keong terompet dikeluarkan menggunakan pinset lalu diletakkan diatas
nampan.
6. Organ
dalam keong terompet yang telah dikeluarkan diukur panjangnya dengan penggaris.
Warna orgam dalam keong mas diamati
7. Hasil
pengamatan organ dalam keong terompet dicatat dengan alat tulis dan diambil
gambarnya dengan kamera.
Hasil
Hasil dari praktikum
ini adalah sebagai berikut:
Klasifikasi
Keong Terompet (Melanoides tuberculatus)
adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Molluska
Kelas : Gastropoda
Ordo : Neotaniglossa
Famili : Thiraidae
Genus : Melanoides
Spesies : Melanoides
tuberculatus (Marwoto, dkk., 2012).
Hasil Pengamatan
Dari
hasil pengamatan yang dilakukan pada sampel keong terompet (Melanoides tuberculatus) diketahui keong
terompet memiliki cangkang yang keras berwarna hitam kecoklatan terdapat
tonjolan – tonjolan di seluruh permukaan cangkang, memiliki panjang cangkang
2,5 cm, lebar cangkang 1 cm, serta memiliki tubuh dalam cangkang bersifat
lunak, tidak bersegmen dan berwarna kuning sedikit kehijauan.
Pembahasan
Keong terompet (Melanoides tuberculatus) merupakan
bagian dari filum molluska dan termasuk dalam kelas gastropoda. Hal ini sesuai
dengan Surbakti (2011) yang menyatakan bahwa keragaman biota lain adalah Kelompok
moluska seperti : Melanoides sentaniensis, Melanoides tuberkulata, Melanoides
granifera, Melanoides copalis, Melanoides canalis, Thiara scabra, Metilus sp.
Belamiya sp., dan Pomacea canaliculata. Beberapa diantaranya bernilai ekonomi
sebagai sumber pendapatan keluarga, yang diketahui pula sebagai sumber protein
nomor dua setelah ikan bagi masyarakat sekitar danau.
Keong terompet mempunyai
ukuran cukup kecil dengan dengan cangkang berbentuk kerucut dan berwarna hitam,
cokelat dan sedikit kekuningan, keong terompet dapat ditemukan pada berbatuan,
akar akar rumput atau melekat pada ranting pohon. Hal ini sesuai dengan Hafsah
(2013) yang menyatakan bahwa morfologis keong terompet mempunyai ukuran cukup
kecil dengan panjang 3-5 mm dengan cangkang berbentuk kerucut dan berwarna coklat
agak kehitam-hitaman, secara umum didapatkan pada akar-akat rumput atau melekat
pada ranting pohon, bersifat amfibi (amphibious) sehingga tidak dapat hidup
pada daerah tergenang air atau di daerah kering. Keong terompet mempunyai
cangkang yang berbentuk kerucut, permukaan licin berwarna coklat
kekuning-kuningan dan agak jernih bila dibersihkan dengan lingkar 6,5 - 7,5 mm
dan panjang 5,2 ± 0,6 mm dengan ambilicus yang terbuka, bibir luar melekuk dan
bibir dalam menonjol di bawah basis cangkang, pada operculum mengandung zat
tanduk dan agak keras.
Keong terompet memiliki
fungsi diantaranya dapat menjadi sumber pakan hewan lain, juga berperan sebagai
pengurai serasah, pemakan detritus, algae dan sebagai perantara kehidupan berbagai jenis cacing parasit yang juga
menyerang manusia. Hal ini sesuai dengan Marwoto dkk (2012) yang mentakan bahwa
di alam, beberapa jenis keong selain menjadi sumber pakan hewan lain, juga
berperan sebagai pengurai serasah, pemakan detritus, algae dan sebagai
perantara kehidupan berbagai jenis
cacing parasit yang juga menyerang manusia.
Keong air tawar umumnya
dijumpai di berbagai tipe habitat seperti
sungai, rawa, danau, kolam yang berair tenang atau berair deras, pada
perairan dangkal atau dalam. Hal ini sesuai dengan Marwoto dkk (2012) yang
menyatakan bahwa keong air tawar umumnya dijumpai di berbagai tipe habitat
seperti sungai, rawa, danau, kolam yang
berair tenang atau berair deras, pada perairan dangkal atau dalam (> 10 m).
Umumnya bersifat herbivore, namun beberapa juga karnivore, sebagian besar
adalah pemakan detritus, lumut dan aneka ganggang.
Keong terompet memiliki cangkang luar yang
tebal dan keras. Pada permukaan cangkang luar terdapat tonjolan – tonjolan yang
mencuat di seluruh permukaan cangkang. Hal ini sesuai dengan Suci dkk (2008)
yang menyatakan bahwa organisme keong terompet memiliki cangkang yang kuat dan
tebal, umumnya pada permukaan ada rib
– rib atau tonjolan – tonjolan pada arah axial, canal siphon
biasanya pendek dan mencuat. Operculum tipis dan bening. Termasuk herbivor,
kebanyakan hidup di pasir pada laut dangkal atau daerah pasang surut.
Keong terompet mudah
ditemukan pada suatu habitat yg lembab atau berair, karena keong ini memiliki
kemampuan beradaptasi yang baik sehingga keberadaannya dalam suatu habitat
membentu kelompok atau berkoloni. Hal ini sesuai dengan Marwoto dan Isnaningsih
(2014) yang menyatakan bahwa faktor penentu kelangsungan hidup suatu biota
diantaranya adalah kemampuan adaptasi suatu spesies terhadap suatu lingkungan
tertentu, disamping kemampuan reproduksi
yang tinggi dan tidak adanya predator. Keong
M. tuberculata memiliki tingkat
reproduksi yang tinggi dan bersifat partenogenesis, yaitu apabila ada satu saja
individu dewasa terisolasi.
Kesimpulan
Kesimpulan
dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Morfologi dari keong terompet (Melanoides tuberculatus) ialah
cangkangnya berbentuk cornucopias, ukurannya 1-2 inci, memiliki operculum,
berwarna hitam kecoklatan, perkembangbiakan secara seksual, dalam keadaan
populasi rendah keong terompet dapat melakukan portogenesis.
2. Cara
makan keong terompet (Melanoides
tuberculatus) ialah pada malam hari muncul untuk makan dan menggali
substrat untuk dapat memakan detritus. Keong terompet (Melanoides tuberculatus) memakan tanaman dan sisa-sisa tanaman.
3. Habitat
dari keong terompet (Melanoides
tuberculatus) ialah hidup di perairan tawar dengan temperatur cuku hangat
dengan dasar pasir, tanah lunak, ataupun lumpur, rawa dan danau.
Saran
Saran yang penulis
berikan pada praktikum ini yaitu diharapkan kepada praktikan untuk berhati-hati
dalam menggunakan peralatan laboratorium serta dapat menguasai prosedur kerja
praktikum sebelum praktikum di mulai. Kemudian juga diharapkan agar mematuhi
tata tertib laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Azrita.
2013. Parameter Fisika, Kimia dan Biologi Penciri Habitat Ikan Bujuk (Channa lucius, Channidae). Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan. Universitas Bung Hatta, Jakarta.
Damayanti,
D. 2010. Buku Saku Biologi dan Kimia. Kaifa, Bandung.
Hafsah.
2013. Karakteristik Habtitat dan Morfologi Siput (Ongocomelania hupens lindoensis) sebagai Hewan Reservoir dalam
Penularan Shistosomiasis pada Manusia dan Ternak di Taman Nasional Lore Lindu.
Jurnal Manusia dan Lingkungan. V 20 (2) : 144 – 152.
Hamdhani.
2013. Studi Percobaan Pembiakan Zooplankton Jenis Cladocera (Macrothrix sp.) secara Eksitu. Jurnal
Ilmu Perikanan Tropis, 18 (2). ISSN : 1402-2006.
Hastuti, D. W. 2015. Pengaruh Model Problem
Based Learning (PBL) Berbasis Scientific
Approach terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X di SMA N 2
Banguntapan T.A 2014/2015. [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,
Yogyakarta.
Istiqlal, B. A., D. S. Yusnit dan N. M. Suartini. 2013. Distribusi
Horizontal Moluska di Kawasan Padang Lamun Pantai Merta Segara Sanur, Denpasar.
Jurnal Biologi. Vol. 17 (1) : 10-14. ISSN : 1410-5292.
Karnila,
R. 2011. Pemanfaatan Komponen Bioaktif
Teripang dalam Bidang Kesehatan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Universitas Riau. Riau.
Kustiyarini, L.
Dan I. Djaja. 2011. Keanekaragaman Bivalvia di Pesisr Pantai Payumb Kelurahan
Samkai Distrik Merauke. Papua.
Marwoto,
M. R., N. R. Isnaningsih., N. Mujiono., Heryanto., Alfiah dan Riena. 2012.
Keong Air Tawar Pulau Jawa (Moluska, Gastropoda).
Marwoto,
R. M Dan N. A.S. 2009. Keanekaragaman Keong Air Tawar Marga Filopaludina di
Indonesia dan Status Taksonominya (Gastropoda: Viviparidae). Universitas
Padjajaran, Jatinagor.
Marwoto,
R. M, dan N. R. Isnaningsih. 2014. Tinjauan Keanekaragaman Moluska Air Tawar di
Beberapa Situ di DAS ciliwung – Cisadane [Study on the Freshwater Mollusc
Diversity of The Small Lakes Along Ciliwung and Cisadane Rivers]. Jurnal Berita
Biologi. V 3 (2) : 181 – 189.
Nuha, U. 2015. Keanekaragaman
Gastropoda Pada Lingkungan Terendam Rob Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten
Demak [Skipsi]. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Walisongo,
Semarang.
Ridwan,
M. 2012. Tingkat Keanekaragaman Hayati dan Pemanfaatannya di Indonesia. Jurnal
Biology Education, 1 (1) . ISSN : 2302-416X.
Saripantung, G. L., J. F. W. S.
Tamanampo dan G. Manu. 2013. Struktur Komunitas Gastropoda di Hamparan Lamun
Daerah Intertidal Kelurahan Tongkeina Kota Manado. Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(3) Issn: 2302-3589. Fakultas Perikanan Dan
Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Manado.
Suci,
W., W. R. Melani dan T. S. Raza’i. 2008. Struktur Komunitas Moluska Bentik
Berbasis TDS (Total Dissolved Solid) Padatan Terlarut dan TSS (Total Suspende Solid) Padatan Tersuspensi di
Pesisir Perairan Sungai Kawal Kabupaten Bintan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Sumatro.,
Desmelati., Dahlia., B. Hasan, dan M. Azwar. 2011. Penentuan Senyawa Bioaktif
Ekstra Daging Siput Bakau (Terebralia sulcata) dengan Kromatografi Lapis Tipis
(KLT). Jurnal Berkala Perikanan Terubuk. V 39 (2) : 85 – 96.
Surbakti,
S. 2011 Biologi dan Ekologi Thiaridae (Moluska: Gastropoda) di Danau Sentani
Papua. Jurusan Biologi. Universitas Cenderawasih, Jayapura Papua. Vol 3 (2). ISSN: 2086-3314.
Wardianto, Y. 2004. Penempelan
Musiman Parasit Bopyrid Pada Udang Lumpur, Nihonotrypaea
Japonica Dan Efeknya Terhadap Keragaan Reproduktif Betina. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan
Perikanan Indonesia. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar